Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Menyebar dari Bengkulu hingga Jakarta
JAKARTA – Wilayah sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) meluas dari Bengkulu hingga Jakarta pada Minggu (6/9) pagi. Abu vulkanik tersebut teridentifikasi menyebar dalam dua klaster berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga pukul 04.00 WIB.
Gunung Anak Krakatau diketahui mengalami erupsi sejak Jumat (4/9) malam. Informasi mengenai arah dan ketinggian sebaran abu diperoleh dari sejumlah sumber pemantauan, termasuk Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin, serta analisis citra RGB Himawari-9.
Melalui situs resminya, BMKG menyampaikan bahwa terdapat dua klaster utama sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Masing-masing klaster mengarah ke wilayah berbeda, yakni kawasan Jakarta, Banten, dan Jawa Barat, serta wilayah Lampung hingga Bengkulu.
Dua Klaster Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau
BMKG mengidentifikasi dua pola sebaran abu vulkanik berdasarkan hasil analisis pada 6 September 2026 pukul 04.00 WIB. Klaster pertama bergerak ke arah timur laut hingga selatan dan mencakup sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, serta perairan di sekitarnya.
Klaster Pertama Mengarah ke Jakarta dan Jawa Barat
Sebaran abu vulkanik pada klaster pertama teramati mulai dari permukaan hingga ketinggian 20.000 kaki di atmosfer. Arah sebaran tersebut mencakup sejumlah wilayah yang berada di kawasan metropolitan Jabodetabek dan sekitarnya.
Keberadaan abu vulkanik juga dirasakan oleh sejumlah warga di wilayah Jabodetabek. Beberapa pengguna media sosial mengunggah temuan berupa abu tipis yang beterbangan di sejumlah lokasi, antara lain Ciledug, Tangerang, Jagakarsa, hingga kawasan pusat Jakarta.
Selain laporan warga, hasil paper test menunjukkan bahwa sebaran abu vulkanik telah mencapai Bandara Soekarno-Hatta. Kondisi tersebut berdampak pada operasional bandara. Bandara ditutup hingga Minggu (6/9) pukul 09.30 WIB, sementara sejumlah penerbangan mengalami penundaan atau pengalihan.
Klaster Kedua Menjangkau Lampung hingga Bengkulu
Klaster kedua teramati bergerak ke arah barat daya hingga barat laut. Sebaran abu dalam klaster ini tercatat berada mulai dari permukaan hingga ketinggian 50.000 kaki.
Menurut BMKG, wilayah yang masuk dalam jalur sebaran tersebut meliputi sebagian Banten, Lampung, dan Bengkulu. Selain wilayah daratan, abu vulkanik juga teramati di perairan Selat Sunda bagian selatan serta Samudra Hindia di sebelah barat Bengkulu, Lampung, dan Banten.
Abu Vulkanik Menyelimuti Jalan di Bandar Lampung
Dampak sebaran abu vulkanik juga terlihat di sejumlah ruas jalan di Bandar Lampung. Abu vulkanik dilaporkan telah menutupi permukaan jalan sehingga mengganggu pengguna jalan yang melintas.
Pemerintah Kota Bandar Lampung kemudian melakukan penyemprotan air pada Minggu (6/9). Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana mengatakan, penyemprotan dilakukan untuk membasahi debu vulkanik yang menempel di permukaan jalan.
Langkah tersebut dilakukan karena debu vulkanik yang berada di jalan dinilai mengganggu aktivitas dan kenyamanan pengguna jalan. Penyemprotan menjadi bagian dari penanganan terhadap abu yang telah menyelimuti sejumlah ruas jalan di wilayah tersebut.
Kesimpulan
Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada Minggu (6/9) tercatat meluas dari Bengkulu hingga Jakarta. Berdasarkan data BMKG, terdapat dua klaster sebaran, yaitu menuju Jakarta, Banten, dan Jawa Barat dengan ketinggian hingga 20.000 kaki, serta menuju Lampung dan Bengkulu dengan ketinggian hingga 50.000 kaki.
Abu vulkanik juga terdeteksi mencapai Bandara Soekarno-Hatta sehingga operasional penerbangan terdampak. Di Bandar Lampung, abu yang menutupi ruas jalan mendorong pemerintah kota melakukan penyemprotan air. Perkembangan sebaran abu vulkanik selanjutnya tetap menjadi perhatian berdasarkan hasil pemantauan dan analisis lembaga terkait.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment