Operator SPBU di Manggarai Tetap Melayani Warga Usai Gempa Magnitudo 7,7
Ruteng – Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu (15/8) sekitar pukul 05.46 WITA, meninggalkan trauma bagi banyak warga. Salah satunya Valentinus Jantur (39), warga Kampung Mando, Kelurahan Compang Carep, Ruteng, Kabupaten Manggarai.
Saat gempa terjadi, Valentinus sedang bersiap berangkat bekerja. Guncangan kuat membuatnya spontan menggendong anak dan berlari keluar rumah bersama keluarganya. Meskipun masih diliputi ketakutan, ia kembali bekerja sehari setelah gempa sebagai operator SPBU Mbaumuku 54.865.01, Ruteng.
Keputusan tersebut diambil karena Valentinus menyadari bahwa kebutuhan masyarakat terhadap bahan bakar minyak (BBM) tetap berjalan. Di tengah situasi pascabencana, masyarakat masih memerlukan layanan energi untuk mendukung mobilitas dan berbagai aktivitas sehari-hari.
Spontan Menyelamatkan Keluarga Saat Gempa
Valentinus mengenang detik-detik ketika gempa mengguncang wilayah Manggarai. Tanpa menunggu lama, ia bersama keluarga segera meninggalkan rumah demi mencari tempat yang lebih aman.
“Kami langsung keluar rumah, tidak pakai lama. Besar sekali guncangannya. Kami langsung menggendong anak, lari keluar rumah,” kenang Valentinus saat ditemui di kediamannya, Rabu (19/8).
Setelah gempa, Valentinus bersama keluarganya dan lima keluarga lain memilih tinggal sementara di dalam tenda yang didirikan di depan rumah. Langkah itu dilakukan karena mereka masih merasa khawatir untuk kembali beraktivitas di dalam rumah.
Rasa trauma masih dirasakan Valentinus dan keluarganya. Menurut dia, gempa tersebut merupakan guncangan terbesar dan paling parah yang pernah mereka alami. Bahkan, aktivitas sederhana di dalam rumah masih diiringi rasa takut.
“Gempa sekarang ini yang terbesar, yang paling parah. Kami masih takut, mau ke kamar mandi saja takut, masih trauma,” ujarnya.
Kembali Bertugas di SPBU Sehari Setelah Gempa
Di tengah kondisi keluarga yang belum sepenuhnya pulih, Valentinus kembali mengenakan seragam kerja sehari setelah gempa. Ia melanjutkan tugas sebagai operator di SPBU Mbaumuku 54.865.01, Ruteng, untuk melayani masyarakat yang juga sedang berusaha bangkit dari dampak bencana.
Bagi Valentinus, pelayanan di SPBU merupakan tanggung jawab yang harus tetap dijalankan. Ia memahami bahwa pasokan dan layanan BBM dibutuhkan masyarakat untuk mendukung kegiatan mereka setelah gempa.
“Sudah kewajiban melayani masyarakat. Tugas kami memang harus seperti itu, untuk melayani masyarakat terdampak,” kata Valentinus.
Dukungan Keluarga Menjadi Penguat
Keputusan Valentinus untuk kembali bekerja mendapat dukungan dari keluarganya. Ia memandang tanggung jawab terhadap pekerjaan dan keluarga sebagai dua hal yang harus dijalankan secara bersamaan.
“Keluarga mendukung. Harus melayani walaupun dalam keadaan begini. Ada tanggung jawab untuk keluarga dan anak,” tutur Valentinus.
Dukungan dari keluarga menjadi salah satu sumber semangat bagi Valentinus untuk tetap menjalankan tugas. Walaupun masih menghadapi rasa takut akibat gempa, ia berupaya hadir bagi masyarakat melalui pekerjaannya sebagai operator SPBU.
Pertamina Beri Bantuan kepada Operator Terdampak
Valentinus juga menyampaikan apresiasi atas bantuan yang diberikan Pertamina kepada para operator SPBU yang terdampak gempa. Menurut dia, perhatian tersebut membantu para operator dalam menjalani masa pemulihan sekaligus melanjutkan pelayanan kepada masyarakat.
“Kami juga mendapat bantuan dari Pertamina. Kami berterima kasih atas bantuan yang diberikan sehingga kami sebagai operator tetap bisa melayani dan bertugas,” ucapnya.
Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita, mengatakan bahwa operator SPBU memiliki peran penting sebagai garda terdepan dalam pelayanan energi. Mereka berinteraksi langsung dengan masyarakat, termasuk ketika wilayah tempat mereka bekerja sedang menghadapi bencana.
Menurut Arya, para operator tidak hanya menjalankan kewajiban pekerjaan. Pada saat yang sama, mereka juga menghadapi tantangan untuk memulihkan kondisi keluarga masing-masing setelah gempa.
“Kami turut prihatin atas kondisi yang dialami teman-teman operator dan keluarganya. Pertamina hadir memberikan bantuan, dukungan, dan semangat agar mereka dapat melewati masa pemulihan, sekaligus tetap menjalankan perannya dalam menjaga layanan energi bagi masyarakat,” pungkas Arya.
Dedikasi Operator Menjaga Layanan Energi
Kisah Valentinus menunjukkan bahwa pelayanan publik tetap memiliki peran penting dalam situasi bencana. Di balik operasional SPBU yang terus berjalan, terdapat para pekerja yang juga terdampak secara langsung bersama keluarga mereka.
Dengan dukungan keluarga dan bantuan Pertamina, Valentinus berusaha menjalankan tugas di tengah proses pemulihan. Dedikasinya menjadi bagian dari upaya menjaga agar kebutuhan energi masyarakat di wilayah terdampak tetap dapat dilayani.
Kesimpulan
Gempa bermagnitudo 7,7 di Manggarai membuat Valentinus Jantur dan keluarganya mengalami ketakutan serta harus tinggal sementara di tenda. Namun, sehari setelah bencana, ia kembali bekerja sebagai operator SPBU demi memenuhi kebutuhan energi masyarakat.
Sikap Valentinus memperlihatkan pentingnya peran pekerja layanan energi dalam mendukung aktivitas warga pascagempa. Ke depan, dukungan bagi para operator dan keluarganya tetap dibutuhkan agar mereka dapat melewati masa pemulihan sekaligus menjaga keberlanjutan pelayanan kepada masyarakat terdampak.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment