Kekeringan Ekstrem Meluas di Bali, 529 KK Terdampak dan 694,06 Hektare Sawah Berisiko

Denpasar – Dampak kekeringan ekstrem meluas di sejumlah wilayah Provinsi Bali selama musim kemarau 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali mencatat sebanyak 529 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan yang tersebar di empat kabupaten, yakni Buleleng, Jembrana, Karangasem, dan Klungkung.

Kepala UPTD Pengendalian Bencana Daerah BPBD Provinsi Bali, I Wayan Suryawan, mengatakan kondisi musim kemarau tahun ini perlu menjadi perhatian bersama. Berdasarkan perkembangan cuaca dan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau 2026 diperkirakan berlangsung lebih panjang, lebih kering, serta memiliki suhu yang relatif lebih tinggi dibandingkan kondisi normal di sejumlah wilayah.

Situasi tersebut tidak hanya meningkatkan risiko kekurangan air, tetapi juga berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan, kebakaran di kawasan permukiman, serta kebakaran pada lokasi pengelolaan sampah. Karena itu, BPBD Bali bersama pemerintah kabupaten dan kota terus meningkatkan pemantauan serta kesiapsiagaan di wilayah yang berpotensi terdampak.

Empat Kabupaten Terdampak Kekeringan

BPBD Provinsi Bali mencatat kejadian kekeringan berlangsung sejak 11 April hingga 3 September 2026. Dalam periode tersebut, sebanyak 529 KK terdampak di 15 desa atau kelurahan yang tersebar di empat kabupaten.

Wilayah terdampak di Buleleng

Di Kabupaten Buleleng, kekeringan berdampak pada Desa Sinabun, Desa Madenan, dan Desa Menyali. Wilayah tersebut menjadi bagian dari sebaran lokasi yang mengalami dampak kekeringan selama musim kemarau berlangsung.

Wilayah terdampak di Jembrana

Di Kabupaten Jembrana, wilayah yang terdampak meliputi Kelurahan Pendem, Desa Asahduren, Desa Pergung, Kelurahan Bale Agung, Desa Berangbang, Desa Yeh Embang Kauh, Desa Tukadaya, dan Desa Manistutu. Jembrana juga menjadi wilayah dengan distribusi air bersih terbesar hingga 3 September 2026.

Wilayah terdampak di Karangasem dan Klungkung

Sementara itu, di Kabupaten Karangasem, kekeringan tercatat terjadi di Desa Baturinggit, Desa Tianyar Timur, dan Desa Tianyar. Adapun di Kabupaten Klungkung, wilayah yang terdampak berada di Desa Pejukutan.

Dampak Kekeringan terhadap Lahan Pertanian

Kekeringan juga memberikan dampak terhadap sektor pertanian. BPBD mencatat lahan pertanian yang terdampak mencapai 79,95 hektare di Kabupaten Jembrana dan 108,60 hektare di Kabupaten Buleleng.

Selain lahan yang telah terdampak, terdapat potensi kekeringan pada 694,06 hektare sawah dari total 64.704 hektare lahan sawah di Bali. Data tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian perlu menjadi salah satu perhatian utama dalam menghadapi kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang dan kering.

Distribusi Air Bersih Capai 823.200 Liter

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak, distribusi air bersih telah dilakukan hingga 3 September 2026. Total air bersih yang disalurkan mencapai 823.200 liter.

Rinciannya, Kabupaten Jembrana menerima distribusi sebanyak 450.200 liter, Buleleng sebanyak 270.000 liter, Karangasem sebanyak 65.000 liter, dan Klungkung sebanyak 38.000 liter. Penyaluran tersebut menjadi salah satu langkah penanganan bagi masyarakat yang mengalami kesulitan memperoleh air selama musim kemarau.

BPBD Perkuat Kesiapsiagaan

I Wayan Suryawan menyatakan bahwa penguatan kesiapsiagaan ke depan perlu diarahkan pada ketersediaan dan perlindungan sumber air. Selain itu, kapasitas infrastruktur penyimpanan serta distribusi air juga perlu ditingkatkan untuk menghadapi kemungkinan meluasnya dampak kekeringan.

BPBD juga menekankan pentingnya penguatan sistem pemantauan dan koordinasi lintas sektor, terutama di wilayah yang memiliki potensi terdampak kekeringan dan kebakaran. Upaya tersebut perlu dilakukan secara berkelanjutan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat ketika kondisi memburuk.

Di tengah meningkatnya risiko kebakaran, masyarakat juga diingatkan untuk tidak membakar sampah secara sembarangan atau tanpa pengawasan. Imbauan ini menjadi penting karena kondisi kemarau yang lebih kering dan suhu yang relatif tinggi dapat meningkatkan potensi penyebaran api.

Kesimpulan

Kekeringan ekstrem selama musim kemarau 2026 telah berdampak pada 529 KK di 15 desa atau kelurahan yang tersebar di Buleleng, Jembrana, Karangasem, dan Klungkung. Selain mengganggu kebutuhan masyarakat, kekeringan juga berdampak terhadap lahan pertanian serta mengancam ratusan hektare sawah lainnya.

Dengan potensi musim kemarau yang lebih panjang, kering, dan panas, penguatan perlindungan sumber air, penyediaan infrastruktur distribusi, pemantauan, serta koordinasi lintas sektor menjadi langkah penting ke depan. Kesiapsiagaan pemerintah dan masyarakat juga diperlukan untuk mengurangi dampak kekeringan sekaligus mencegah terjadinya kebakaran.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment