Kondisi Warga NTT Pascagempa: Tetap Ramah dan Ceria di Tengah Pengungsian
JAKARTA – Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Muhammad Kholid, mengungkap kondisi terbaru warga Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah wilayah tersebut diguncang gempa pada pertengahan Agustus lalu. Kholid menyampaikan bahwa sebagian warga masih berada di lokasi pengungsian dan menghadapi trauma akibat bencana.
Informasi tersebut disampaikan setelah Kholid bersama pihaknya meninjau sejumlah titik pengungsian warga pada Sabtu (5/8). Kunjungan itu dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi masyarakat sekaligus menyalurkan bantuan kepada para korban gempa.
Dalam kunjungan tersebut, Kholid menyaksikan langsung situasi warga yang tinggal di tenda-tenda pengungsian. Meski harus menghadapi kondisi sulit dan masih menyimpan trauma, masyarakat tetap menunjukkan sikap ramah kepada para tamu yang datang.
Meninjau Lokasi Pengungsian Warga
Kholid mengatakan, rombongannya tiba di Gereja Paroki Fransiskus Xaverius Poka sejak malam sebelum kunjungan. Di lokasi tersebut, terdapat tenda-tenda yang digunakan sebagai tempat pengungsian warga terdampak gempa.
“Sejak tadi malam kami tiba di Gereja Paroki Fransiskus Xaverius Poka. Di situ berdiri tenda-tenda pengungsian,” kata Kholid dalam keterangannya, Minggu (6/9).
Peninjauan dilakukan sebagai upaya untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi terkini masyarakat setelah bencana. Selain melihat keadaan para pengungsi, kunjungan tersebut juga disertai penyaluran bantuan bagi warga yang terdampak.
Warga Tetap Menyambut dengan Suka Cita
Menurut Kholid, situasi pengungsian tidak menghilangkan keramahan warga NTT. Meskipun masih mengalami trauma akibat gempa, warga tetap menyambut kedatangan para tamu dengan suka cita.
Kholid menuturkan bahwa pihaknya sebenarnya telah meminta agar kedatangan mereka tidak disambut dengan acara tertentu. Rombongan hanya bermaksud melihat kondisi warga secara langsung serta mengantarkan bantuan yang dibutuhkan para korban.
Namun, permintaan tersebut tetap tidak menghalangi warga untuk memberikan sambutan. Masyarakat tetap berupaya menyambut rombongan yang datang, meskipun mereka tengah berada dalam situasi sulit di pengungsian.
“Kami sudah minta untuk tidak disambut dengan acara-acara. Kami hanya ingin datang melihat dan mengantarkan bantuan. Tapi mereka tetap memaksa untuk menyambut,” kata Kholid.
Keramahan yang Tetap Terjaga di Tengah Bencana
Kholid menilai sikap warga tersebut mencerminkan kuatnya nilai budaya masyarakat NTT dalam memuliakan tamu. Keramahan dan keceriaan tetap ditunjukkan kepada orang-orang yang datang, meskipun warga masih berhadapan dengan dampak psikologis dan kondisi pengungsian akibat gempa.
Bagi masyarakat setempat, menyambut tamu merupakan bagian penting dari nilai budaya yang harus tetap dijaga. Karena itu, situasi bencana tidak serta-merta membuat tradisi tersebut hilang.
“Karena bagi mereka, menyambut tamu adalah kemuliaan dari budaya yang tidak boleh lepas,” ujar Kholid.
Potret Keteguhan Masyarakat NTT
Kondisi warga yang disampaikan Kholid memperlihatkan adanya keteguhan di tengah situasi yang penuh tantangan. Di satu sisi, masyarakat masih harus menjalani kehidupan di tenda-tenda pengungsian dan menghadapi trauma pascagempa. Di sisi lain, mereka tetap berusaha menunjukkan keramahan kepada para tamu.
Sikap tersebut menjadi gambaran mengenai kuatnya nilai sosial dan budaya yang hidup di tengah masyarakat NTT. Keramahan warga tidak hanya terlihat dalam sambutan, tetapi juga dalam cara mereka menjaga keceriaan meskipun sedang berada dalam kondisi sulit.
Kesimpulan
Peninjauan yang dilakukan Muhammad Kholid di sejumlah titik pengungsian menunjukkan bahwa warga NTT masih berada dalam masa pemulihan setelah gempa yang mengguncang wilayah tersebut pada pertengahan Agustus. Sebagian warga masih tinggal di tenda pengungsian dan menyimpan trauma akibat bencana.
Meski demikian, masyarakat tetap menyambut kedatangan tamu dengan ramah dan suka cita. Bagi mereka, memuliakan tamu merupakan bagian dari budaya yang harus dipertahankan dalam keadaan apa pun. Ke depan, kondisi warga di pengungsian tetap membutuhkan perhatian dan kepedulian agar proses pemulihan dapat terus berjalan, tanpa menghilangkan kekuatan nilai budaya yang menjadi ciri khas masyarakat NTT.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment