Pabrik Baterai EV CATIB di Karawang Mulai Beroperasi, Kapasitas Ditargetkan 15 GWh
Indonesia Battery Corporation (IBC) mengonfirmasi bahwa pabrik baterai kendaraan listrik milik PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) di Karawang, Jawa Barat, telah mulai beroperasi sejak Juli 2026. Fasilitas tersebut tidak hanya memproduksi baterai untuk kendaraan listrik, tetapi juga diperuntukkan bagi sistem penyimpanan energi atau Battery Energy Storage System (BESS).
PT CATIB merupakan perusahaan patungan antara IBC dan CBL, anak usaha dari produsen baterai asal China, Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL). Kehadiran pabrik ini menjadi bagian penting dari pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik Indonesia yang terintegrasi, mulai dari sektor pertambangan hingga daur ulang baterai.
Pabrik CATIB Karawang Beroperasi Sejak Juli 2026
Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif menjelaskan bahwa fasilitas CATIB di Karawang telah menjalankan kegiatan produksi sejak Juli 2026. Menurutnya, produk yang dihasilkan pabrik tersebut akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan baterai kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi.
“Sekarang kondisinya sudah seperti ini, jadi sudah memang sudah beroperasi sejak bulan Juli. Produknya sebagian untuk kendaraan listrik dan sebagian lagi untuk BESS, Battery Energy Storage System,” ujar Aditya dalam Sosialisasi MediaMind 2026 di Energy Building, Jakarta, Senin (14/9), sebagaimana diberitakan CNBC Indonesia.
Pabrik ini berdiri di kawasan Artha Industrial Hill (AIH) dan Karawang New Industry City (KNIC). Pembangunannya dimulai pada 29 Juni 2025 dan membutuhkan waktu sekitar 13 bulan hingga fasilitas tersebut siap beroperasi.
Dengan mulai beroperasinya CATIB, Indonesia kini memiliki pabrik baterai kendaraan listrik kedua setelah PT Hyundai LG Indonesia (HLI) Green Power yang telah beroperasi sejak Juli 2024.
Kapasitas Produksi Bertahap hingga 15 GWh
Pengembangan fasilitas CATIB dilakukan secara bertahap. Pada tahap pertama, pabrik tersebut memiliki kapasitas produksi sebesar 6,9 Giga Watt hour (GWh) per tahun. Kapasitas itu direncanakan meningkat hingga mencapai 15 GWh per tahun melalui pengembangan tahap berikutnya.
Investasi total untuk pengembangan kapasitas hingga 15 GWh diperkirakan mencapai US$1,2 miliar atau sekitar Rp21,17 triliun berdasarkan kurs Rp17.641 per dolar AS. Ketika kapasitas penuh tercapai, fasilitas tersebut diproyeksikan mampu memasok baterai untuk sekitar 250.000 unit kendaraan listrik.
Kompleks pabrik CATIB dirancang dengan konsep terintegrasi. Di dalamnya terdapat fasilitas produksi sel baterai dengan panjang sekitar 1 kilometer serta area pengemasan atau packing yang berada di samping fasilitas produksi tersebut.
Aditya menjelaskan, material baterai yang menjadi bahan baku akan diproses langsung hingga menjadi sel baterai. Setelah itu, sel yang telah diproduksi akan dikemas di fasilitas packer.
Penguatan Sumber Daya Manusia dan Energi Terbarukan
Untuk mendukung operasional pabrik, IBC telah mengirimkan 600 karyawan ke China dalam program knowledge transfer. Program tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat kemampuan sumber daya manusia yang terlibat dalam pengoperasian fasilitas baterai.
Selain pengembangan kompetensi, IBC juga menyiapkan langkah untuk mendukung aspek ramah lingkungan dalam operasional pabrik. Salah satunya melalui rencana pemasangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 18 MWp pada 2027.
IBC bersama CATL juga mengembangkan proyek material baterai di Halmahera dengan nilai investasi US$600 juta atau sekitar Rp10,58 triliun. Proyek tersebut menjadi bagian dari rantai pasok baterai yang dibangun untuk mendukung pengembangan industri kendaraan listrik di Indonesia.
Bagian dari Ekosistem Baterai Terintegrasi Hulu-Hilir
Proyek CATIB di Karawang merupakan salah satu bagian dari ekosistem baterai kendaraan listrik terintegrasi dari hulu hingga hilir. Total investasi awal ekosistem tersebut mencapai US$5,9 miliar atau sekitar Rp104,08 triliun.
Ekosistem ini dikembangkan oleh konsorsium PT Aneka Tambang (Antam), IBC, dan CBL. CBL sendiri merupakan perusahaan patungan antara CATL, Brunp, dan Lygend. Rangkaian proyek tersebut dibagi ke dalam enam usaha patungan atau joint venture (JV).
Sektor Hulu
- JV 1 – Pertambangan nikel: Dioperasikan PT Sumberdaya Arindo (SDA), dengan kepemilikan Antam sebesar 51 persen dan CBL 49 persen. Proyek ini menargetkan produksi 7,8 juta wet metric ton (wmt) nikel saprolit serta 6 juta wmt limonit, atau total 13,8 juta wmt. Kegiatan produksi telah dimulai sejak 2023.
- JV 2 – Smelter RKEF: Dioperasikan PT Feni Haltim (FHT), dengan kepemilikan CBL 60 persen dan Antam 40 persen. Fasilitas ini memiliki kapasitas produksi 88 ribu ton refined nickel alloy per tahun dan ditargetkan berproduksi pada 2027.
- JV 3 – Smelter HPAL: Dioperasikan PT Nickel Cobalt Halmahera (HPAL JVCO), dengan komposisi kepemilikan CBL 70 persen dan Antam 30 persen. Kapasitas produksinya mencapai 55 ribu ton material campuran hidroksida atau MHP per tahun, dengan target produksi pada 2028.
Sektor Hilir
- JV 4 – Material baterai: Berlokasi di Halmahera Timur, Maluku Utara, dengan kepemilikan CBL 70 persen dan IBC 30 persen. Proyek ini memproduksi bahan katoda, kobalt sulfat, serta prekursor terner dengan kapasitas 30 ribu ton lithium hydroxide. Operasional ditargetkan dimulai pada 2028.
- JV 5 – Sel baterai: Dioperasikan PT CATIB di Karawang dengan kepemilikan CBL 70 persen dan IBC 30 persen. Total kapasitasnya ditargetkan mencapai 15 GWh per tahun, terdiri atas Fase 1 sebesar 6,9 GWh dan Fase 2 sebesar 8,1 GWh. Fase 1 telah beroperasi pada 2026, sedangkan Fase 2 ditargetkan berjalan pada 2028.
- JV 6 – Daur ulang baterai: Berlokasi di Halmahera Timur, Maluku Utara, dengan kepemilikan CBL 60 persen dan IBC 40 persen. Fasilitas ini dirancang memiliki kapasitas daur ulang 20 ribu ton logam per tahun dan ditargetkan mulai berproduksi pada 2031.
Kesimpulan
Beroperasinya pabrik baterai CATIB di Karawang menandai perkembangan baru dalam industri baterai kendaraan listrik Indonesia. Dengan kapasitas awal 6,9 GWh dan rencana pengembangan hingga 15 GWh per tahun, fasilitas ini diharapkan menjadi salah satu elemen utama dalam pemenuhan kebutuhan baterai kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi.
Ke depan, penguatan ekosistem melalui proyek pertambangan, pengolahan nikel, produksi material baterai, pembuatan sel, hingga daur ulang akan menentukan kesinambungan rantai pasok baterai nasional. Seluruh proyek tersebut dijadwalkan berkembang secara bertahap hingga 2031.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment