431 Santri Ponpes Manbaul Hikam Diduga Keracunan MBG, 19 Lembaga Pendidikan Terdampak

Sebanyak 431 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, diduga mengalami keracunan setelah menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa (1/9). Para santri yang mengalami keluhan kemudian dievakuasi dan menjalani perawatan di delapan rumah sakit rujukan.

Peristiwa tersebut tidak hanya dialami oleh santri. Keluhan serupa juga dilaporkan terjadi di sejumlah sekolah yang menerima makanan dari dapur penyedia MBG yang sama, yakni Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin. Secara keseluruhan, terdapat 19 lembaga pendidikan yang terdampak, mulai dari tingkat TK hingga SMA.

Santri Mengeluhkan Mual, Lemas, dan Pusing

Salah satu santriwati, SZ (15), mengatakan dirinya menyantap menu MBG pada sekitar pukul 13.00 WIB. Menu yang dikonsumsi terdiri atas nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu bali, tumis buncis dan baby corn, serta buah apel.

Menurut SZ, terdapat rasa yang tidak biasa pada salah satu menu, terutama sayur. Ia menyebut sayur tersebut terasa asam sehingga tidak dihabiskan. Menjelang sore, SZ mulai merasakan mual, lemas, dan pusing.

“Makan MBG jam 13.00 WIB. Yang dimakan nasi putih, telur orak-arik, tempe kayak bali, enggak pedas,” ujar SZ saat ditemui di RSUD RT Notopuro, Sidoarjo, Selasa malam.

Ia menambahkan, rasa asam paling terasa pada sayur yang disajikan dalam paket makanan tersebut.

431 Santri Dievakuasi ke Rumah Sakit

Pengasuh Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Abdul Wahid Harun, menyampaikan bahwa jumlah santri di pesantren tersebut mencapai sekitar 1.000 orang. Seluruh santri disebut mengonsumsi MBG pada hari kejadian. Namun, kondisi fisik setiap santri berbeda sehingga tidak semuanya mengalami keluhan dengan tingkat keparahan yang sama.

Hingga Rabu (2/9) dini hari, sebanyak 431 santri telah dievakuasi untuk mendapatkan perawatan di delapan rumah sakit rujukan. Wahid menegaskan, makanan yang dikonsumsi para santri berasal dari SPPG Kalitengah, bukan dari makanan yang diolah oleh pihak pesantren.

Pihak pesantren juga telah mendirikan posko serta menugaskan pengurus untuk memantau kondisi santri, baik yang menjalani perawatan di rumah sakit maupun yang masih berada di lingkungan pesantren. Aktivitas belajar-mengajar selanjutnya akan disesuaikan dengan perkembangan situasi.

19 Lembaga Pendidikan Mengalami Keluhan

Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satgas MBG Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, mengatakan keluhan kesehatan tidak hanya muncul di Ponpes Manbaul Hikam. Siswa dari sejumlah sekolah yang memperoleh makanan dari SPPG yang sama juga dilaporkan mengalami keluhan.

Menurut Emil, terdapat 19 lembaga pendidikan di Kecamatan Tanggulangin yang terdampak. Lembaga tersebut mencakup pondok pesantren, SMA, SMP, SD, hingga TK. Kesamaan dari seluruh lembaga itu adalah menerima pasokan makanan dari SPPG Tanggulangin Kalitengah.

Emil juga membantah kabar mengenai adanya korban meninggal dunia dalam peristiwa tersebut. Ia menegaskan bahwa tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.

SPPG Kalitengah Disetop Sementara

Emil menjelaskan bahwa SPPG Tanggulangin Kalitengah sebelumnya telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS). Berdasarkan catatan asesmen, sarana dan prasarana dapur dinilai memadai. Sejumlah tenaga penjamah makanan juga telah mengikuti sertifikasi, sementara sertifikasi halal disebut telah diperoleh.

Meski demikian, kepemilikan SLHS tidak sepenuhnya menjamin bahwa persoalan dalam proses penyediaan makanan tidak akan terjadi. Sertifikat tersebut menilai sistem dan sarana prasarana secara umum. Potensi masalah masih dapat muncul dari kualitas bahan makanan atau pelaksanaan yang tidak sesuai dengan standar operasional prosedur, termasuk ketepatan waktu.

Wakil Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Jawa Timur, Teguh Bayu Wibowo, mengatakan pihaknya langsung mendatangi SPPG setelah menerima laporan. Operasional SPPG Kalitengah Tanggulangin kemudian dihentikan sementara.

SPPG tersebut diketahui memasok sekitar 2.800 porsi makanan setiap hari untuk sekolah dan pesantren. Dari jumlah itu, sekitar 1.000 porsi disalurkan ke Ponpes Manbaul Hikam, sedangkan sisanya diberikan kepada sekolah lain.

Sampel makanan telah diambil oleh Dinas Kesehatan Sidoarjo dan kepolisian untuk menjalani pemeriksaan laboratorium. Hasil pengujian diperkirakan menjadi dasar evaluasi terhadap keberlanjutan operasional dapur MBG tersebut.

Menunggu Hasil Uji Laboratorium

BGN pusat telah mengeluarkan keputusan untuk menangguhkan sementara operasional SPPG Kalitengah Tanggulangin. Durasi penghentian tersebut masih menunggu hasil evaluasi dan pemeriksaan laboratorium.

Selanjutnya, pemerintah pusat akan mempertimbangkan apakah penangguhan hanya diberlakukan sementara atau dilanjutkan menjadi penghentian permanen. Sementara itu, pihak pesantren terus mendampingi para santri dan wali santri selama proses penanganan berlangsung.

Kesimpulan

Kasus dugaan keracunan MBG di Sidoarjo menyebabkan 431 santri Ponpes Manbaul Hikam menjalani perawatan di delapan rumah sakit. Keluhan juga dilaporkan terjadi di 18 lembaga pendidikan lain yang menerima makanan dari SPPG Kalitengah Tanggulangin.

Operasional SPPG tersebut untuk sementara dihentikan, sedangkan sampel makanan sedang diperiksa oleh pihak terkait. Keputusan mengenai kelanjutan operasional dapur MBG akan ditentukan setelah hasil uji laboratorium dan evaluasi resmi diperoleh. Hingga saat ini, pemerintah memastikan tidak ada korban meninggal dunia dalam peristiwa tersebut.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment