Bahaya Mengemudi dalam Kondisi Mabuk: Kecelakaan Outlander di Surabaya Tewaskan Satu Orang

Mengemudi di bawah pengaruh minuman keras merupakan tindakan berbahaya yang dapat mengancam keselamatan pengemudi maupun pengguna jalan lainnya. Risiko tersebut terlihat dalam kecelakaan beruntun di Surabaya, Jawa Timur, yang melibatkan Mitsubishi Outlander dan menyebabkan satu orang meninggal dunia.

Peristiwa itu kembali menegaskan bahwa alkohol dapat menurunkan kemampuan seseorang dalam mengendalikan kendaraan. Dalam kondisi mabuk, pengemudi berpotensi kehilangan fokus, terlambat merespons situasi, hingga tidak mampu membaca arah dan rambu lalu lintas dengan baik.

Mengemudi Saat Mabuk Ibarat Berkendara Sambil Berhalusinasi

Praktisi keselamatan berkendara dari Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, mengatakan bahwa mengemudi dalam keadaan mabuk sama saja dengan mengendarai kendaraan sambil mengalami halusinasi. Kondisi tersebut membuat pengemudi tidak memiliki kesadaran yang cukup untuk mengendalikan kendaraan secara aman.

“Ya bisa kita bayangin menyetir, tapi berhalusinasi,” kata Sony.

Menurut dia, pengaruh minuman keras maupun obat terlarang dapat mengganggu kesadaran pengemudi. Seseorang yang berada dalam kondisi tersebut bisa tidak mengetahui arah perjalanan, mengabaikan rambu, lambat memberikan respons, serta mengalami penurunan kemampuan penglihatan.

Karena itu, pengemudi yang berada di bawah pengaruh alkohol tidak seharusnya dibiarkan mengendarai kendaraan. Selain membahayakan dirinya sendiri, keputusan tersebut juga dapat menimbulkan ancaman serius bagi pengguna jalan lain.

Efek Alkohol terhadap Keselamatan Berkendara

Alkohol dapat menurunkan fungsi susunan saraf pusat. Dampaknya, kemampuan otak untuk berkonsentrasi dan mengambil keputusan dengan cepat ikut terganggu. Dalam situasi lalu lintas yang membutuhkan respons segera, keterlambatan tersebut dapat berujung pada kecelakaan.

Menurunkan kewaspadaan dan kemampuan bereaksi

Pengemudi yang mabuk sering kali tidak menyadari kondisi di sekitarnya. Mereka juga dapat kehilangan kemampuan untuk memperkirakan kecepatan kendaraan yang sedang dikemudikan. Hal ini membuat pengemudi berisiko melaju tanpa menyadari situasi sebenarnya di jalan.

Selain itu, pengaruh minuman keras dapat membuat pengguna kendaraan lupa menggunakan alat keselamatan. Pengemudi mobil bisa tidak memasang sabuk pengaman, sedangkan pengguna sepeda motor berpotensi lupa mengenakan helm.

Mengganggu penglihatan dan memicu kantuk

Penurunan ketajaman visual menjadi efek lain dari konsumsi alkohol. Gangguan tersebut dapat menyulitkan pengemudi melihat kondisi jalan, kendaraan lain, maupun objek yang berada di sekitar jalur perjalanan.

Rasa mengantuk juga dapat muncul ketika seseorang mengemudi dalam keadaan mabuk. Kondisi ini membuat konsentrasi semakin berkurang dan meningkatkan potensi terjadinya kecelakaan.

Sony menegaskan bahwa tidak ada takaran alkohol yang aman untuk dikonsumsi jika seseorang masih berniat mengemudi. Karena itu, setiap pengemudi perlu memastikan dirinya tetap fokus dan sadar terhadap keselamatan sebelum berada di balik kemudi.

Kronologi Kecelakaan Outlander di Surabaya

Kecelakaan terjadi di kawasan Jalan Taman Apsari dan Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, pada Minggu dini hari, sekitar pukul 03.30 WIB. Insiden tersebut melibatkan Mitsubishi Outlander, taksi listrik VinFast, dan Mitsubishi L300.

Korban meninggal dunia dalam kecelakaan itu adalah RPK, 25 tahun, yang merupakan pengemudi pikap Mitsubishi L300.

Kasatlantas Polrestabes Surabaya AKBP Galih Bayu Raditya menjelaskan, peristiwa bermula ketika Mitsubishi Outlander bernomor polisi L 1049 OO yang dikemudikan ENR, 32 tahun, melaju dari arah selatan menuju utara di Jalan Taman Apsari. Saat itu, ENR diketahui mengemudikan kendaraan tanpa membawa SIM dan STNK.

Setelah melanjutkan perjalanan ke Jalan Gubernur Suryo, kendaraan tersebut kembali terlibat kecelakaan di sekitar depan Alun-Alun Surabaya. Outlander menabrak RPK yang sedang menaikkan barang ke pikap miliknya yang sedang terparkir.

“Di samping Alun-alun Surabaya, kendaraan tersebut menabrak korban RPK yang sedang menaikkan barang ke pikap miliknya yang sedang parkir,” kata Galih.

Pengemudi Outlander Mengaku Mengonsumsi Alkohol

Setelah kecelakaan, sebuah rekaman video yang beredar di media sosial memperlihatkan ENR sempat marah-marah dan beradu mulut dengan warga. Video tersebut kemudian menjadi perhatian publik.

Polisi tidak lama kemudian menetapkan ENR sebagai tersangka. Di hadapan penyidik dan awak media, ENR mengakui bahwa dirinya baru pulang dari sebuah pesta di tempat hiburan sebelum kecelakaan terjadi. Ia juga mengaku mengonsumsi minuman alkohol dalam jumlah banyak.

“Dari tempat pesta. Dari arah sekitaran situ. [Minum] miras alkohol tujuh gelasan, seperempat-seperempat,” ujar ENR di Kantor Satlantas Polrestabes Surabaya.

ENR mengatakan dirinya datang dan pulang dari lokasi pesta seorang diri. Ia tetap mengemudikan mobil pribadi meskipun tidak menyadari bahwa dirinya sedang dalam kondisi mabuk.

“Berangkat sendiri, pulang nyetir sendiri. Saya sendiri juga enggak sadar kalau saya mabuk. Namanya orang mabuk saya enggak sadar,” kata ENR.

Kesimpulan

Kecelakaan di Surabaya tersebut menunjukkan dampak serius dari keputusan mengemudi setelah mengonsumsi minuman keras. Alkohol dapat mengganggu konsentrasi, penglihatan, kewaspadaan, kemampuan mengambil keputusan, serta kecepatan reaksi pengemudi.

Keselamatan di jalan harus menjadi tanggung jawab setiap pengguna kendaraan. Karena itu, siapa pun yang telah mengonsumsi alkohol tidak boleh mengemudi. Kesadaran untuk tidak memaksakan diri berada di balik kemudi merupakan langkah penting untuk mencegah kecelakaan dan melindungi keselamatan orang lain di jalan.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment