Bagaimana Kucing Melihat Dunia? Ini Perbedaan Penglihatan Kucing dan Manusia
Dunia yang dilihat kucing ternyata tidak sepenuhnya sama dengan dunia yang dipersepsikan manusia. Meski kucing tidak melihat lingkungan dalam warna hitam-putih, kemampuan mereka dalam membedakan warna lebih terbatas. Sebaliknya, mata kucing memiliki keunggulan dalam menangkap cahaya pada kondisi redup serta mendeteksi gerakan di sekitarnya.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa penglihatan kucing bukan sekadar versi yang lebih tajam dari penglihatan manusia. Mata dan sistem saraf kucing bekerja dengan cara yang berbeda, sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Karena itu, benda yang tampak menarik bagi manusia belum tentu memberikan respons yang sama bagi kucing.
Kucing Memiliki Persepsi Warna yang Berbeda
Profesor dari School of Biosciences, University of Melbourne, Devi Stuart-Fox, menjelaskan bahwa setiap makhluk hidup dapat melihat dan mempersepsikan warna dengan cara yang berbeda. Menurutnya, warna memang memiliki dasar fisik, tetapi pada akhirnya warna merupakan sesuatu yang diproses dan dipersepsikan oleh pikiran.
Objek yang sama dapat terlihat berbeda bagi setiap makhluk yang mengamatinya. Hewan juga memiliki kemampuan persepsi warna yang tidak sama dengan manusia. Perbedaan tersebut berkaitan dengan jenis fotoreseptor yang terdapat pada mata.
Manusia umumnya memiliki tiga jenis fotoreseptor kerucut atau cone cell. Sel-sel tersebut sensitif terhadap panjang gelombang warna merah, hijau, dan biru. Sementara itu, kucing hanya memiliki dua jenis fotoreseptor utama, yakni satu yang sensitif terhadap warna biru dan satu lainnya terhadap warna kuning.
Penglihatan Dikromatik pada Kucing
Kondisi tersebut membuat kucing memiliki penglihatan warna dikromatik. Kucing lebih mampu menangkap warna dalam rentang biru hingga kuning-hijau. Namun, kemampuan mereka dalam melihat warna merah jauh lebih terbatas dibandingkan manusia.
Perbedaan ini dapat menjelaskan mengapa kucing terkadang tampak tidak tertarik pada mainan dengan warna mencolok. Warna belum tentu menjadi faktor utama yang menarik perhatian mereka. Bagi kucing, gerakan suatu benda dapat menjadi pemicu yang jauh lebih kuat.
Dengan demikian, mainan yang terlihat sangat berwarna bagi manusia belum tentu memberikan daya tarik yang sama bagi kucing. Respons kucing terhadap benda tersebut lebih mungkin dipengaruhi oleh pergerakan yang terlihat di sekitarnya.
Mata Kucing Unggul dalam Kondisi Cahaya Redup
Selain memiliki kemampuan mendeteksi gerakan dengan baik, kucing juga dapat melihat dengan lebih baik ketika berada dalam kondisi cahaya redup. Kemampuan ini berkaitan dengan struktur mata mereka, termasuk keberadaan tapetum lucidum.
Mengutip The Journal of Physiology, tapetum lucidum merupakan lapisan reflektif yang berada di belakang retina. Lapisan tersebut dapat memantulkan kembali cahaya ke fotoreseptor, sehingga meningkatkan peluang cahaya untuk ditangkap oleh mata.
Struktur tapetum lucidum juga menjadi salah satu alasan mata kucing terlihat berkilau ketika terkena cahaya dalam keadaan gelap. Kilauan itu merupakan bagian dari cara kerja mata kucing dalam memanfaatkan cahaya yang tersedia.
Kemampuan melihat dalam pencahayaan minim dapat membantu kucing beraktivitas ketika lingkungan tidak terlalu terang. Sementara itu, kemampuan mendeteksi gerakan membantu mereka merespons berbagai hal yang terjadi di sekitar.
Simulasi Penglihatan Kucing Belum Sepenuhnya Akurat
Manusia tidak dapat mengetahui secara persis seperti apa pengalaman visual seekor kucing. Perkiraan hanya dapat dibuat berdasarkan pemahaman terhadap struktur mata dan sistem saraf mereka.
University of Melbourne menjelaskan bahwa peneliti dapat membuat gambaran yang mendekati penglihatan hewan dengan menyesuaikan gambar berdasarkan kemampuan mata dan sistem penglihatan hewan tersebut. Pendekatan ini kemudian digunakan dalam sebuah proyek seni yang melibatkan kucing-kucing di Ainoshima, Jepang, yang dikenal sebagai salah satu “Cat Heaven Island”.
Dalam proyek tersebut, kucing diperlihatkan berbagai mainan, mulai dari lonceng dan rumbai hingga benda berbentuk menyerupai ikan. Interaksi mereka direkam, kemudian diputar kembali kepada kucing-kucing tersebut.
Respons yang muncul ternyata beragam. Sebagian kucing tidak menunjukkan ketertarikan sama sekali. Namun, sebagian lainnya memperhatikan layar, mengelilinginya, bahkan mengikuti gerakan yang ditampilkan di dalamnya.
Meski demikian, simulasi tersebut bukan gambaran yang benar-benar persis mengenai apa yang dilihat kucing. Simulasi hanya memberikan perkiraan berdasarkan penelitian terhadap struktur mata dan sistem penglihatan mereka.
Kesimpulan
Penglihatan kucing memiliki karakteristik yang berbeda dari penglihatan manusia. Kucing tidak melihat dunia dalam hitam-putih, tetapi kemampuan mereka membedakan warna lebih terbatas karena hanya memiliki dua jenis fotoreseptor utama. Mereka lebih mampu menangkap warna biru hingga kuning-hijau, sedangkan warna merah terlihat lebih terbatas.
Di sisi lain, kucing memiliki keunggulan dalam melihat pada kondisi cahaya redup dan mendeteksi gerakan. Kemampuan tersebut didukung oleh struktur mata, termasuk tapetum lucidum, yang membantu memantulkan cahaya kembali ke fotoreseptor.
Penelitian dan simulasi penglihatan hewan dapat membantu manusia memahami dunia dari sudut pandang kucing, meski hasilnya belum bisa menggambarkan pengalaman visual mereka secara sempurna. Ke depan, pemahaman terhadap cara kerja mata dan sistem penglihatan kucing dapat menjadi dasar untuk membuat gambaran yang semakin mendekati bagaimana mereka melihat lingkungan di sekitarnya.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment