Tujuh Wilayah Sarawak Catat Kualitas Udara Tidak Sehat akibat Kabut Asap Karhutla Indonesia
SARAWAK – Kualitas udara di sejumlah wilayah negara bagian Sarawak, Malaysia, memburuk akibat kabut asap yang disebut berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Pada Rabu (19/8) pukul 16.00 waktu setempat, tujuh wilayah di Sarawak mencatat Indeks Polutan Udara atau Air Pollutant Index (API) di atas 100.
Data tersebut menunjukkan bahwa kondisi udara di wilayah-wilayah itu masuk dalam kategori tidak sehat. Serian menjadi daerah dengan angka API tertinggi, yakni 165. Selanjutnya, Sri Aman mencatat angka 161, Kuching 160, Mukah 154, Samarahan 135, Bintulu 130, dan Sibu 129.
Tujuh Wilayah Sarawak Masuk Kategori Tidak Sehat
Berdasarkan laporan Malay Mail, pembacaan API pada tujuh wilayah tersebut dilakukan pada sore hari. Serian menempati posisi teratas dengan nilai 165, disusul Sri Aman dengan angka 161. Sementara itu, Kuching mencatat angka 160 dan Mukah berada di level 154.
Tiga wilayah lain juga mencatat kualitas udara yang masuk kategori tidak sehat. Samarahan memiliki nilai API 135, Bintulu 130, dan Sibu 129. Seluruh angka tersebut berada di rentang 101 hingga 200, yang diklasifikasikan sebagai kualitas udara tidak sehat.
Klasifikasi Indeks Polutan Udara
Indeks Polutan Udara digunakan untuk menggambarkan kondisi kualitas udara di suatu wilayah. Nilai API 0 hingga 50 menunjukkan kualitas udara baik. Angka 51 hingga 100 masuk kategori sedang, sedangkan nilai 101 hingga 200 dinyatakan tidak sehat.
Adapun angka 201 hingga 300 dikategorikan sangat tidak sehat. Sementara itu, nilai API di atas 300 masuk dalam klasifikasi berbahaya. Dengan demikian, tujuh wilayah di Sarawak yang mencatat angka lebih dari 100 berada pada tingkat kualitas udara yang perlu mendapat perhatian.
Data API dirilis setiap jam berdasarkan hasil pembacaan dari 68 stasiun pemantauan kualitas udara yang tersebar di seluruh Malaysia. Pemantauan berkala tersebut digunakan untuk melihat perubahan kondisi udara dari waktu ke waktu.
Mayoritas Wilayah Lain Catat API Moderat
Selain tujuh wilayah dengan kualitas udara tidak sehat, sebanyak 55 wilayah lain di Sarawak mencatat API dalam rentang 51 hingga 100. Angka tersebut masuk kategori moderat atau sedang.
Sementara itu, enam wilayah lainnya memiliki kualitas udara yang tergolong baik, dengan nilai API di bawah atau sama dengan 50. Data ini menunjukkan bahwa kondisi udara di Sarawak tidak seragam. Sejumlah wilayah mengalami penurunan kualitas udara yang cukup signifikan, sedangkan wilayah lainnya masih berada pada tingkat sedang maupun baik.
DOE Tingkatkan Patroli dan Penegakan Hukum
Wakil Direktur Jenderal Departemen Lingkungan Hidup Malaysia atau Department of Environment (DOE), Azuri Azizah Saedon, mengatakan kualitas udara di Malaysia memburuk pada hari tersebut. Menurut dia, semakin banyak wilayah yang mencatat angka API dalam kategori tidak sehat, terutama di Sarawak.
Untuk merespons kondisi tersebut, DOE meningkatkan penegakan hukum dan patroli harian di daerah-daerah yang dinilai memiliki potensi tinggi terjadi pembakaran terbuka. Otoritas Malaysia juga terus memantau angka API secara berkala untuk melihat perkembangan kualitas udara.
Selain itu, Rencana Aksi Nasional Pembakaran Terbuka dan Rencana Aksi Nasional Kabut Asap telah diaktifkan. Kedua rencana tersebut digunakan untuk mengoordinasikan upaya lembaga pemerintah dalam menangani pembakaran terbuka serta situasi kabut asap di tingkat nasional.
Kabut Asap Karhutla Berdampak ke Malaysia
Malaysia menjadi salah satu negara yang terdampak kabut asap akibat karhutla di Indonesia. Kabut asap disebut bergerak dari berbagai arah, terutama dari wilayah Kalimantan, kemudian menyebabkan sejumlah daerah di Negeri Jiran diselimuti polusi.
Fenomena kabut asap telah menjadi persoalan yang berulang di Asia Tenggara, khususnya bagi Malaysia dan Singapura. Kedekatan geografis dengan Indonesia membuat kedua negara tersebut turut merasakan dampak ketika kebakaran hutan dan lahan menghasilkan asap dalam jumlah besar.
Dalam catatan sebelumnya, krisis kabut asap terburuk terjadi pada 1997-1998 dan 2015. Pada periode tersebut, puluhan orang meninggal dunia dan ribuan warga di Indonesia, Malaysia, serta Singapura harus menjalani perawatan di rumah sakit akibat gangguan pernapasan dan masalah jantung.
Kesimpulan
Tujuh wilayah di Sarawak mencatat kualitas udara tidak sehat dengan Serian sebagai daerah yang memiliki API tertinggi, yaitu 165. Pemerintah Malaysia melalui DOE telah meningkatkan pemantauan, patroli, dan penegakan hukum untuk mengantisipasi pembakaran terbuka serta mengoordinasikan penanganan kabut asap.
Dengan pembacaan API yang diperbarui setiap jam, perkembangan kualitas udara di Sarawak dapat terus dipantau. Kondisi ke depan akan bergantung pada perubahan angka polutan serta efektivitas langkah penanganan pembakaran terbuka dan kabut asap yang telah diaktifkan pemerintah Malaysia.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment