Bradiaritmia: Kenali Penyebab, Gejala, dan Penggunaan Pacemaker untuk Menjaga Irama Jantung
Detak jantung yang lebih lambat dari biasanya kerap dianggap sebagai kondisi ringan. Padahal, denyut jantung yang terlalu lambat dapat membuat jumlah darah yang dipompa ke seluruh tubuh, termasuk otak, menjadi tidak mencukupi. Kondisi ini dikenal sebagai bradiaritmia dan dapat terjadi akibat gangguan pada sistem kelistrikan jantung.
Dokter Spesialis Jantung Siloam Hospitals TB Simatupang, Budi Ario Tejo, menyebut sekitar 6,1 persen penduduk Indonesia mengalami penyakit kardiovaskular. Di antara berbagai gangguan tersebut, bradiaritmia menjadi salah satu kondisi yang sering kali tidak disadari karena gejalanya dapat berbeda pada setiap orang.
Apa Itu Bradiaritmia?
Bradiaritmia merupakan gangguan irama jantung yang ditandai dengan detak lebih lambat dari normal. Secara umum, kondisi ini merujuk pada denyut jantung kurang dari 60 kali per menit. Perlambatan tersebut dapat dipicu oleh gangguan pada sistem kelistrikan jantung yang berperan dalam mengatur irama dan kecepatan denyut.
Jantung berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh agar kebutuhan organ tetap terpenuhi. Ketika iramanya terlalu lambat, kemampuan jantung untuk mengalirkan darah juga dapat menurun. Akibatnya, sejumlah organ, termasuk otak, berisiko tidak memperoleh pasokan darah sesuai kebutuhannya.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Penurunan jumlah darah yang dipompa jantung dapat menimbulkan sejumlah keluhan. Gejala yang mungkin dirasakan antara lain:
- Mudah lelah
- Pusing
- Lemas
- Sesak napas
- Pingsan
Namun, denyut jantung di bawah 60 kali per menit tidak selalu menunjukkan bradiaritmia yang membutuhkan penanganan. Denyut yang lebih rendah dapat terjadi secara normal dalam kondisi tertentu, seperti saat tidur atau pada orang yang rutin berolahraga.
Diagnosis Tidak Cukup Berdasarkan Angka Denyut
Oleh sebab itu, diagnosis tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan angka denyut jantung. Dokter perlu melihat kondisi dan gejala yang dialami pasien, kemudian melakukan pemeriksaan yang diperlukan. Penilaian tersebut penting untuk membedakan denyut jantung yang masih normal dari gangguan irama yang memerlukan penanganan.
Pacemaker untuk Membantu Menjaga Irama Jantung
Pada jenis bradiaritmia tertentu, dokter dapat mempertimbangkan pemasangan alat pacu jantung atau pacemaker. Perangkat ini berfungsi membantu menjaga detak jantung agar tetap berada pada laju yang dibutuhkan tubuh.
Salah satu jenis pacemaker adalah leadless pacemaker. Berbeda dari pacemaker konvensional yang menggunakan generator dan kabel penghubung atau lead, perangkat ini merupakan alat satu bagian yang ditempatkan langsung di dalam jantung.
Leadless pacemaker memiliki ukuran kecil, yakni sekitar 3 hingga 4 sentimeter atau 1 hingga 1,5 inci. Bentuknya menyerupai silinder logam kecil dan ukurannya bahkan lebih kecil dibandingkan baterai AAA.
Cara Kerja Leadless Pacemaker
Perangkat tersebut dapat mendeteksi sinyal listrik alami dari jantung. Apabila impuls listrik alami tidak cukup sering untuk mempertahankan detak jantung yang sesuai, alat ini dapat memberikan impuls listrik tambahan.
Tujuan pemasangan pacemaker adalah membantu pasien memperoleh irama jantung yang memadai. Dengan demikian, pasien diharapkan dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari sesuai kondisi dan arahan dokter.
Hal yang Perlu Diperhatikan Pengguna Pacemaker
Penggunaan alat pacu jantung tidak berarti pasien harus menghentikan seluruh aktivitas. Meski demikian, pasien perlu memperhatikan kegiatan yang melibatkan medan magnet karena pacemaker sensitif terhadap medan tersebut.
Budi menyarankan agar pacemaker dijaga dengan jarak kurang lebih 30 sentimeter dari medan magnet. Informasi ini penting diperhatikan dalam aktivitas sehari-hari agar penggunaan perangkat tetap aman.
Pacemaker dan Pemeriksaan MRI
Pemeriksaan menggunakan MRI tetap dapat dilakukan pada pasien dengan jenis pacemaker tertentu. Namun, pemeriksaan tersebut tidak boleh dilakukan tanpa persiapan. Perangkat perlu diatur terlebih dahulu melalui prosedur yang sesuai agar pemeriksaan dapat berlangsung dengan aman.
Karena itu, pasien yang menggunakan pacemaker dan akan menjalani MRI perlu memberi tahu dokter atau petugas radiologi mengenai perangkat yang terpasang. Tim medis kemudian dapat melakukan pengaturan sesuai prosedur sebelum pemeriksaan dimulai.
Penanganan Disesuaikan dengan Kondisi Pasien
Penanganan bradiaritmia tidak selalu sama pada setiap pasien. Dokter akan mempertimbangkan penyebab, gejala, kondisi jantung, serta kebutuhan masing-masing pasien sebelum menentukan apakah alat pacu jantung diperlukan.
Dengan demikian, detak jantung yang lambat sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai kondisi normal ataupun penyakit. Jika disertai pusing, mudah lelah, lemas, sesak napas, atau pingsan, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Kesimpulan
Bradiaritmia adalah gangguan irama jantung yang dapat menyebabkan detak jantung menjadi lebih lambat dari normal dan berpotensi mengurangi pasokan darah ke tubuh. Meski denyut rendah bisa terjadi secara normal saat tidur atau pada orang yang rutin berolahraga, keluhan tertentu tetap perlu diperhatikan.
Pemeriksaan oleh dokter menjadi langkah penting untuk menentukan penyebab dan kebutuhan penanganan. Pada kondisi tertentu, pacemaker, termasuk jenis leadless pacemaker, dapat digunakan untuk membantu menjaga irama jantung. Ke depan, kewaspadaan terhadap gejala dan penyampaian informasi yang lengkap kepada tenaga medis akan tetap menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan pasien, termasuk ketika menjalani pemeriksaan MRI.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment