Pria Viral Diduga Lecehkan Penumpang di Bus JR Connexion Bogor Minta Maaf

Bogor – Fariz Maulana menyampaikan permintaan maaf setelah dirinya diduga melakukan pelecehan terhadap seorang penumpang perempuan di bus JR Connexion rute Juanda-Tamansari, Bogor. Dalam video yang beredar, Fariz mengaku khilaf, menyatakan penyesalan, dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya.

Kasus tersebut menjadi perhatian setelah rekaman video di dalam bus tersebar di media sosial. Video itu memperlihatkan seorang pria berkacamata hitam dan mengenakan kemeja merah duduk di samping penumpang perempuan. Pria tersebut kemudian dinarasikan melakukan tindakan tidak senonoh dengan modus berpura-pura tidur.

Fariz Sampaikan Permintaan Maaf

Dalam video permintaan maafnya, Fariz memperkenalkan diri dan menyampaikan penyesalan kepada perempuan yang duduk di sebelahnya saat berada di dalam bus jurusan Blok M-Bogor. Ia menyebut bus tersebut berangkat dari Jakarta sekitar pukul 17.45 WIB.

Fariz mengakui bahwa tindakannya merupakan kesalahan. Ia juga mengatakan bahwa kejadian tersebut menjadi pelajaran penting bagi dirinya. Selain meminta maaf kepada korban, Fariz menyatakan akan bertobat dan tidak mengulangi perbuatannya.

“Kejadian ini menjadi pembelajaran berharga bagi saya dan saya bertobat kepada Allah SWT,” ujar Fariz dalam video tersebut.

Pria yang mengenakan kemeja merah itu juga menyatakan kesiapannya untuk bertanggung jawab sesuai ketentuan hukum apabila kembali melakukan tindakan serupa terhadap korban maupun perempuan lainnya.

“Jika saya melakukan hal tersebut lagi, baik dengan beliau maupun kepada pihak lain, saya siap bertanggung jawab sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” katanya.

Diamankan di Kantor PJR Tol Jagorawi

Kepala Induk PJR Tol Jagorawi, Kompol Akhmad Jajuli, mengatakan Fariz diamankan di Kantor Induk PJR Jagorawi setelah dugaan pelecehan tersebut terjadi. Fariz kemudian dimintai keterangan terkait peristiwa yang berlangsung di dalam bus.

Menurut Jajuli, Fariz sempat mengelak dan belum langsung mengakui perbuatannya. Namun, setelah menjalani interogasi, Fariz akhirnya memberikan pengakuan dan membuat surat pernyataan.

Jajuli menjelaskan bahwa berdasarkan pengakuan Fariz, tindakan yang dilakukan adalah memegang paha korban. Keterangan tersebut disampaikan untuk menjelaskan dugaan perbuatan yang terjadi di dalam bus.

“Tadinya awalnya itu nggak mau mengaku, mengelak. Tapi akhirnya mengaku terus bikin surat pernyataan,” kata Jajuli.

Korban dan Pelaku Saling Memaafkan

Selain menyampaikan permintaan maaf melalui video, Fariz juga disebut telah meminta maaf secara langsung kepada korban. Ia menandatangani surat pernyataan yang berisi janji untuk tidak mengulangi perbuatannya.

Jajuli mengatakan korban dan Fariz telah saling memaafkan. Suami korban juga sempat datang ke kantor PJR setelah mengetahui istrinya diduga menjadi korban pelecehan di dalam bus.

Meski demikian, korban bersama suaminya memilih untuk tidak melanjutkan perkara tersebut ke proses hukum. Keputusan itu diambil setelah adanya permintaan maaf dan kesepakatan untuk saling memaafkan.

Video Dugaan Pelecehan Viral di Media Sosial

Sebelumnya, video yang merekam peristiwa tersebut beredar luas di media sosial. Dalam rekaman, perempuan yang diduga menjadi korban tampak memegang kerah baju pria berkacamata hitam dan berkemeja merah tersebut.

Perempuan itu terlihat marah dan mengatakan dirinya sampai gemetar. Reaksinya kemudian menarik perhatian penumpang lain yang berada di dalam bus. Ia juga menjelaskan bahwa pria tersebut diduga telah melakukan tindakan menggerayangi terhadap dirinya.

Dalam suasana yang memanas, korban tampak meluapkan kemarahannya kepada pria tersebut. Penumpang lain turut meminta agar polisi dipanggil untuk menangani kejadian itu.

Kesimpulan

Fariz Maulana telah meminta maaf kepada penumpang perempuan yang diduga menjadi korban pelecehan di bus JR Connexion rute Juanda-Tamansari Bogor. Ia mengaku khilaf, berjanji bertobat, serta menandatangani surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya. Korban dan suaminya memilih menyelesaikan persoalan tersebut tanpa melanjutkannya ke proses hukum setelah menerima permintaan maaf. Ke depan, pernyataan dan komitmen tersebut diharapkan menjadi pelajaran agar kejadian serupa tidak kembali terjadi di ruang publik maupun transportasi umum.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment