Basarnas Siapkan Salvage KM Virgo Transport 8 untuk Percepat Pencarian Korban

Basarnas mengungkapkan alasan rencana pembalikan badan KM Virgo Transport 8 dalam operasi pencarian korban. Langkah salvage tersebut disiapkan sebagai alternatif apabila pencarian bawah laut atau underwater search tidak dapat dilakukan karena kondisi cuaca.

Kapal KM Virgo Transport 8 diketahui berada dalam posisi terbalik dan masih mengapung di perairan Laut Jawa. Basarnas bersama jajaran di bawah Kementerian Perhubungan serta pemilik kapal tengah berkoordinasi untuk menentukan langkah yang paling memungkinkan dalam proses pencarian dan evakuasi korban.

Salvage Menjadi Alternatif Jika Pencarian Bawah Laut Terkendala

Kepala Basarnas Marsekal Madya Mohammad Syafii mengatakan, rencana salvage dilakukan sebagai opsi alternatif jika tim tidak dapat melaksanakan pencarian bawah laut akibat cuaca. Dalam rencana tersebut, badan kapal akan dibalikkan agar bagian dalam KM Virgo Transport 8 dapat diperiksa dan digunakan sebagai lokasi pencarian korban.

Syafii menjelaskan, proses pembalikan kapal diharapkan dapat mempermudah tim untuk melakukan pencarian di dalam badan kapal. Setelah korban yang masih dicari berhasil dievakuasi dan operasi SAR dinyatakan selesai, kapal tersebut baru akan ditarik untuk kepentingan investigasi.

Apabila pencarian underwater belum bisa dilakukan akibat cuaca, kami merencanakan salvage dengan membalikkan kondisi kapal, kemudian melaksanakan pencarian di dalam kapal dan melakukan evakuasi.

Dasar Rencana Pengangkatan Kapal

Selain mempertimbangkan kebutuhan operasi pencarian dan evakuasi, rencana salvage juga mengacu pada ketentuan dalam undang-undang pelayaran. Berdasarkan aturan tersebut, pemilik kapal yang mengalami kecelakaan dan mengganggu pelayaran atau alur laut aktif memiliki kewajiban untuk memindahkan kapal. Jika diperlukan, badan kapal juga harus diangkat.

Menurut Syafii, ketentuan itu menjadi salah satu dasar utama dalam penyusunan rencana salvage KM Virgo Transport 8. Pemindahan atau pengangkatan badan kapal disebut harus dilakukan paling lama dalam waktu 180 hari.

Aturan tersebut menjadi pertimbangan bagi Basarnas, Kementerian Perhubungan, dan pemilik kapal untuk melakukan koordinasi. Proses salvage tidak hanya berkaitan dengan pencarian korban, tetapi juga dengan penanganan kapal yang berada di jalur pelayaran.

Basarnas Libatkan Ahli dalam Pembahasan Salvage

Basarnas menegaskan bahwa pihaknya tidak memiliki kewenangan penuh dalam pelaksanaan salvage. Karena itu, lembaga tersebut mengundang sejumlah ahli untuk membahas kemungkinan, tahapan, serta pelaksanaan rencana pembalikan badan kapal.

Syafii menyampaikan, kewenangan salvage bukan sepenuhnya berada di tangan Basarnas. Namun, situasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung pelaksanaan operasi SAR, khususnya dalam upaya menemukan dan mengevakuasi korban yang masih belum diketahui keberadaannya.

Pelaksanaan salvage sendiri bukan pekerjaan yang mudah. Kondisi kapal yang terbalik, perubahan posisi kapal, serta faktor cuaca menjadi sejumlah hal yang harus diperhitungkan sebelum tindakan dilakukan. Oleh sebab itu, pembahasan bersama para ahli diperlukan agar setiap langkah dapat disiapkan secara tepat.

Posisi Kapal Terus Mengalami Pergeseran

Basarnas juga berpacu dengan waktu dalam melanjutkan pencarian korban. Syafii mengatakan, posisi kapal mengalami pergeseran sejak pertama kali kondisi kejadian ditetapkan sebagai datum.

Pada awalnya, kapal diperkirakan masih mengapung di kedalaman sekitar 21 meter. Namun, seiring berjalannya waktu, posisi kapal terus bergeser hingga berada di kedalaman sekitar 29 meter. Perubahan tersebut menjadi salah satu alasan Basarnas tidak dapat berlama-lama dalam menentukan langkah pencarian berikutnya.

Kondisi itu turut mendorong pembahasan mengenai salvage sebagai pilihan untuk mempercepat proses pencarian. Meski demikian, pelaksanaan pembalikan kapal tetap akan mempertimbangkan kondisi cuaca, aspek teknis, serta hasil koordinasi dengan pihak-pihak terkait.

Kronologi Singkat Hilang Kontak KM Virgo Transport 8

KM Virgo Transport 8 dilaporkan hilang kontak di perairan Laut Jawa pada Minggu, 13 September, sekitar pukul 02.00 Wita. Kapal tersebut sebelumnya berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin sejak Sabtu, 12 September.

KM Virgo Transport 8 disebut membawa 243 orang yang terdiri atas penumpang, awak kapal, dan kru. Hingga Senin, 14 September, sebanyak 114 orang telah ditemukan, sementara 129 orang lainnya masih dalam pencarian.

Kesimpulan

Rencana salvage dengan membalikkan badan KM Virgo Transport 8 disiapkan Basarnas sebagai alternatif apabila pencarian bawah laut tidak dapat dilakukan akibat cuaca. Langkah ini juga mempertimbangkan ketentuan pelayaran yang mewajibkan kapal yang mengalami kecelakaan dan mengganggu alur laut untuk dipindahkan atau diangkat dalam batas waktu tertentu.

Basarnas bersama Kementerian Perhubungan, pemilik kapal, dan para ahli akan membahas pelaksanaan rencana tersebut. Ke depan, prioritas utama tetap pencarian dan evakuasi korban yang belum ditemukan. Setelah operasi SAR dipastikan selesai, kapal direncanakan ditarik untuk kepentingan investigasi.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment