Prabowo Soroti Perdagangan yang Kerap Dijadikan Senjata Negara Adidaya di Forum Ekonomi Vladivostok

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyoroti penggunaan kebijakan perdagangan sebagai alat tekanan oleh negara-negara adidaya. Pernyataan tersebut disampaikan ketika Prabowo menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9). Dalam forum tersebut, Prabowo berbicara di hadapan Presiden Rusia Vladimir Putin mengenai situasi global yang dinilai semakin penuh ketidakpastian.

Menurut Prabowo, perdagangan yang semestinya menjadi sarana kerja sama dan pertumbuhan ekonomi kini sering dimanfaatkan sebagai instrumen untuk mencapai kepentingan tertentu. Kondisi itu, kata dia, turut memengaruhi hubungan antarnegara serta menciptakan persoalan baru dalam perekonomian dunia.

Prabowo: Perdagangan Sering Digunakan sebagai Senjata

Dalam pidatonya di EEF ke-11, Prabowo menyampaikan pandangannya mengenai dinamika perdagangan global. Ia menilai kebijakan perdagangan belakangan ini tidak selalu berjalan dalam kerangka kerja sama yang saling menguntungkan.

“Saat ini perdagangan sering kali digunakan sebagai senjata,” kata Prabowo dalam pidatonya.

Pernyataan tersebut menjadi perhatian karena disampaikan dalam forum ekonomi yang mempertemukan berbagai pihak untuk membahas kerja sama dan perkembangan ekonomi. Prabowo menilai penggunaan perdagangan sebagai alat tekanan dapat memperumit hubungan ekonomi antarnegara.

Ia juga menggambarkan situasi dunia saat ini sebagai kondisi yang penuh ketidakpastian. Dalam keadaan tersebut, hubungan ekonomi global menghadapi tantangan yang tidak sederhana, termasuk meningkatnya rasa saling curiga di dalam rantai pasok.

Rantai Pasok Dipenuhi Rasa Curiga

Prabowo mengatakan ketidakpastian global telah memengaruhi rantai pasok internasional. Rantai pasok yang seharusnya mendukung kelancaran arus barang dan aktivitas ekonomi kini, menurut dia, dipenuhi rasa curiga.

Rasa curiga tersebut menunjukkan adanya persoalan kepercayaan dalam hubungan ekonomi antarnegara. Ketika kepercayaan melemah, kerja sama di berbagai sektor berpotensi menghadapi hambatan. Situasi ini menjadi bagian dari tantangan yang perlu dijawab melalui kesepakatan dan kemitraan yang lebih konstruktif.

Selain persoalan rantai pasok, Prabowo menyebut tata keuangan dunia saat ini juga telah terbagi-bagi secara geografis. Pembagian tersebut memperlihatkan adanya fragmentasi dalam sistem keuangan global.

Harapan terhadap Kesepakatan di Vladivostok

Di tengah persoalan tersebut, Prabowo berharap kesepakatan yang dihasilkan dalam pertemuan di Vladivostok dapat memberikan jawaban nyata atas berbagai masalah yang tengah berkecamuk. Ia menilai kerja sama ekonomi perlu diarahkan untuk merespons ketidakpastian, kecurigaan dalam rantai pasok, serta pembagian tata keuangan dunia.

Harapan itu juga menegaskan pentingnya forum ekonomi sebagai ruang untuk membangun komunikasi dan mencari titik temu di antara negara-negara yang terlibat. Bagi Prabowo, kesepakatan yang lahir dari pertemuan tersebut diharapkan tidak berhenti pada pembahasan, tetapi mampu menjadi bagian dari jawaban terhadap tantangan global.

Indonesia Pegang Prinsip Bebas dan Aktif

Dalam kesempatan yang sama, Prabowo kembali menegaskan bahwa kebijakan luar negeri Indonesia berlandaskan asas bebas dan aktif. Prinsip tersebut menjadi dasar Indonesia dalam membangun hubungan dengan negara-negara lain.

Prabowo menyatakan Indonesia tidak akan bergabung dengan aliansi militer. Namun, Indonesia tetap terbuka untuk ikut dalam aliansi ekonomi. Sikap ini menunjukkan bahwa Indonesia memisahkan kerja sama ekonomi dari kepentingan aliansi militer.

Ia menegaskan bahwa keterlibatan Indonesia dalam kerja sama ekonomi bukan ditujukan untuk menghadapi atau melawan pihak tertentu. Kerja sama tersebut diarahkan untuk membangun kemitraan yang dapat memberikan kemakmuran bagi semua pihak.

FTA dengan Uni Ekonomi Eurasia

Prabowo menyebut perjanjian perdagangan bebas atau FTA Indonesia dengan Uni Ekonomi Eurasia sebagai contoh nyata dari sikap tersebut. Menurutnya, kerja sama itu bukan aliansi untuk melawan siapa pun, melainkan bentuk kemitraan demi kemakmuran bersama.

“FTA kami dengan Uni Ekonomi Eurasia adalah bentuk nyata dari hal tersebut; bukan aliansi untuk melawan siapa pun, melainkan kemitraan demi kemakmuran semua orang. Indonesia bekerja sama dengan Timur, Barat, Utara, dan Selatan sebagai mitra yang berdaulat dan setara,” ucap Prabowo.

Pernyataan tersebut menegaskan posisi Indonesia yang ingin menjalin hubungan dengan berbagai kawasan tanpa menempatkan diri dalam blok tertentu. Indonesia memandang negara-negara mitranya sebagai pihak yang berdaulat dan memiliki kedudukan setara.

Kesimpulan

Prabowo Subianto menyoroti kecenderungan perdagangan yang kerap digunakan sebagai senjata oleh negara-negara adidaya. Ia juga mengungkapkan kekhawatiran terhadap rantai pasok yang dipenuhi rasa curiga serta tata keuangan dunia yang semakin terbagi secara geografis.

Melalui forum EEF ke-11 di Vladivostok, Prabowo berharap kesepakatan yang dihasilkan dapat menjadi jawaban nyata atas berbagai persoalan global. Indonesia, dengan prinsip politik luar negeri bebas dan aktif, menegaskan tidak akan bergabung dengan aliansi militer, tetapi tetap terbuka terhadap kerja sama ekonomi.

Ke depan, posisi Indonesia diarahkan pada pembangunan kemitraan dengan berbagai negara di Timur, Barat, Utara, dan Selatan. Kerja sama tersebut diharapkan berlangsung atas dasar kedaulatan, kesetaraan, serta tujuan bersama untuk menciptakan kemakmuran.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment