Kemendikdasmen Siapkan 50 Tenda Kelas Darurat untuk Sekolah Terdampak Gempa di Flores

JAKARTA – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyiapkan 50 tenda ruang kelas darurat untuk mendukung keberlangsungan kegiatan belajar mengajar setelah gempa bumi mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus lalu. Tenda tersebut akan didistribusikan ke sejumlah wilayah terdampak di Pulau Flores.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan peserta didik tetap memperoleh layanan pendidikan, sekaligus menjaga keselamatan warga sekolah. Kemendikdasmen juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mempercepat pemulihan satuan pendidikan yang mengalami kerusakan akibat bencana.

Kemendikdasmen Siapkan 50 Tenda Kelas Darurat

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, pihaknya telah menyiapkan 50 tenda yang akan digunakan sebagai ruang kelas darurat. Fasilitas tersebut ditujukan bagi sekolah-sekolah yang ruang kelasnya terdampak gempa dan belum dapat digunakan secara normal.

Menurut Mu’ti, keselamatan warga sekolah menjadi perhatian utama dalam proses penanganan pascagempa. Ia menegaskan bahwa pemulihan pendidikan akan dilakukan bersama pemerintah daerah hingga kegiatan pembelajaran dapat berlangsung kembali dalam kondisi aman dan nyaman.

“Keselamatan warga sekolah menjadi prioritas, dan proses pemulihan pendidikan akan kami kawal bersama pemerintah daerah hingga pembelajaran kembali berlangsung dengan aman dan nyaman,” kata Mu’ti dalam keterangannya, Jumat (4/9).

253 Satuan Pendidikan Terdampak Gempa

Berdasarkan data Kemendikdasmen per 16 Agustus, sebanyak 253 satuan pendidikan tercatat terdampak gempa bumi. Jumlah tersebut mencakup berbagai jenjang pendidikan yang berada di bawah kewenangan pemerintah kabupaten maupun provinsi.

Rincian Satuan Pendidikan yang Terdampak

Sebanyak 199 satuan pendidikan merupakan jenjang PAUD/TK, SD, SMP, dan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) yang berada dalam kewenangan kabupaten. Sementara itu, 54 satuan pendidikan lainnya terdiri atas jenjang SMA, SMK, dan SLB yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi.

Penanganan dilakukan di tujuh kabupaten yang berada di Pulau Flores. Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Ngada, Nagekeo, Ende, Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, dan Sikka.

Manggarai Timur Catat Dampak Terparah

Hasil pendataan Kemendikdasmen menunjukkan bahwa Kabupaten Manggarai Timur menjadi wilayah dengan kerusakan pendidikan paling parah. Dari total 104 satuan pendidikan yang terdampak di daerah tersebut, sebanyak 51 satuan pendidikan mengalami dampak pada jenjang SD dan SMP/MTs.

Rinciannya, terdapat 33 SD dan 18 SMP/MTs yang terdampak. Selain Manggarai Timur, Kabupaten Manggarai Barat juga mencatat jumlah satuan pendidikan terdampak yang cukup besar, yakni sebanyak 52 satuan pendidikan.

Gempa tersebut tidak hanya menimbulkan kerusakan pada bangunan sekolah, tetapi juga menyebabkan korban jiwa dari lingkungan satuan pendidikan. Abdul Mu’ti menyebut dua murid dan satu guru menjadi korban dalam musibah tersebut.

Pembelajaran Disesuaikan dengan Kondisi Sekolah

Kemendikdasmen mengarahkan sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan untuk menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar di ruang kelas yang terdampak. Kebijakan ini ditempuh untuk mencegah risiko keselamatan bagi peserta didik, guru, dan warga sekolah lainnya.

Pelaksanaan pembelajaran selanjutnya dapat disesuaikan dengan kondisi setiap daerah. Sekolah dapat memindahkan kegiatan belajar ke ruangan yang masih aman, menggunakan tenda belajar, atau meliburkan kegiatan untuk sementara waktu apabila situasi belum memungkinkan.

Dukungan Psikososial dan Konektivitas Disiapkan

Selain menyediakan ruang belajar darurat, Kemendikdasmen menyiapkan dukungan psikososial bagi warga sekolah yang terdampak bencana. Layanan tersebut akan dilakukan melalui kerja sama dengan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI).

Layanan psikososial akan mulai bergerak setelah tim pendahuluan memberikan konfirmasi mengenai kondisi lapangan. Dukungan ini menjadi bagian dari upaya pemulihan pendidikan, terutama bagi murid dan guru yang menghadapi dampak bencana secara langsung.

Kemendikdasmen juga mendorong pembersihan sekolah yang masih aman digunakan. Selain itu, kementerian akan mengoordinasikan pemanfaatan anggaran belanja tambahan untuk memenuhi kebutuhan sarana serta alat belajar di wilayah terdampak.

Untuk daerah yang mengalami gangguan listrik dan jaringan komunikasi, Kemendikdasmen menyiapkan dukungan konektivitas melalui Starlink. Fasilitas tersebut diharapkan dapat membantu mendukung layanan pendidikan ketika infrastruktur komunikasi belum berfungsi secara optimal.

Tim Lintas Direktorat Turun ke Lapangan

Tim lintas direktorat di lingkungan Kemendikdasmen mulai bergerak ke wilayah terdampak. Tim tersebut bertugas mempercepat proses asesmen, melakukan verifikasi kerusakan, serta mengoordinasikan langkah pemulihan layanan pendidikan bersama pihak terkait.

Proses pendataan dan verifikasi diperlukan agar bantuan yang diberikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing satuan pendidikan. Dengan demikian, sekolah yang terdampak dapat memperoleh dukungan berupa ruang belajar, sarana pendidikan, layanan psikososial, maupun konektivitas sesuai kondisi lapangan.

Kesimpulan

Kemendikdasmen menyiapkan 50 tenda kelas darurat untuk menjaga kegiatan belajar mengajar tetap berjalan di sejumlah wilayah terdampak gempa di Pulau Flores. Dari 253 satuan pendidikan yang terdampak, Kabupaten Manggarai Timur tercatat mengalami dampak paling parah, disusul Kabupaten Manggarai Barat.

Ke depan, pemulihan pendidikan akan dilakukan melalui koordinasi antara Kemendikdasmen dan pemerintah daerah. Penanganan tersebut mencakup penyediaan ruang belajar alternatif, pembersihan sekolah, pemenuhan sarana belajar, dukungan psikososial, serta penyediaan konektivitas bagi wilayah yang mengalami gangguan listrik dan komunikasi. Seluruh langkah tersebut diarahkan agar layanan pendidikan dapat kembali berlangsung secara aman dan nyaman.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment