Nova Widianto Mulai dari Nol untuk Bangkitkan Ganda Campuran Indonesia Menuju Olimpiade 2028

Nova Widianto kembali dipercaya menangani sektor ganda campuran Pelatnas PBSI. Setelah menjalani tugas sebagai pelatih tim nasional Malaysia pada periode 2022 hingga 2026, Nova pulang ke Indonesia pada Agustus 2026 untuk membangun kembali kekuatan ganda campuran Merah Putih.

Pelatih berusia 48 tahun itu menyadari bahwa pekerjaannya tidak mudah. Ganda campuran Indonesia tengah berusaha kembali bersaing dalam perebutan gelar di berbagai turnamen bergengsi. Karena itu, Nova memilih memulai proses pembinaan dari dasar, termasuk membangun kembali pola pikir dan kepercayaan diri para atlet.

Nova Widianto Fokus Mengembalikan Kepercayaan Diri Atlet

Dalam tahap awal kepulangannya ke Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta, Nova tidak langsung menitikberatkan perhatian pada perubahan teknis permainan. Ia terlebih dahulu ingin membuka pola pikir para atlet agar mereka kembali yakin terhadap kemampuan masing-masing.

Menurut Nova, kepercayaan diri menjadi fondasi utama sebelum perubahan strategi dan gaya bermain diterapkan. Ia menilai atlet perlu memahami bahwa mereka memiliki kemampuan untuk bersaing di level tinggi, terutama setelah sektor ganda campuran Indonesia mengalami periode yang cukup sulit.

“Mungkin untuk awal saya ingin buka pola pikir atlet saja. Baru kemudian mengubah cara main mereka dan konsistensinya. Paling penting adalah mengembalikan kepercayaan diri mereka dulu. Ya, kami mulai dari nol lagi,” kata Nova di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta, Kamis (10/9).

Nova juga mengingatkan bahwa ganda campuran Indonesia pernah memiliki prestasi yang baik. Namun, kondisi tersebut harus dibangun kembali secara bertahap. Ia bertekad mengembalikan keyakinan para pemain sekaligus memperbaiki konsistensi permainan agar mereka mampu menunjukkan performa terbaik dalam persaingan internasional.

Perombakan Pasangan di Sektor Ganda Campuran

Salah satu langkah awal yang dilakukan PBSI adalah merombak komposisi pasangan. Terbaru, PBSI mengumumkan tiga pasangan baru di sektor ganda campuran. Ketiga pasangan tersebut adalah Dejan Ferdinansyah dan Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu, Bagas Maulana dan Apriyani Rahayu, serta M. Nawaf Khoiriyansyah dan Indah Cahya Sari Jamil.

Sebelumnya, PBSI juga memasangkan Nikolaus Joaquin dengan Siti Fadia Silva Ramadhanti untuk menghadapi Asian Games 2026. Perubahan tersebut menunjukkan upaya serius untuk menemukan kombinasi terbaik yang bisa menjadi tumpuan Indonesia dalam jangka menengah hingga menuju Olimpiade.

Perubahan pasangan diharapkan dapat memberikan suasana baru sekaligus membuka peluang bagi para atlet untuk mengembangkan kemampuan. Nova masih akan memantau perkembangan setiap pasangan sebelum menentukan komposisi yang benar-benar mampu bersaing di level tertinggi.

Hasil Positif Mulai Terlihat

Sejumlah hasil positif mulai muncul dari pasangan-pasangan yang tengah dibentuk. Pasangan Dejan/Apriyani tercatat berhasil menjuarai Pontianak International Challenge 2026 pada awal September. Prestasi lain datang dari Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah yang meraih medali perunggu pada Kejuaraan Dunia BWF 2026.

Capaian tersebut menjadi modal penting bagi sektor ganda campuran Indonesia. Meski demikian, Nova tetap menilai perjalanan menuju level teratas masih panjang. Para atlet harus meningkatkan konsistensi serta membangun keyakinan bahwa mereka mampu menghadapi pasangan-pasangan terbaik dunia.

“Ganda campuran Indonesia sempat bagus, tapi kami harus kembalikan kepercayaan diri mereka dan beri tahu bahwa mereka itu mampu,” ujar Nova.

Menyiapkan Road to Olympic 2028

Selain membenahi performa saat ini, Nova juga mulai memikirkan program jangka panjang menuju Olimpiade 2028 di Los Angeles. Ia menilai waktu sekitar dua tahun masih cukup untuk membangun pasangan, memperbaiki peringkat, dan meningkatkan kemampuan para pemain.

Namun, proses tersebut harus dimulai secepat mungkin. Menurut Nova, keterlambatan dalam menentukan pasangan dapat membuat Indonesia kesulitan bersaing di level atas. Karena itu, pemilihan pasangan dan perencanaan turnamen menjadi bagian penting dari persiapan menuju pesta olahraga dunia tersebut.

“Kami harus pikirkan Road to Olympic karena kalau terlambat dalam mencari pasangan, tidak bisa bersaing di level atas,” ucapnya.

Nova menjelaskan bahwa para pemain akan memulai perjalanan dari turnamen International Challenge. Jika performa dan perhitungan poin menunjukkan perkembangan positif, mereka dapat diarahkan untuk tampil di ajang dengan level lebih tinggi, seperti Super 750 atau Super 1000.

Untuk saat ini, Amri/Nita menjadi salah satu pasangan yang terus dipantau. Dejan/Felisha juga masuk dalam perhatian Nova, sementara pasangan-pasangan lain masih akan dinilai berdasarkan perkembangan mereka di lapangan.

Kesimpulan

Kembalinya Nova Widianto ke Pelatnas PBSI membawa harapan baru bagi kebangkitan ganda campuran Indonesia. Ia memilih membangun sektor tersebut dari dasar dengan mengutamakan perubahan pola pikir, pemulihan kepercayaan diri, serta peningkatan konsistensi permainan.

Perombakan pasangan dan strategi bertahap melalui turnamen berjenjang menjadi bagian dari upaya menuju target yang lebih besar, yakni Olimpiade Los Angeles 2028. Dengan waktu yang tersedia, Nova dituntut mampu menemukan kombinasi terbaik dan mengembangkan para pemain agar kembali menjadi kekuatan penting di pentas bulu tangkis dunia.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment