Banjir Bandang Nepal Tewaskan 165 Orang, USGS Ungkap Pemicu Runtuhnya Gletser
JAKARTA – Banjir bandang dan tanah longsor menerjang sejumlah wilayah pegunungan Nepal pada Rabu (26/8). Berdasarkan laporan yang tersedia, bencana tersebut menewaskan sedikitnya 165 orang, sementara 1.384 orang lainnya, termasuk sejumlah turis, masih dinyatakan hilang.
Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat atau United States Geological Survey (USGS) mengungkap bahwa bencana itu dipicu runtuhnya bagian bawah gletser. Runtuhan tersebut kemudian membawa material es, batuan, serta sedimen dalam jumlah besar hingga memicu aliran puing dan banjir bandang di kawasan terdampak.
Penyebab pasti runtuhnya gletser masih dalam penyelidikan. Sebelumnya, otoritas Nepal menduga adanya gempa bumi yang memicu peristiwa tersebut. Namun, analisis USGS menyebut getaran yang dilaporkan kemungkinan bukan gempa, melainkan gelombang seismik akibat hantaman batuan dan es yang runtuh, kemudian disusul aliran material puing-puing.
Runtuhan Gletser Picu Banjir Bandang di Nepal
Perbandingan citra satelit sebelum dan sesudah bencana yang dilakukan Planet Labs menunjukkan perubahan besar pada kondisi lereng gunung. Area yang sebelumnya tampak hijau dan asri kini tertutup endapan sedimen serta puing-puing berwarna kecokelatan.
Vikram Gupta, ahli geologi teknik dari Universitas Sikkim, India, mengatakan sebagian besar ujung gletser telah runtuh. Menurut dia, runtuhan itu kemungkinan membawa serta batuan dan sedimen dalam jumlah besar yang kemudian bergerak menuju lembah dan aliran sungai.
Ilmuwan bumi Dan Shugar juga menilai citra satelit menunjukkan adanya pencairan salju dalam jumlah besar selama 24 jam sebelum bencana. Beberapa gletser yang sehari sebelumnya masih tertutup salju dilaporkan berubah menjadi es terbuka.
Shugar memperkirakan kondisi tersebut bisa berkaitan dengan suhu yang sedang hangat. Namun, ia menegaskan bahwa kesimpulan tersebut masih perlu dibandingkan dengan data dari stasiun cuaca untuk memastikan kondisi meteorologis di lokasi kejadian.
Bagian Bawah Gletser Lepas dari Ketinggian 5.200 Meter
Berdasarkan citra satelit Planet Labs, bagian bawah gletser terlepas dari ketinggian sekitar 5.200 meter. Material tersebut kemudian jatuh dan menghantam dasar lembah yang berada sekitar 1.200 meter lebih rendah.
Rangkaian peristiwa itu menyebabkan longsoran es dan batuan bergerak menuju kawasan lembah. Otoritas Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana Nasional Nepal menyebut banjir bandang terjadi di Sungai Lhende akibat tanah longsor yang berlangsung sekitar 20 kilometer di sebelah timur laut perbatasan Nepal-Tiongkok.
Prakash Pokharel, ahli geologi dari lembaga tersebut, menyatakan bahwa banjir bandang disebabkan longsoran es dan batuan di wilayah Nepal. Analisis itu dilakukan berdasarkan citra satelit yang dirilis Planet Labs.
Arus Deras Membawa Sedimen dan Batu Besar
International Centre for Integrated Mountain Development menyampaikan bahwa banjir bandang mengirimkan gelombang air deras yang membawa sedimen dan batu-batu besar melalui sistem aliran Sungai Bhote Koshi serta Trishuli.
Dampak aliran tersebut juga terlihat di wilayah Galchhi yang berada di bagian hilir. Ketinggian air sungai di kawasan itu dilaporkan melonjak hingga sembilan meter hanya dalam waktu 30 menit. Kondisi tersebut memperlihatkan cepat dan besarnya aliran material yang bergerak dari kawasan pegunungan menuju daerah lebih rendah.
Perubahan Iklim Jadi Fokus Penelitian
Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2023 mencatat bahwa pegunungan bersalju di Nepal telah kehilangan hampir sepertiga cadangan esnya dalam 30 tahun terakhir akibat pemanasan global. PBB juga menyebut laju pencairan gletser di Nepal pada satu dekade terakhir meningkat 65 persen dibandingkan dekade sebelumnya.
Meski demikian, para ilmuwan belum memastikan apakah krisis iklim menjadi penyebab langsung runtuhnya gletser dalam bencana kali ini. Dan Shugar mengatakan aktivitas pembangunan di sekitar lokasi juga dapat menjadi salah satu faktor pemicu. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui hubungan antara kondisi gletser, aktivitas pembangunan, serta perubahan iklim.
Andrew Zolli, Chief Impact Officer Planet Labs, menyatakan bahwa perusahaan tersebut akan merilis citra satelit yang lebih lengkap dengan lisensi terbuka. Data itu diharapkan dapat membantu upaya penanganan darurat di lapangan dan mendukung penelitian mengenai penyebab bencana.
Menurut analisis Shugar, kejadian tersebut kemungkinan merupakan dampak runtuhnya gletser akibat pencairan yang berlangsung sangat cepat. Namun, pengaruh faktor iklim masih akan menjadi fokus kajian dalam beberapa hari mendatang.
Wilayah PLTA Terdampak Parah
Distrik Rasuwa menjadi salah satu wilayah yang mengalami dampak paling parah. Sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air atau PLTA berada di kawasan tersebut. Distrik ini merupakan wilayah pegunungan yang dihuni sekitar 50.000 orang.
Ancaman bencana hidrometeorologi di kawasan Hindu Kush Himalaya juga dilaporkan semakin serius. Banjir, tanah longsor, longsoran es, dan kekeringan tercatat semakin sering terjadi dengan tingkat keparahan yang meningkat. International Centre for Integrated Mountain Development menilai perubahan iklim yang berlangsung di wilayah udara, daratan, dan perairan menjadi ancaman nyata bagi masyarakat setempat.
Kesimpulan
Banjir bandang dan longsor di Nepal diduga kuat berkaitan dengan runtuhnya bagian bawah gletser yang membawa es, batuan, serta sedimen menuju lembah. USGS menyatakan getaran yang sempat diduga sebagai gempa kemungkinan merupakan gelombang seismik dari hantaman material runtuhan.
Dengan jumlah korban meninggal mencapai sedikitnya 165 orang dan 1.384 orang masih hilang, bencana ini menunjukkan besarnya risiko di kawasan pegunungan Nepal. Penelitian lanjutan diperlukan untuk memastikan peran pencairan salju, aktivitas pembangunan, dan perubahan iklim. Citra satelit tambahan dari Planet Labs diharapkan membantu proses tanggap darurat sekaligus memperjelas penyebab serta dampak bencana tersebut.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment