BMKG Prediksi Hujan Lokal hingga Lebat di Sejumlah Wilayah Indonesia

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sejumlah wilayah di Indonesia masih berpotensi mengalami hujan pada periode 18-24 September 2026. Prakiraan tersebut disampaikan di tengah kondisi kering yang masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia.

Meski demikian, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih dapat terjadi secara lokal. BMKG mencatat hujan lebat telah mengguyur sejumlah daerah pada 14-16 September 2026. Salah satu wilayah yang mengalami kondisi tersebut adalah Aceh, dengan curah hujan mencapai 138,0 milimeter per hari.

BMKG menyebut kondisi serupa masih berpotensi kembali terjadi dalam sepekan ke depan. Sejumlah dinamika atmosfer diperkirakan turut memengaruhi pembentukan awan hujan di beberapa wilayah Indonesia.

Wilayah yang Berpotensi Hujan pada 18-24 September 2026

Hujan diprakirakan masih berpotensi terjadi di sejumlah kawasan pada periode 18-24 September 2026. Wilayah yang masuk dalam prakiraan tersebut meliputi Sumatra bagian utara hingga tengah, Kalimantan bagian utara hingga tengah, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Papua Pegunungan, dan Papua.

Potensi hujan tersebut dapat muncul secara lokal dengan intensitas yang beragam. Masyarakat di wilayah yang telah disebutkan diimbau memperhatikan perkembangan informasi cuaca dari BMKG, khususnya ketika terjadi perubahan kondisi atmosfer.

Dinamika Atmosfer Memengaruhi Pembentukan Awan Hujan

BMKG menjelaskan bahwa potensi hujan dipengaruhi oleh sejumlah dinamika atmosfer. Salah satunya adalah Gelombang Rossby Ekuatorial yang diprediksi aktif di Kalimantan Utara dan Kalimantan Barat.

Selain itu, Gelombang Kelvin juga diperkirakan aktif di beberapa wilayah. Area yang dipengaruhi meliputi Kalimantan bagian timur, pesisir utara Jawa Timur hingga Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, serta Papua bagian barat dan utara.

Aktivitas Gelombang Kelvin tersebut dapat mendukung proses pembentukan awan hujan di wilayah-wilayah terdampak. Kondisi atmosfer ini menjadi salah satu faktor yang membuat hujan masih berpeluang terjadi meskipun sebagian besar wilayah Indonesia berada dalam kondisi kering.

Sirkulasi Siklonik di Laut Cina Selatan

Faktor lain yang turut berpengaruh adalah sirkulasi siklonik yang diprediksi terbentuk di Laut Cina Selatan. Sirkulasi tersebut menyebabkan munculnya daerah perlambatan dan pertemuan angin yang memanjang di sejumlah wilayah.

Menurut BMKG, kondisi tersebut didukung oleh labilitas lokal yang kuat. Perpaduan berbagai faktor itu membuat proses pengangkatan massa udara menjadi lebih optimal, sehingga potensi hujan di wilayah terdampak dapat meningkat.

Potensi Hujan Lebat pada Awal Oktober

Selain prakiraan untuk periode 18-24 September 2026, BMKG juga memprediksi potensi hujan dengan jumlah lebih dari 150 milimeter per dasarian di pesisir barat Aceh dan pesisir barat Sumatera Utara.

Potensi tersebut diprakirakan terjadi pada Dasarian I dan Dasarian II Oktober 2026. Informasi ini menunjukkan bahwa peluang terjadinya hujan masih perlu diperhatikan, terutama di wilayah yang telah disebutkan dalam prakiraan BMKG.

Kesimpulan

BMKG memprediksi hujan masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah Indonesia pada periode 18-24 September 2026, meskipun kondisi kering masih mendominasi sebagian besar daerah. Sumatra bagian utara hingga tengah, Kalimantan bagian utara hingga tengah, Sulawesi bagian tengah hingga selatan, Papua Pegunungan, dan Papua termasuk wilayah yang berpeluang mengalami hujan.

Potensi tersebut dipengaruhi oleh aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial, Gelombang Kelvin, sirkulasi siklonik di Laut Cina Selatan, serta labilitas lokal yang kuat. Ke depan, BMKG juga memprakirakan potensi hujan lebih dari 150 milimeter per dasarian di pesisir barat Aceh dan pesisir barat Sumatera Utara pada awal hingga pertengahan Oktober 2026. Masyarakat di wilayah terdampak perlu terus mengikuti pembaruan informasi cuaca dari BMKG.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment