Korban Banjir Bandang dan Longsor Nepal-Tibet Capai 586 Tewas, 2.478 Orang Hilang
Korban banjir bandang dan tanah longsor di wilayah perbatasan Nepal dan Tibet terus bertambah. Hingga Sabtu (29/8) pagi, sebanyak 586 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 2.478 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Bencana yang terjadi di kawasan pegunungan tersebut juga menyebabkan kerusakan parah pada bangunan, kendaraan, serta sejumlah wilayah yang terdampak aliran lumpur dan air.
Melansir AFP, Badan Penanggulangan Bencana Nepal mencatat sedikitnya 579 orang meninggal dunia akibat bencana tersebut. Sementara itu, China melaporkan tujuh korban jiwa di wilayah Tibet. Jumlah korban hilang juga meningkat tajam dibandingkan laporan sehari sebelumnya yang menyebutkan sekitar 1.400 orang belum ditemukan.
Jumlah Korban Hilang Meningkat Drastis
Dari total 2.478 orang yang masih hilang, sebanyak 1.924 orang berada di wilayah perbatasan Nepal dan 554 orang lainnya berada di Tibet. Lonjakan tersebut menunjukkan bahwa proses pencarian dan penyelamatan masih menghadapi tantangan besar, terutama di kawasan yang mengalami kerusakan akibat longsor dan banjir bandang.
Tim pencarian dan penyelamatan Tibet dilaporkan telah mencapai area perbatasan utama yang hancur akibat tanah longsor. Upaya tersebut dilakukan untuk menjangkau wilayah terdampak dan mencari warga yang kemungkinan masih terjebak atau belum berhasil menyelamatkan diri.
Ancaman Banjir Susulan di Nepal
Pemerintah Nepal mengingatkan masyarakat mengenai kemungkinan terjadinya banjir baru. Peringatan itu dikeluarkan setelah sebuah bendungan di Tibet dilaporkan jebol. Warga diminta segera berpindah ke area yang lebih tinggi sebagai langkah untuk mengurangi risiko apabila aliran air kembali meluap.
Tim Palang Merah di Tibet memperkirakan sekitar 93 ribu orang terdampak banjir bandang. Dengan proses evakuasi dan pencarian yang masih berlangsung, jumlah korban jiwa diperkirakan dapat terus bertambah.
Bantuan Internasional Mulai Berdatangan
Sejumlah negara telah menyatakan kesediaan untuk memberikan bantuan kemanusiaan kepada Nepal. Kanada, misalnya, menjanjikan bantuan senilai US$3,6 juta atau sekitar Rp63,9 miliar untuk mendukung operasi tanggap darurat dan penanganan korban bencana.
Uni Eropa juga menjanjikan bantuan sebesar US$2,3 juta atau sekitar Rp40,8 miliar. Dukungan internasional tersebut diharapkan dapat membantu proses pencarian, evakuasi, serta pemenuhan kebutuhan masyarakat yang terdampak banjir bandang dan tanah longsor.
Kronologi Banjir Bandang dan Tanah Longsor
Banjir bandang dan tanah longsor menerjang Nepal pada Rabu (26/8). Laporan awal menyebutkan bahwa bencana tersebut dipicu oleh gempa bumi yang menyebabkan longsoran es dan batuan ke Sungai Lhende Khola. Sungai itu melintasi wilayah Nepal dan Tibet, sehingga dampak bencana dirasakan di kedua kawasan tersebut.
Namun, analisis lanjutan dari Survei Geologi Amerika Serikat atau USGS menunjukkan bahwa tidak terjadi gempa bumi sebelum tanah longsor dan banjir bandang berlangsung. Perbedaan hasil analisis tersebut membuat penyebab pasti bencana masih menjadi perhatian.
Rekaman video yang beredar memperlihatkan warga berlari menyelamatkan diri sebelum material batu, lumpur, dan air menerjang kawasan permukiman. Bangunan serta kendaraan terlihat rusak dan tersapu derasnya aliran banjir.
Wilayah Nepal Rawan Bencana Saat Musim Hujan
Nepal merupakan negara yang didominasi wilayah pegunungan. Kondisi geografis tersebut membuat sejumlah daerah rentan mengalami bencana alam, termasuk banjir dan tanah longsor, terutama ketika musim hujan berlangsung.
Kesimpulan
Bencana banjir bandang dan tanah longsor di perbatasan Nepal-Tibet telah menewaskan 586 orang dan menyebabkan 2.478 orang masih hilang hingga Sabtu (29/8) pagi. Tim SAR masih berupaya menjangkau wilayah terdampak, sementara Nepal mengingatkan warga mengenai potensi banjir susulan setelah bendungan di Tibet dilaporkan jebol.
Dengan proses pencarian yang belum selesai dan dampak bencana yang luas, jumlah korban masih berpotensi meningkat. Bantuan dari Kanada dan Uni Eropa diharapkan dapat memperkuat upaya tanggap darurat serta membantu masyarakat yang terdampak.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment