Tujuh Wilayah Malaysia Tercatat Berpolusi Tidak Sehat, Sarawak Hampir Capai Level Sangat Tidak Sehat
Sejumlah wilayah di Malaysia mengalami penurunan kualitas udara akibat kabut asap yang berdampak pada empat negara bagian. Berdasarkan data Sistem Manajemen Indeks Polutan Udara atau Air Pollutant Index Management System (APIMS), tujuh wilayah mencatat indeks polusi udara (Air Pollutant Index/API) dalam kategori tidak sehat pada Minggu (23/8) pukul 09.00 waktu setempat.
Empat dari tujuh wilayah tersebut berada di negara bagian Sarawak. Nilai API di sejumlah wilayah Sarawak bahkan mendekati ambang batas kategori sangat tidak sehat. Kondisi ini menunjukkan bahwa polusi udara masih menjadi persoalan yang perlu dipantau secara berkala, terutama ketika kabut asap menyelimuti sejumlah kawasan di Malaysia.
Empat Wilayah di Sarawak Catat API Tertinggi
Kota Serian menjadi wilayah dengan tingkat API tertinggi pada pemantauan tersebut. Nilai API di kawasan itu mencapai 194, atau berada di ujung atas kategori tidak sehat. Berdasarkan klasifikasi API, angka tersebut hanya berjarak beberapa poin dari kategori sangat tidak sehat yang dimulai pada angka 201.
Wilayah berikutnya adalah Kota Kuching dengan nilai API 183. Sementara itu, Sri Aman mencatat angka 177 dan Samarahan berada di level 175. Keempat wilayah tersebut berada di negara bagian Sarawak dan menjadi kawasan dengan tingkat polusi udara paling tinggi dalam pembaruan data pagi hari itu.
Nilai yang mendekati 200 memperlihatkan bahwa kualitas udara di wilayah-wilayah tersebut berada dalam kondisi yang perlu mendapat perhatian. Meskipun belum masuk kategori sangat tidak sehat, tingkat polusi yang tinggi dapat menjadi indikator memburuknya kondisi udara apabila kabut asap terus bertahan.
Tiga Wilayah Lain Masuk Kategori Tidak Sehat
Selain Sarawak, tiga wilayah lain di Malaysia juga mencatat API dalam kategori tidak sehat. Johan Setia di negara bagian Selangor mencatat API sebesar 157. Selanjutnya, Sungai Petani di Kedah berada pada angka 140, sedangkan Taiping di Perak mencatat API 121.
Dengan demikian, tujuh wilayah yang masuk kategori tidak sehat tersebar di empat negara bagian Malaysia, yakni Sarawak, Selangor, Kedah, dan Perak. Data tersebut menunjukkan bahwa dampak polusi tidak hanya dirasakan di satu kawasan, tetapi juga meluas ke sejumlah wilayah lain.
Klasifikasi Indeks Polusi Udara Malaysia
API digunakan untuk menggambarkan kondisi kualitas udara berdasarkan rentang nilai tertentu. Nilai API 0 hingga 50 dikategorikan sebagai kualitas udara baik. Sementara itu, angka 51 hingga 100 menunjukkan kualitas udara sedang.
Wilayah dengan nilai API 101 hingga 200 masuk dalam kategori tidak sehat. Adapun angka 201 hingga 300 diklasifikasikan sebagai sangat tidak sehat. Jika nilai API berada di atas 300, kondisi tersebut masuk kategori berbahaya.
Berdasarkan klasifikasi itu, seluruh wilayah yang tercatat pada Minggu pagi masih berada dalam kategori tidak sehat. Namun, empat wilayah di Sarawak memiliki angka API yang cukup dekat dengan batas kategori sangat tidak sehat, sehingga perkembangannya menjadi perhatian.
Pemantauan Dilakukan Setiap Jam
Dilansir dari Bernama, Departemen Lingkungan Hidup Malaysia atau Department of Environment (DOE) terus memantau kualitas udara melalui 68 stasiun pengamatan. Pembacaan API diperbarui setiap jam sehingga perubahan kondisi udara di berbagai wilayah dapat dipantau secara berkala.
Pemantauan tersebut menjadi bagian penting dalam melihat perkembangan kabut asap yang melanda sejumlah kawasan di Malaysia. Data yang diperbarui secara rutin juga memberikan gambaran mengenai wilayah yang mengalami peningkatan atau penurunan tingkat polusi.
Kabut Asap Lintas Negara Kembali Berdampak
Malaysia merupakan salah satu negara yang terkena dampak kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Kabut asap bergerak dari berbagai arah, terutama dari Kalimantan, kemudian menyebabkan sejumlah wilayah di Negeri Jiran diselimuti polusi.
Kabut asap telah menjadi persoalan rutin di Asia Tenggara, khususnya bagi Malaysia dan Singapura. Kedekatan geografis dengan Indonesia membuat kedua negara tersebut turut terdampak ketika kebakaran hutan dan lahan menghasilkan asap dalam jumlah besar.
Dalam catatan sebelumnya, krisis kabut asap terburuk terjadi pada 1997-1998 dan 2015. Pada periode tersebut, puluhan orang meninggal dunia dan ribuan orang di Indonesia, Malaysia, serta Singapura harus menjalani perawatan di rumah sakit akibat gangguan pernapasan dan jantung.
Kesimpulan
Tujuh wilayah di empat negara bagian Malaysia mencatat kualitas udara dalam kategori tidak sehat pada Minggu (23/8) pagi. Serian menjadi wilayah dengan API tertinggi, yakni 194, disusul Kota Kuching, Sri Aman, dan Samarahan di Sarawak. Tiga wilayah lain yang terdampak adalah Johan Setia, Sungai Petani, dan Taiping.
Dengan pemantauan yang dilakukan melalui 68 stasiun dan pembaruan data setiap jam, perkembangan kualitas udara di Malaysia dapat terus diketahui. Ke depan, pemantauan tersebut tetap menjadi langkah penting untuk melihat perubahan kondisi kabut asap, terutama di wilayah yang nilai API-nya sudah mendekati kategori sangat tidak sehat.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment