Muktamar ke-35 NU Rampung Tertib, Gus Ipul Pastikan Tak Ada Peserta Susupan
Jakarta – Pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, dinyatakan rampung dengan baik. Ketua Panitia Pelaksana Muktamar ke-35 NU, Saifullah Yusuf alias Gus Ipul, menyampaikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan berlangsung tertib dan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
Salah satu hal yang menjadi perhatian Gus Ipul adalah proses kepesertaan dalam muktamar. Ia memastikan tidak terdapat peserta susupan dalam agenda organisasi terbesar NU tersebut. Pernyataan itu disampaikan Gus Ipul dalam konferensi pers di Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jakarta, Kamis (3/9).
Gus Ipul Pastikan Muktamar Berlangsung Tertib
Gus Ipul mengatakan penyelenggaraan Muktamar ke-35 NU berjalan sesuai aturan yang berlaku. Menurut dia, proses yang dilakukan panitia mampu memastikan pelaksanaan muktamar berlangsung teratur, termasuk dalam hal penetapan peserta.
“Penyelenggaraan muktamar kali ini tertib, sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ada. Pesertanya pun tidak ada susupan,” ujar Gus Ipul dalam konferensi pers tersebut.
Ia menjelaskan, kepesertaan Muktamar ke-35 NU diproses secara bertahap. Tahapan tersebut dimulai dari penerbitan surat keputusan atau SK, penyusunan daftar peserta sementara, hingga penetapan daftar peserta tetap.
Proses bertahap tersebut menjadi bagian dari tata kelola kepesertaan agar seluruh peserta yang hadir memiliki status yang jelas dan sesuai dengan ketentuan muktamar. Dengan demikian, pelaksanaan agenda organisasi dapat berlangsung secara tertib sejak awal hingga akhir.
Tata Kelola Muktamar Memanfaatkan Teknologi
Selain memastikan kepesertaan berjalan sesuai prosedur, panitia juga menerapkan tata kelola berbasis teknologi. Gus Ipul menyebut pelaksanaan Muktamar ke-35 NU memanfaatkan chip dan kecerdasan buatan.
Pemanfaatan teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya panitia dalam mengelola pelaksanaan muktamar. Teknologi digunakan untuk mendukung proses tata kelola kegiatan, termasuk dalam memastikan rangkaian agenda dapat berjalan sesuai ketentuan yang telah ditetapkan.
Gus Ipul turut menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh panitia yang telah terlibat dalam menyukseskan Muktamar ke-35 NU. Muktamar tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, pada 27 hingga 31 Agustus 2026.
Gus Kikin Terpilih sebagai Ketum PBNU
Muktamar ke-35 NU juga menghasilkan keputusan penting terkait pergantian pucuk kepemimpinan PBNU. KH Abdul Hakim Mahfudz alias Gus Kikin terpilih sebagai Ketua Umum PBNU untuk masa khidmah 2026-2031.
Dalam periode yang sama, Miftahul Achyar terpilih sebagai Rais Aam. Penetapan tersebut menjadi salah satu hasil utama dari rangkaian Muktamar ke-35 NU yang berlangsung selama lima hari.
Gus Kikin dipilih melalui mekanisme Ahlul Halli Wal Aqdi atau AHWA. Sebelum proses tersebut berlangsung, ia telah memperoleh restu tertulis dari Rais Aam terpilih. Dalam Sidang Pleno V Muktamar ke-35 NU, Gus Kikin juga meraih suara tertinggi dari para muktamirin.
Jumlah suara yang diperoleh Gus Kikin mencapai 472 suara. Perolehan tersebut menempatkannya di atas empat kandidat lain yang turut bersaing dalam proses pemilihan kepemimpinan PBNU.
Pengumuman Disampaikan Anggota AHWA
Keputusan mengenai terpilihnya Gus Kikin diumumkan secara langsung oleh anggota AHWA, KH Anwar Iskandar, bersama sejumlah kiai sepuh yang menjadi anggota majelis tersebut.
Gus Kikin dikenal sebagai pengasuh Pesantren Tebuireng. Ia dipercaya untuk meneruskan perjuangan KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah, yang meninggal dunia pada 2020.
Penutup
Rampungnya Muktamar ke-35 NU menandai berakhirnya salah satu agenda penting organisasi. Panitia menyatakan seluruh proses berlangsung tertib, mulai dari pengelolaan kepesertaan hingga penerapan tata kelola berbasis teknologi. Tidak adanya peserta susupan juga disebut sebagai salah satu indikator bahwa pelaksanaan muktamar berjalan sesuai ketentuan.
Di sisi lain, terpilihnya Gus Kikin sebagai Ketua Umum PBNU dan Miftahul Achyar sebagai Rais Aam menetapkan arah kepemimpinan NU untuk masa khidmah 2026-2031. Ke depan, hasil keputusan muktamar tersebut menjadi pijakan bagi kepemimpinan baru dalam melanjutkan perjuangan dan tata kelola organisasi.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment