Kekeringan di Jawa Timur Meluas, 24 Kabupaten/Kota Tetapkan Status Darurat

Jawa Timur menghadapi krisis kekeringan yang semakin meluas. Berdasarkan keterangan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, Gatot Soebroto, sebanyak 24 kabupaten/kota telah mengusulkan atau menetapkan status siaga darurat maupun tanggap darurat kekeringan.

Dari total 38 kabupaten/kota di Jawa Timur, 20 kabupaten di antaranya telah menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat di wilayah terdampak. Kondisi paling serius tercatat terjadi di sejumlah daerah di Pulau Madura, khususnya Bangkalan, Sumenep, dan Pamekasan.

24 Kabupaten/Kota Tetapkan Status Darurat Kekeringan

Gatot Soebroto mengatakan, hingga Senin (7/9), jumlah daerah yang menetapkan status siaga darurat maupun tanggap darurat kekeringan masih mencapai 24 kabupaten/kota. Status tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk melakukan penanganan terhadap dampak kekeringan di wilayah masing-masing.

“Untuk kekeringan, hingga hari ini masih sama. Jumlah yang mengusulkan dan mengeluarkan status, baik itu siaga darurat maupun tanggap darurat, itu ada sebanyak 24 kabupaten/kota,” kata Gatot.

Enam daerah telah menetapkan status tanggap darurat kekeringan. Daerah tersebut meliputi Kabupaten Lumajang, Pasuruan, Malang, Mojokerto, Situbondo, dan Sumenep.

Sementara itu, 18 daerah lainnya menetapkan status siaga darurat. Daerah tersebut terdiri atas Bondowoso, Lamongan, Banyuwangi, Bangkalan, Blitar, Trenggalek, Gresik, Jember, Sampang, Tulungagung, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, Kota Batu, Jombang, Bojonegoro, Pamekasan, dan Probolinggo.

20 Kabupaten Mulai Salurkan Bantuan Air Bersih

Dari 24 daerah yang telah mengeluarkan status darurat kekeringan, sebanyak 20 kabupaten telah mulai menyalurkan bantuan air bersih. Bantuan tersebut diberikan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga yang terdampak kekurangan air.

Menurut Gatot, penyaluran air bersih menjadi salah satu langkah utama dalam menangani dampak kekeringan. BPBD Jawa Timur juga memberikan perhatian khusus kepada wilayah Madura yang dinilai mengalami dampak paling parah.

Bantuan Diprioritaskan ke Wilayah Madura

Bangkalan, Sumenep, dan Pamekasan menjadi tiga daerah yang mendapat perhatian BPBD Jawa Timur. Untuk membantu masyarakat di wilayah tersebut, BPBD telah menyalurkan sebanyak 5.410 rit air.

Selain distribusi air bersih, BPBD juga menyiapkan sekitar 1.400 tandon untuk mendukung penampungan air di lokasi terdampak. Bantuan lain yang disiapkan meliputi tandon lipat dan terpal.

“Bangkalan dan Sumenep, serta Pamekasan ini yang menjadi perhatian kami, dan kami pun sudah menurunkan beberapa bantuan ke wilayah tersebut dengan jumlah bantuan ada 5.410 rit air. Lalu ada kurang lebih 1.400 tandon yang kita siapkan. Lalu ada tandon lipat dan juga terpal,” ujar Gatot.

Operasi Modifikasi Cuaca Turut Dilakukan

Selain menyalurkan air bersih dan menyiapkan sarana penampungan, BPBD Jawa Timur juga mengandalkan operasi modifikasi cuaca atau OMC sebagai salah satu upaya penanganan kekeringan.

OMC tidak hanya ditujukan untuk membantu mengatasi kekurangan air. Upaya tersebut juga dilakukan untuk membasahi sejumlah kawasan gunung dan hutan yang dinilai rentan mengalami kebakaran.

Gatot menyebut operasi modifikasi cuaca telah digelar pada tahap awal. Namun, pelaksanaannya tidak dapat dilakukan secara sembarangan karena membutuhkan kondisi atmosfer yang mendukung.

OMC Bergantung pada Potensi Awan Hujan

Menurut Gatot, OMC hanya dapat dilakukan apabila terdapat potensi awan hujan di wilayah sasaran. Tanpa keberadaan awan hujan, operasi tersebut tidak mungkin dijalankan secara efektif.

Karena itu, BPBD Jawa Timur terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Koordinasi dilakukan untuk mengetahui pergerakan awan serta arah angin sebelum menentukan wilayah yang dinilai sesuai untuk pelaksanaan OMC.

“OMC dilakukan apabila sudah dirasa ada potensi awan hujan. Kalau tanpa awan hujan, tidak mungkin dilakukan OMC. Sehingga terus berkoordinasi dengan BMKG juga untuk mengetahui apakah pergerakan awan dan anginnya menuju ke suatu wilayah yang dirasa pantas untuk dilakukan OMC, baru dilakukan OMC,” jelasnya.

Penanganan Kekeringan Masih Berlanjut

Meluasnya status darurat kekeringan di Jawa Timur menunjukkan bahwa kebutuhan air bersih masih menjadi perhatian utama di sejumlah daerah. Pemerintah daerah bersama BPBD terus menyalurkan bantuan kepada wilayah yang terdampak, terutama daerah yang telah menetapkan status siaga darurat maupun tanggap darurat.

Ke depan, penanganan kekeringan akan tetap bergantung pada distribusi air bersih, kesiapan sarana penampungan, serta pemantauan kondisi cuaca. Operasi modifikasi cuaca juga akan dilakukan dengan mempertimbangkan potensi awan hujan dan arah pergerakan angin berdasarkan koordinasi dengan BMKG.

Dengan 24 kabupaten/kota berstatus darurat kekeringan dan 20 kabupaten telah menyalurkan air bersih, respons cepat serta koordinasi antarlembaga menjadi bagian penting dalam menghadapi krisis kekeringan di Jawa Timur.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment