Gus Hans Harap Pemilihan Ketua Umum PBNU Berlangsung Tanpa Intervensi

Wakil Rektor Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Jombang, H.M. Zahrul Azhar As’ad atau yang dikenal sebagai Gus Hans, berharap pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berlangsung secara independen dan bebas dari intervensi. Harapan tersebut secara khusus disampaikan kepada para kiai yang tergabung dalam Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

Gus Hans menilai anggota AHWA memiliki peran penting dalam menentukan arah kepemimpinan PBNU. Karena itu, ia berharap para kiai dapat menggunakan pertimbangan yang objektif serta hati nurani ketika memilih calon ketua umum. Pesan tersebut disampaikan setelah Muktamar ke-35 NU menyepakati perubahan mekanisme pemilihan ketua umum melalui pemungutan suara.

Perubahan Mekanisme Pemilihan Ketua Umum PBNU

Perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU telah mendapatkan persetujuan mayoritas muktamirin. Dari total 552 muktamirin, sebanyak 401 suara mendukung perubahan mekanisme pemilihan. Sementara itu, 150 suara menghendaki agar mekanisme lama tetap dipertahankan. Satu suara lainnya tercatat abstain atau tidak sah.

Berdasarkan hasil tersebut, opsi perubahan mekanisme memperoleh sekitar 73 persen suara. Adapun pilihan untuk mempertahankan mekanisme lama mendapat sekitar 27 persen suara. Keputusan ini kemudian menjadi dasar bagi pelaksanaan pemilihan ketua umum dengan mekanisme pemungutan suara.

Gus Hans mengingatkan bahwa perubahan sistem tersebut perlu diikuti dengan sikap objektif dari para kiai AHWA. Menurut dia, mekanisme baru tidak akan bermakna apabila proses pemilihan masih dipengaruhi kepentingan tertentu atau tekanan dari pihak luar.

AHWA Diminta Menilai Rekam Jejak Kandidat

Gus Hans menilai para kiai AHWA perlu mempertimbangkan rekam jejak setiap calon ketua umum. Penilaian tersebut, kata dia, dapat mencakup peran dan kontribusi kandidat selama berada di dalam organisasi, termasuk melihat pihak yang selama ini menjadi sumber persoalan maupun mereka yang mampu menyelesaikan berbagai masalah.

Pertimbangan terhadap rekam jejak dinilai penting agar proses pemilihan tidak lagi dibayangi konflik sebelumnya. Gus Hans berharap para kiai dapat menentukan pilihan dengan jernih sehingga kepemimpinan PBNU ke depan mampu membawa organisasi berjalan lebih baik.

“Saya berharap AHWA benar-benar bisa memilih tanpa ada intervensi dan menggunakan batin nurani yang dimiliki,” ujar Gus Hans dalam keterangannya di Jombang, Minggu (30/8), seperti dilansir Antara.

Ia juga berharap proses pemilihan dapat berlangsung tanpa menyisakan persoalan dari konflik yang sebelumnya terjadi. Dengan demikian, siapa pun yang terpilih nantinya dapat memperoleh legitimasi dan menjalankan kepemimpinan tanpa terbebani perselisihan lama.

Belum Ada Kandidat yang Dianggap Paling Kuat

Gus Hans menyebut peluang seluruh kandidat untuk terpilih masih terbuka. Menurut dia, belum ada calon yang dapat mengklaim dirinya sebagai kandidat paling kuat karena komunikasi dengan para kiai AHWA masih terus berlangsung.

Persaingan, lanjutnya, masih sangat dinamis. Kekuatan masing-masing calon dapat berubah seiring komunikasi yang dilakukan menjelang pemilihan. Karena itu, ia menilai belum tepat apabila ada pihak yang menyatakan telah unggul sebelum keputusan akhir dibuat.

“Semua masih terbuka. Belum bisa mengklaim siapa yang paling kuat. Semuanya tergantung komunikasi last minute kepada para kiai yang ada di AHWA,” kata Gus Hans.

Waspadai Dugaan Politik Uang dan Intimidasi

Selain berharap tidak ada intervensi, Gus Hans juga mengingatkan bahwa perubahan mekanisme pemilihan tidak secara otomatis menghilangkan kemungkinan terjadinya politik uang maupun intimidasi. Namun, ia menegaskan bahwa hal tersebut masih sebatas dugaan dan belum dapat disebut sebagai fakta.

Ia juga membuka kemungkinan bahwa perubahan mekanisme pemilihan merupakan hasil pengondisian dari pihak tertentu. Menurutnya, pihak yang merasa memiliki peluang menang bisa saja berupaya memanfaatkan sistem baru tersebut.

Meski demikian, Gus Hans tidak secara langsung menyebut kondisi itu sebagai manipulasi. Ia memilih menggunakan istilah “pengondisian” untuk menggambarkan kemungkinan adanya upaya tertentu dalam proses perubahan mekanisme pemilihan.

“Saya tidak berani mengatakan bahwa ini adalah bagian dari manipulasi, tidak, tapi lebih tepatnya adalah hasil dari sebuah pengondisian,” tuturnya.

Kesimpulan

Gus Hans berharap pemilihan Ketua Umum PBNU dapat berlangsung secara independen, objektif, dan bebas dari intervensi. Para kiai AHWA dinilai perlu menggunakan pertimbangan berdasarkan rekam jejak calon serta hati nurani, bukan karena tekanan atau kepentingan tertentu.

Dengan masih terbukanya peluang bagi seluruh kandidat, komunikasi menjelang pemilihan diperkirakan tetap menjadi faktor penting. Ke depan, perhatian publik akan tertuju pada bagaimana AHWA menjalankan perannya serta memastikan proses pemilihan berlangsung jujur, bermartabat, dan mampu menghasilkan kepemimpinan PBNU yang diterima seluruh pihak.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment