Alex Lanier Cetak Sejarah, Jadi Tunggal Putra Prancis Pertama Juara Dunia BWF

Alex Lanier mencatat sejarah penting dalam dunia bulutangkis Prancis. Pebulutangkis berusia 21 tahun itu menjadi tunggal putra pertama dari Prancis yang berhasil menjuarai Kejuaraan Dunia BWF 2026. Prestasi tersebut diraih setelah Lanier mengalahkan wakil Jepang, Kodai Naraoka, pada pertandingan final yang berlangsung di Indira Gandhi Indoor Stadium, New Delhi, India, Minggu (28/6).

Lanier tampil dominan sepanjang laga puncak. Ia berhasil mengamankan kemenangan dua gim langsung dengan skor identik 21-11, 21-11. Hasil tersebut tidak hanya mengantarkan Lanier ke podium tertinggi, tetapi juga menorehkan catatan baru bagi sejarah bulutangkis Prancis di sektor tunggal putra.

Lanier Persembahkan Gelar untuk Bulutangkis Prancis

Usai memastikan kemenangan, Lanier menyampaikan kebahagiaannya atas pencapaian tersebut. Ia menilai keberhasilan menjadi juara dunia bukan hanya milik pribadi, melainkan juga milik seluruh tim dan staf yang telah mendukung perjalanannya.

“Menurut saya, hari ini jelas merupakan hari bagi bulutangkis Prancis dan juga hari bagi seluruh staf,” ujar Lanier, seperti dikutip dari France 24.

Pernyataan tersebut menggambarkan besarnya arti gelar juara dunia bagi Lanier dan lingkungan bulutangkis Prancis. Keberhasilannya menjadi semakin istimewa karena Prancis sebelumnya juga meraih gelar dari sektor ganda campuran pada kejuaraan yang sama.

Lanier mengatakan kemenangan tersebut membuat Prancis memiliki alasan untuk merayakan keberhasilan ganda. Ia ingin memberikan kebahagiaan tambahan kepada masyarakat dan seluruh pendukung bulutangkis di negaranya.

“Hari ini adalah harinya Prancis; saat nomor ganda campuran menang, semua orang merasa bahagia. Saya berpikir bahwa saya harus memberikan mereka alasan untuk tersenyum dua kali dan momen istimewa ganda, serta mencetak sejarah lagi,” kata Lanier.

Kepercayaan Diri Lanier Berbuah Gelar Juara

Lanier juga mengungkapkan bahwa dirinya datang ke pertandingan final dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Ia merasa siap menghadapi berbagai kemungkinan permainan yang akan diterapkan Naraoka.

Menurut Lanier, dirinya mampu bermain dengan tempo cepat maupun menjalani pertandingan dalam durasi panjang. Keyakinan tersebut menjadi salah satu modal penting ketika menghadapi Naraoka yang dikenal sebagai lawan tangguh dari Jepang.

Siap Menghadapi Permainan Cepat dan Panjang

“Saya menunjukkan kepada Kodai bahwa saya mampu bermain dengan kecepatan tinggi, dan juga sanggup bermain dalam durasi panjang, bahkan hingga dua jam atau lebih,” ujar Lanier.

Pernyataan itu menunjukkan kesiapan fisik dan mental Lanier dalam menghadapi laga final. Ia tidak hanya mengandalkan satu pola permainan, tetapi merasa mampu menyesuaikan diri dengan tempo pertandingan yang diterapkan lawan.

Lanier mengakui tubuhnya merasa pegal dan lelah setelah pertandingan berakhir. Namun, kondisi tersebut tidak dirasakannya ketika masih berada di lapangan. Ia justru merasa memiliki tenaga lebih besar dan semakin percaya terhadap kondisi fisiknya.

“Maksud saya, saya benar-benar siap. Sekarang saya merasa pegal dan lelah, namun saat di lapangan saya merasa lebih bertenaga dan percaya pada kondisi fisik saya,” sambung pebulutangkis yang menduduki peringkat 10 dunia tersebut.

Lengkapi Pesta Prancis di Kejuaraan Dunia BWF

Gelar yang diraih Lanier melengkapi keberhasilan Prancis dalam Kejuaraan Dunia BWF 2026. Sebelum kemenangan di sektor tunggal putra, pasangan ganda campuran Prancis, Thom Gicquel/Delphine Delrue, lebih dahulu keluar sebagai juara.

Gicquel/Delrue berhasil mengalahkan pasangan ganda campuran nomor satu dunia asal China, Feng Yan Zhe/Huang Dong Ping. Keberhasilan tersebut juga memiliki nilai sejarah karena Gicquel/Delrue tercatat sebagai wakil pertama Prancis yang menjuarai Kejuaraan Dunia BWF sejak turnamen itu pertama kali digelar pada 1977.

Dengan demikian, Prancis menutup kejuaraan dengan pencapaian bersejarah dari dua sektor. Lanier menjadi tunggal putra Prancis pertama yang menjuarai ajang tersebut, sementara Gicquel/Delrue membuka catatan baru bagi negara mereka di sektor ganda campuran.

Kesimpulan

Alex Lanier berhasil mengukir sejarah setelah menaklukkan Kodai Naraoka dengan skor 21-11, 21-11 pada final Kejuaraan Dunia BWF 2026. Gelar tersebut menjadi trofi dunia pertama bagi tunggal putra Prancis dan sekaligus memperkuat pesta bulutangkis Prancis bersama keberhasilan Thom Gicquel/Delphine Delrue.

Di usia 21 tahun dan dengan peringkat dunia ke-10, Lanier menunjukkan kepercayaan diri, kesiapan fisik, serta kemampuan beradaptasi dalam pertandingan besar. Pencapaian ini menjadi momentum penting bagi perjalanan kariernya sekaligus memberikan dorongan bagi perkembangan bulutangkis Prancis pada masa mendatang.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment