Kasus Asma dan ISPA di Malaysia Melonjak akibat Kabut Asap Karhutla Indonesia

Malaysia mencatat lonjakan kasus asma dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) atau upper respiratory tract infection (URTI) setelah kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah negara tersebut. Kabut asap itu merupakan dampak kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan, Indonesia.

Menteri Kesehatan Malaysia Dzulkefly Ahmad menyampaikan bahwa peningkatan kasus tersebut terpantau melalui sistem pengawasan sentinel Kementerian Kesehatan Malaysia. Berdasarkan data itu, kasus asma meningkat hingga 259 persen, sedangkan kasus URTI bertambah 124 persen.

Di tengah peningkatan gangguan pernapasan, kasus konjungtivitis justru mengalami penurunan. Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat terlihat paling jelas pada penyakit yang berkaitan dengan saluran pernapasan.

Kasus URTI dan Asma Mengalami Peningkatan

Dzulkefly mengatakan, kasus URTI menjadi gangguan kesehatan dengan jumlah paling tinggi. Tercatat sebanyak 3.674 kasus URTI, meningkat dibandingkan angka sebelumnya yang berada di level 1.637 kasus.

Sementara itu, jumlah kasus asma mencapai 219 kasus. Angka tersebut naik signifikan dari sebelumnya yang hanya tercatat sebanyak 61 kasus. Jika dibandingkan dengan data sebelumnya, peningkatan ini menunjukkan adanya tekanan serius terhadap kesehatan pernapasan masyarakat selama kabut asap berlangsung.

“Kasus infeksi saluran pernapasan atas (URTI) tercatat paling tinggi yaitu 3.674 kasus, meningkat dari 1.637 kasus, sementara kasus asma mencapai 219 kasus dibandingkan dengan 61 kasus,” kata Dzulkefly, seperti dikutip The Star.

Kasus Konjungtivitis Menurun

Selain menyampaikan kenaikan kasus asma dan URTI, Menteri Kesehatan Malaysia juga menjelaskan bahwa kasus konjungtivitis mengalami penurunan. Jumlah kasus tersebut turun menjadi 146 kasus dari sebelumnya 157 kasus atau berkurang sekitar tujuh persen.

Data itu disampaikan Dzulkefly saat menghadiri kegiatan di Kuala Selangor Wellness Hub dan program Santuni Komuniti Minda Sejahtera (K-MindSet) pada Minggu, 23 Agustus.

Imbauan Kementerian Kesehatan Malaysia

Menanggapi kondisi kabut asap, Dzulkefly meminta masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan. Imbauan tersebut terutama ditujukan kepada warga yang memiliki riwayat asma dan gangguan pernapasan lainnya karena paparan udara berkabut dapat memperburuk kondisi kesehatan.

Masyarakat juga diminta memastikan kebutuhan cairan tubuh tetap terpenuhi, menghindari paparan kabut asap yang tidak perlu, serta mengikuti pedoman yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan Malaysia.

“Pastikan asupan cairan mencukupi, hindari paparan yang tidak perlu, dan ikuti pedoman yang dikeluarkan oleh kementerian,” ujar Dzulkefly.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar segera memeriksakan diri dan mencari pengobatan apabila mengalami gejala tertentu. Langkah tersebut dinilai penting agar gangguan kesehatan dapat segera ditangani.

Sejumlah Wilayah Malaysia Masuk Kategori Tak Sehat

Kabut asap turut berdampak pada kualitas udara di sejumlah wilayah Malaysia. Berdasarkan Indeks Polutan Udara (API) pada Minggu pukul 08.00, beberapa daerah tercatat berada dalam kategori tidak sehat.

Daftar Pembacaan API Tertinggi

  • Serian, Sarawak: 197
  • Kuching: 185
  • Sri Aman: 178
  • Samarahan: 176
  • Sarikei: 128

Indeks Polusi Udara Malaysia menetapkan angka 0 hingga 50 sebagai kualitas udara sehat. Angka 51 hingga 100 termasuk kategori sedang, sedangkan 101 hingga 200 dikategorikan tidak sehat. Selanjutnya, angka 201 hingga 300 masuk kategori sangat tidak sehat dan angka di atas 300 diklasifikasikan sebagai kondisi berbahaya.

Indonesia Kerahkan Berbagai Upaya untuk Atasi Karhutla

Kabut asap yang menerjang sejumlah wilayah Malaysia berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. Untuk mengatasi karhutla, pihak berwenang Indonesia mengerahkan berbagai unsur, mulai dari pemadam kebakaran, badan penanggulangan bencana, militer hingga kepolisian.

Seluruh unsur tersebut bekerja sama untuk memadamkan kebakaran yang menjadi sumber kabut asap. Selain upaya pemadaman langsung, Indonesia juga menjalankan operasi modifikasi cuaca atau OMC untuk mengondisikan awan agar hujan dapat turun.

Kementerian Lingkungan Hidup turut mengeluarkan instruksi kepada pemerintah daerah. Instruksi itu mencakup pelaksanaan aksi pencegahan secara masif, intensifikasi upaya penanganan, patroli gabungan, serta pemantauan ketat terhadap tinggi muka air tanah gambut.

Langkah lainnya meliputi pembasahan lahan yang rawan terbakar dan pemantauan sekat kanal. Berbagai upaya tersebut diarahkan untuk mengendalikan kebakaran sekaligus mencegah meluasnya dampak kabut asap ke wilayah lain.

Kesimpulan

Lonjakan kasus asma dan URTI di Malaysia menjadi dampak kesehatan yang terlihat setelah kabut asap akibat karhutla di Indonesia menyebar ke sejumlah wilayah. Kasus URTI meningkat dari 1.637 menjadi 3.674 kasus, sedangkan kasus asma naik dari 61 menjadi 219 kasus. Di sisi lain, kasus konjungtivitis turun dari 157 menjadi 146 kasus.

Dengan sejumlah wilayah Malaysia berada dalam kategori kualitas udara tidak sehat, masyarakat perlu membatasi aktivitas di luar ruangan, menjaga asupan cairan, mengikuti pedoman kesehatan, dan segera mencari pengobatan ketika mengalami gejala. Ke depan, pengendalian karhutla dan pemantauan kualitas udara tetap menjadi hal penting untuk mengurangi dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment