PM Malaysia Anwar Ibrahim Kecam Tender Permukiman Israel di Tepi Barat

Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim mengecam keras keputusan Israel yang mengeluarkan tender pembangunan lebih dari 1.200 unit rumah baru di Tepi Barat melalui Proyek Permukiman E1. Menurut Anwar, proyek tersebut berpotensi membelah wilayah Tepi Barat dan merusak keutuhan wilayah Palestina.

Kecaman itu disampaikan Anwar melalui unggahan di platform X pada Kamis (20/8). Ia menilai pembangunan permukiman baru di kawasan E1 tidak hanya memperburuk situasi di lapangan, tetapi juga menunjukkan sikap Israel yang mengabaikan hukum internasional serta seruan masyarakat global.

Anwar Kecam Tender Proyek Permukiman E1

Anwar menyatakan tidak ragu untuk menentang keputusan Israel menerbitkan tender konstruksi untuk proyek permukiman E1. Ia menilai langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pembangunan permukiman Israel di wilayah Tepi Barat yang selama ini menuai kecaman internasional.

“Saya tanpa ragu mengecam keputusan rezim Israel untuk mengeluarkan tender konstruksi untuk proyek permukiman E1,” kata Anwar dalam pernyataannya di X.

Ia menjelaskan, kawasan yang berada di sebelah timur Yerusalem itu telah lama memiliki arti penting bagi keberlangsungan negara Palestina. Karena itu, pembangunan permukiman di wilayah tersebut dinilai dapat berdampak langsung terhadap keutuhan teritorial dan masa depan Palestina.

Proyek E1 Dinilai Mengancam Keutuhan Palestina

Proyek E1 disebut berpotensi membelah Tepi Barat. Kondisi itu dikhawatirkan semakin menyulitkan terbentuknya negara Palestina yang utuh, berdaulat, layak, dan merdeka.

Anwar menegaskan bahwa permukiman Israel di Tepi Barat merupakan tindakan yang ilegal menurut hukum internasional. Meski demikian, Israel disebut terus melanjutkan pembangunan permukiman tersebut tanpa menghadapi konsekuensi yang sepadan.

Menurut Anwar, keputusan mengeluarkan tender pembangunan lebih dari 1.200 unit rumah baru di kawasan E1 memperlihatkan bahwa Israel tetap menjalankan kebijakan permukiman meskipun telah mendapat penolakan dari berbagai organisasi dan komunitas internasional.

Kritik terhadap Sikap Israel di Tengah Konflik

Perdana Menteri Malaysia itu juga mengaitkan keputusan proyek E1 dengan situasi kekerasan yang terjadi di Tepi Barat dan Gaza. Ia menyoroti kekerasan yang dilakukan pemukim terhadap warga sipil Palestina di Tepi Barat serta kondisi di Gaza yang disebutnya sebagai genosida yang sedang berlangsung.

“Di tengah kekerasan pemukim yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap warga sipil Palestina di Tepi Barat dan genosida yang sedang berlangsung di Gaza, keputusan ini menunjukkan bahwa rezim Israel telah meninggalkan bahkan upaya untuk mencari perdamaian atau menghormati kehendak komunitas internasional,” ujar Anwar.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Malaysia memandang kebijakan pembangunan permukiman sebagai hambatan serius bagi upaya perdamaian. Pembangunan di kawasan yang dianggap strategis bagi masa depan Palestina dinilai dapat semakin memperuncing konflik dan menjauhkan kemungkinan tercapainya penyelesaian yang menghormati hak-hak rakyat Palestina.

Malaysia Tegaskan Dukungan untuk Palestina

Anwar kembali menegaskan posisi Malaysia yang berdiri teguh bersama rakyat Palestina. Ia menyatakan dukungan terhadap hak rakyat Palestina untuk memiliki negara yang berdaulat, layak, utuh, dan merdeka.

Malaysia juga menyampaikan peringatan kepada perusahaan-perusahaan internasional yang berencana ikut serta dalam tender proyek tersebut. Anwar mengatakan pemerintah Malaysia akan mencatat dengan saksama setiap perusahaan internasional yang berpartisipasi dan mengambil tindakan sesuai dengan keputusan mereka.

“Malaysia akan mencatat dengan saksama setiap perusahaan internasional yang memilih untuk berpartisipasi dalam tender ini dan akan bertindak sesuai dengan itu,” kata Anwar.

Proyek E1 Sempat Tertunda

Rencana Proyek Permukiman E1 sebelumnya telah mencuat sejak Agustus tahun lalu. Proyek tersebut sempat tertunda selama bertahun-tahun karena adanya tekanan dari Amerika Serikat.

Namun, Israel kemudian meresmikan proyek itu dan terus berupaya mendirikan permukiman baru di wilayah Tepi Barat. Langkah tersebut tetap berlangsung meskipun pembangunan permukiman Israel di wilayah pendudukan mendapat kecaman keras dari organisasi serta komunitas internasional.

Kesimpulan

Kecaman Anwar Ibrahim terhadap tender pembangunan lebih dari 1.200 unit rumah di kawasan E1 menegaskan kembali sikap Malaysia dalam mendukung hak-hak rakyat Palestina. Proyek tersebut dinilai dapat membelah Tepi Barat, mengganggu keutuhan wilayah Palestina, serta semakin menjauhkan prospek perdamaian.

Ke depan, perhatian akan tertuju pada pelaksanaan tender dan sikap perusahaan internasional yang memilih untuk terlibat. Malaysia telah menyatakan akan memantau partisipasi mereka, sementara pembangunan permukiman Israel di Tepi Barat diperkirakan tetap menjadi isu yang memicu penolakan dari komunitas internasional.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment