Ikan Oarfish Terdampar di Lombok, Benarkah Pertanda Gempa dan Tsunami?
Ikan oarfish kembali menjadi perhatian setelah ditemukan mati terdampar di Pantai Pink, Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Ikan langka dengan panjang sekitar empat meter itu ditemukan pengunjung pada Selasa (25/8) sekitar pukul 07.30 WITA. Momen penemuan tersebut kemudian direkam dan videonya viral di media sosial.
Oarfish dikenal sebagai ikan berukuran sangat panjang dan kerap dijuluki “ikan kiamat”. Sebutan tersebut muncul karena adanya kepercayaan yang mengaitkan kemunculan oarfish di pantai dengan bencana alam, terutama gempa bumi dan tsunami. Namun, di balik mitos yang berkembang, terdapat sejumlah fakta biologis mengenai ikan laut dalam ini yang perlu diketahui.
Mengenal Ikan Oarfish dan Habitatnya
Ikan oarfish termasuk dalam famili Regalecidae. Nama tersebut berasal dari bahasa Latin “Regalis” yang berarti kerajaan. Sementara itu, istilah “oarfish” merujuk pada bentuk tubuh atau sirip dadanya yang padat dan memanjang menyerupai dayung atau oar.
Oarfish raksasa pertama kali ditemukan pada 1772. Ikan ini hidup di laut beriklim sedang hingga tropis, terutama pada kedalaman sekitar 3.300 kaki atau setara dengan 1.000 meter. Lingkungan tersebut membuat oarfish jarang terlihat dalam kondisi hidup oleh manusia.
Famili oarfish terdiri atas tiga spesies. Salah satunya adalah oarfish raksasa atau Regalecus glesne. Spesies ini memiliki tulang yang sangat panjang dan dapat tumbuh hingga 36 kaki atau sekitar 11 meter. Sejumlah sumber bahkan menyebut panjangnya dapat mencapai 56 kaki atau sekitar 17 meter, dengan berat sekitar 270 kilogram.
Ciri Fisik dan Pola Makan Oarfish
Ikan terpanjang di dunia
Oarfish dikenal sebagai salah satu ikan bertulang dengan ukuran paling panjang, bahkan dinobatkan sebagai ikan terpanjang di dunia. Meski berukuran besar, tubuh ikan ini memiliki tekstur yang lembut dan mudah rusak ketika berada di permukaan laut.
Berbeda dari banyak ikan bertulang lainnya, oarfish tidak memiliki sisik. Karakteristik tersebut membuat tubuhnya lebih rentan mengalami kerusakan saat terdampar. Padahal, secara alami, ikan ini beradaptasi untuk hidup di kedalaman laut yang tinggi.
Memakan plankton kecil
Menurut informasi dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), daging oarfish memiliki tekstur lembut dan lengket. Status konservasi ikan ini belum sepenuhnya dipelajari karena oarfish jarang diamati dalam keadaan hidup, meskipun telah dilakukan percobaan konsumsi.
Oarfish umumnya memakan plankton kecil. Ikan ini tidak memiliki gigi, tetapi mempunyai “penyapu insang” yang digunakan untuk menjerat organisme berukuran kecil. Bukaan pada sistem pencernaannya juga berukuran kecil dan mendukung pola makannya tersebut.
Mitos Oarfish sebagai Pertanda Bencana
Kemunculan oarfish di pantai kerap dikaitkan dengan gempa bumi dan tsunami. Mitos ini telah lama berkembang di Jepang dan tercatat dalam kumpulan cerita misteri berjudul “Shokoku Rijin Dana” yang diterbitkan pada abad ke-18.
Dalam tradisi Jepang, oarfish dikenal dengan sebutan “Ryugu no tsukai” atau “Pembawa Pesan dari Istana Dewa Laut”. Legenda tersebut menyebutkan bahwa ikan ini akan terdampar di pantai sebelum terjadi gempa bumi bawah laut.
Kepercayaan itu kembali menguat setelah gempa Fukushima dan tsunami pada 2011 yang menewaskan lebih dari 20 ribu orang. Menurut Kyodo News, setidaknya belasan oarfish ditemukan terdampar di pantai Jepang pada tahun sebelum bencana tersebut.
Penjelasan Ilmiah tentang Kemunculan Oarfish
Sejumlah spekulasi kemudian berkembang untuk menjelaskan hubungan antara oarfish dan aktivitas tektonik. Beberapa ahli menduga ikan tersebut dapat berpindah ke perairan yang lebih dangkal ketika merasakan perubahan elektromagnetik yang berkaitan dengan pergerakan tektonik dan patahan aktif.
Namun, teori tersebut belum memiliki bukti ilmiah yang kuat. Osamu Inamura, direktur Akuarium Uozu, menyampaikan penjelasan lain mengenai kemunculan oarfish di Teluk Toyama yang pernah dikaitkan dengan gempa.
Menurut Inamura, oarfish kemungkinan mengikuti pergerakan sumber makanannya, yakni sejenis udang mikro. Ketika pasokan udang bergerak naik menuju plankton pada siang hari, oarfish dapat ikut bergerak dan terkadang tertangkap jaring nelayan.
Penjaga Akuarium Uozu, Kazusa Saiba, juga menyebut kemungkinan adanya perubahan halus pada kerak bumi yang memengaruhi arus laut. Perubahan tersebut, menurutnya, dapat mendorong makhluk di dasar laut ke permukaan.
Meski demikian, Saiba menegaskan bahwa belum ada bukti ilmiah sama sekali yang membuktikan oarfish muncul di sekitar gempa besar. Ia juga menyatakan kemungkinan tersebut tidak dapat disangkal sepenuhnya. Selain perubahan kerak bumi, pemanasan global atau faktor lain yang belum diketahui juga disebut mungkin berpengaruh terhadap kemunculan ikan ini.
Kesimpulan
Penemuan oarfish sepanjang sekitar empat meter di Pantai Pink, Lombok, menunjukkan betapa uniknya kehidupan laut dalam. Ikan ini memiliki ukuran luar biasa, hidup di kedalaman sekitar 1.000 meter, serta mempunyai ciri biologis yang berbeda dari ikan bertulang pada umumnya.
Julukan “ikan kiamat” tidak terlepas dari mitos lama yang mengaitkan oarfish dengan gempa bumi dan tsunami. Namun, hingga kini belum terdapat bukti ilmiah yang memastikan bahwa kemunculan ikan tersebut merupakan tanda akan terjadinya bencana. Karena itu, fenomena oarfish terdampar perlu dipandang secara hati-hati, dengan membedakan antara legenda, spekulasi, dan fakta ilmiah yang masih terus dipelajari.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment