Malaysia Tempuh Jalur Diplomatik ASEAN Atasi Kabut Asap Karhutla dari Kalimantan

Malaysia akan menggunakan jalur diplomatik ASEAN untuk mencari solusi atas kabut asap lintas batas yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Indonesia. Kabut asap tersebut telah berdampak pada sejumlah wilayah di Malaysia, terutama Sarawak yang berbatasan langsung dengan Kalimantan.

Menteri Luar Negeri Malaysia Datuk Seri Mohamad Hasan mengatakan pemerintah Malaysia menilai ASEAN sebagai mekanisme yang tepat untuk menangani persoalan lingkungan yang melibatkan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Upaya tersebut akan dilakukan melalui komunikasi resmi dengan Sekretariat ASEAN dan pemerintah Indonesia.

Malaysia Kirim Surat kepada ASEAN dan Indonesia

Hasan menyampaikan bahwa Kementerian Sumber Daya Alam dan Kelestarian Lingkungan Malaysia (NRES) akan mengirimkan surat resmi kepada Sekretariat ASEAN dalam waktu dekat. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya mencari penanganan bersama terhadap kabut asap lintas batas.

Selain itu, Menteri NRES Datuk Seri Arthur Joseph Kurup juga akan mengirimkan surat kepada mitranya di Indonesia. Penyampaian surat tersebut diharapkan dapat membuka koordinasi lebih lanjut antara kedua negara dalam menghadapi dampak karhutla yang dirasakan Malaysia.

“Kami meyakini ASEAN merupakan mekanisme terbaik untuk menangani berbagai persoalan di antara negara-negara anggota ASEAN. Kami menilai Sekretariat ASEAN akan lebih efektif dalam menangani masalah ini,” kata Mohamad Hasan seperti diberitakan New Straits Times, Jumat (21/8).

Melalui jalur ASEAN, Malaysia berupaya menempatkan persoalan kabut asap sebagai isu bersama di antara negara-negara anggota. Pendekatan ini juga menunjukkan pentingnya kerja sama regional dalam menangani dampak kebakaran yang tidak hanya dirasakan di negara asal, tetapi turut memengaruhi wilayah negara tetangga.

Serian Catat Indeks Polusi Tertinggi

Dampak kabut asap terlihat dari data Malaysian Air Pollutant Index Management System (APIMS). Hingga Sabtu (22/8) pukul 16.00 waktu setempat, Serian di Sarawak mencatat indeks polusi udara atau API sebesar 217.

Angka tersebut masuk dalam kategori sangat tidak sehat. Sementara itu, sembilan wilayah lain di Sarawak mencatat API dalam kategori tidak sehat.

Daftar Wilayah dengan API Tinggi di Sarawak

  • Sri Aman: 186
  • Sarikei: 173
  • Kuching: 171
  • Samarahan: 170
  • Sibu: 156
  • Samalaju: 156
  • Bintulu: 153
  • Mukah: 125
  • Kapit: 108

Data tersebut memperlihatkan bahwa Sarawak menjadi wilayah Malaysia yang paling terdampak dalam perkembangan kabut asap kali ini. Letaknya yang berdekatan dan berbatasan langsung dengan Kalimantan membuat wilayah tersebut menjadi salah satu kawasan yang terkena dampak polusi dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia.

Kabut Asap Jadi Perhatian Malaysia dan Brunei

Persoalan kabut asap juga menjadi perhatian dalam hubungan Malaysia dan Brunei. Komisaris Tinggi Malaysia untuk Brunei Datuk Mohd Aini Atan pada Kamis (20/8) mengatakan kabut asap yang memengaruhi sejumlah wilayah di ASEAN diperkirakan menjadi salah satu topik pembahasan antara Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Anwar Ibrahim dan Sultan Brunei Sultan Hassanal Bolkiah.

Menurutnya, isu tersebut menjadi perhatian bersama bagi Malaysia dan Brunei. Pembahasannya dilakukan dalam Konsultasi Tahunan Pemimpin Malaysia-Brunei ke-27 atau ALC-27 yang digelar pada Sabtu (22/8).

Rangkaian pertemuan kedua negara sebelumnya telah dimulai melalui Malaysia-Brunei Exchange of Letters ke-27 atau EOL-27 pada Jumat (21/8). Keterlibatan kabut asap dalam agenda hubungan Malaysia dan Brunei menunjukkan bahwa dampaknya telah menjadi isu regional yang memerlukan perhatian bersama.

Masalah Berulang di Asia Tenggara

Malaysia merupakan salah satu negara yang kerap terdampak kabut asap akibat karhutla di Indonesia. Kabut asap dapat bergerak dari berbagai arah, terutama dari wilayah Kalimantan, kemudian menyelimuti sejumlah kawasan di Negeri Jiran.

Kabut asap lintas batas telah menjadi masalah rutin di Asia Tenggara, khususnya bagi Malaysia dan Singapura. Kedekatan geografis dengan Indonesia membuat kedua negara tersebut berulang kali merasakan dampak polusi udara yang berasal dari kebakaran hutan dan lahan.

Krisis kabut asap terburuk pernah terjadi pada 1997-1998 dan 2015. Pada periode tersebut, puluhan orang meninggal dunia, sementara ribuan orang di Indonesia, Malaysia, dan Singapura harus menjalani perawatan di rumah sakit akibat gangguan pernapasan dan masalah jantung.

Kesimpulan

Malaysia memilih jalur diplomatik ASEAN untuk menangani kabut asap lintas batas dari karhutla di Kalimantan. Pemerintah Malaysia akan berkomunikasi dengan Sekretariat ASEAN dan Indonesia melalui surat resmi, sementara tingginya indeks polusi di sejumlah wilayah Sarawak menunjukkan bahwa dampak kabut asap masih menjadi persoalan serius.

Ke depan, penyelesaian masalah ini akan bergantung pada koordinasi antara negara-negara ASEAN, terutama Indonesia dan Malaysia sebagai pihak yang terdampak langsung. Dengan menjadikan ASEAN sebagai jalur utama, Malaysia berharap persoalan kabut asap dapat ditangani melalui mekanisme regional yang lebih efektif dan terkoordinasi.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment