Trump Pertimbangkan Serangan Terbatas ke Iran, Target Rudal dan Radar

Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut mempertimbangkan untuk kembali melancarkan operasi militer terhadap Iran. Rencana tersebut muncul setelah Amerika Serikat dan Iran terlibat aksi saling serang pada pekan lalu, yang meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Informasi mengenai rencana itu disampaikan oleh tiga pejabat Amerika Serikat kepada media Axios. Menurut mereka, Trump bersama para penasihatnya tengah membahas kemungkinan melanjutkan operasi terhadap Iran. Langkah tersebut diklaim bertujuan mencegah Teheran menyerang kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Meski disebut sebagai rencana serangan besar-besaran, operasi yang tengah dipertimbangkan tidak diarahkan untuk memulai perang penuh. Serangan itu diperkirakan bersifat terbatas dan akan menyasar fasilitas militer tertentu milik Iran, terutama situs rudal serta radar.

Trump Masih Membuka Semua Opsi

Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan bahwa seluruh opsi masih berada di tangan Presiden Trump. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Washington belum menutup kemungkinan mengambil tindakan militer tambahan terhadap Teheran.

“Presiden masih memiliki semua opsi yang tersedia. Pihak Iran ingin membuat kesepakatan, tetapi mereka selalu terlambat dan kekurangan dana,” ujar pejabat tersebut, seperti dikutip dari New Arab pada Senin (31/8).

Pernyataan itu disampaikan ketika hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali berada dalam kondisi yang tegang. Kedua negara sebelumnya telah mengalami rangkaian bentrokan militer, meskipun sempat mencapai kesepakatan untuk menghentikan perang.

Rencana Disusun CENTCOM

Menurut keterangan para pejabat AS, rencana operasi tersebut disusun oleh Komando Pusat Amerika Serikat atau United States Central Command (CENTCOM). Rencana itu juga disebut mendapat dukungan dari Menteri Pertahanan Pete Hegseth.

Namun, operasi yang dibahas tidak akan berkembang menjadi perang skala penuh. Bentuknya diperkirakan berupa serangan terbatas terhadap sejumlah infrastruktur militer Iran. Situs rudal dan radar menjadi target utama karena fasilitas tersebut dinilai berkaitan dengan kemampuan pertahanan serta serangan Teheran.

Salah satu pejabat menggambarkan operasi itu dengan istilah “memotong rumput”. Istilah tersebut dikenal di kalangan pejabat militer Israel untuk menyebut pola pemboman berkala di Gaza. Dalam konteks rencana terhadap Iran, istilah itu menggambarkan serangan berulang dan terbatas untuk menekan kemampuan militer lawan.

Ketegangan Meningkat Setelah Serangan di Dekat Hormuz

Pembahasan mengenai operasi lanjutan itu muncul setelah Amerika Serikat menggempur sebuah pulau milik Iran yang berada di dekat Selat Hormuz pada Minggu. Serangan tersebut kemudian dibalas Teheran dengan melancarkan serangan terhadap target militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Selat Hormuz menjadi bagian penting dalam perkembangan situasi tersebut karena jalur itu disebut sebagai salah satu alasan utama Washington mempertimbangkan tindakan lebih lanjut. Amerika Serikat berupaya mencegah Iran menyerang kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut.

Trump juga kembali mengeluarkan ancaman terhadap Iran. Ia menyatakan bahwa Amerika Serikat akan memberikan balasan keras atas tindakan Teheran.

“Kita akan menyerang mereka dengan keras. Akan ada balasannya,” kata Trump.

Riwayat Bentrokan AS, Israel, dan Iran

Konflik terbaru tersebut merupakan bagian dari rangkaian ketegangan yang telah berlangsung antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Pada akhir Februari, Amerika Serikat bersama sekutu dekatnya, Israel, saling melancarkan serangan dengan Iran.

Serangan itu menimbulkan dampak besar bagi Iran. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat tinggi pertahanan dilaporkan tewas. Iran kemudian merespons dengan meluncurkan serangan ke wilayah Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat yang berada di Timur Tengah.

Kedua pihak sempat mencapai gencatan senjata pada April. Selanjutnya, pada Juni, mereka menandatangani nota kesepahaman atau MoU yang dimaksudkan untuk mengakhiri perang. Namun, kesepakatan tersebut tidak mampu menghentikan ketegangan. Dalam laporan itu disebutkan bahwa Amerika Serikat berulang kali melanggar kesepakatan dan dianggap mengkhianati perjanjian.

Arah Konflik Masih Belum Pasti

Rencana serangan terbatas yang sedang dipertimbangkan Trump menunjukkan bahwa jalur diplomasi antara Washington dan Teheran masih menghadapi hambatan. Ancaman serangan lanjutan juga berpotensi memicu respons baru dari Iran, terutama setelah sebelumnya Teheran membalas serangan Amerika Serikat terhadap target militer di kawasan.

Ke depan, perkembangan situasi akan bergantung pada keputusan Trump dan langkah yang diambil Iran. Meskipun belum diarahkan menuju perang penuh, serangan terhadap situs rudal dan radar tetap dapat memperburuk ketegangan serta mengganggu upaya mengakhiri konflik. Selat Hormuz pun berpotensi tetap menjadi titik penting dalam perseteruan kedua negara.

Kesimpulannya, Donald Trump disebut tengah mempertimbangkan serangan terbatas ke Iran dengan sasaran fasilitas rudal dan radar. Rencana yang disusun CENTCOM dan didukung Menteri Pertahanan Pete Hegseth itu muncul setelah aksi saling serang antara kedua negara. Di tengah ancaman balasan dan gagalnya sejumlah kesepakatan, arah hubungan Amerika Serikat dan Iran masih belum menunjukkan tanda-tanda stabil.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment