Mengenal Zona Megathrust Indonesia: 14 Segmen dan Potensi Bahayanya
Indonesia berada di kawasan yang dikelilingi sejumlah zona subduksi, termasuk zona megathrust yang berpotensi menjadi sumber gempa bumi besar. Keberadaan zona ini membuat wilayah pantai barat Sumatra, selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Sulawesi Utara perlu mendapat perhatian dalam upaya mitigasi bencana.
Meski demikian, keberadaan zona megathrust tidak berarti gempa besar akan terjadi dalam waktu dekat atau berlangsung secara bersamaan di seluruh wilayah Indonesia. Setiap segmen memiliki karakteristik tektonik dan sejarah kegempaan yang berbeda. Karena itu, informasi mengenai megathrust perlu dipahami sebagai gambaran potensi bahaya jangka panjang, bukan sebagai prediksi gempa yang segera terjadi.
Apa Itu Zona Megathrust?
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa zona megathrust merupakan bagian dari zona subduksi. Zona subduksi adalah bidang kontak tempat satu lempeng tektonik bergerak dan menunjam ke bawah lempeng lainnya.
Pada zona megathrust, bidang kontak antarlempeng umumnya relatif dangkal dan dapat terkunci dalam waktu lama. Kondisi tersebut menyebabkan energi atau regangan terus menumpuk di dalam kerak bumi.
Apabila regangan itu dilepaskan secara tiba-tiba melalui pergeseran besar pada bidang megathrust, gempa bumi dengan kekuatan besar dapat terjadi. Kekuatan gempa yang bersumber dari zona ini bahkan dapat mencapai lebih dari magnitudo 8,0.
Gempa tersebut juga dapat memicu tsunami apabila pergeseran atau rupture menyebabkan deformasi yang signifikan pada dasar laut. Perubahan dasar laut akibat gempa bawah laut dapat menggerakkan massa air dan menimbulkan gelombang tsunami.
Wilayah Indonesia yang Berhadapan dengan Megathrust
Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, terdapat 14 segmen megathrust yang dipetakan dalam keseluruhan sistem regional. Dari jumlah tersebut, 11 segmen berada di Indonesia dan tiga segmen lainnya berada di Filipina, tetapi berpotensi memberikan dampak terhadap kawasan sekitar.
Wilayah Indonesia yang berhadapan dengan sistem subduksi tersebut terutama mencakup pantai barat Sumatra, wilayah selatan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara, serta kawasan Sulawesi Utara. Selain itu, terdapat pula sistem subduksi di kawasan Banda dan Indonesia bagian timur yang memiliki karakter tektonik berbeda, tetapi tetap menjadi sumber bahaya gempa.
Daryono mengingatkan bahwa seluruh wilayah yang berada di sekitar sistem subduksi tidak serta-merta akan mengalami gempa besar secara bersamaan. Setiap segmen memiliki geometri, laju konvergensi, tingkat penguncian, karakteristik, serta sejarah kegempaan yang tidak sama.
Daftar 14 Segmen Megathrust
Berikut 14 zona megathrust yang tercantum dalam Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 beserta potensi magnitudo maksimumnya:
- Megathrust Aceh-Andaman dengan potensi magnitudo maksimum M9,2.
- Megathrust Nias-Simeulue dengan potensi magnitudo maksimum M8,7.
- Megathrust Batu dengan potensi magnitudo maksimum M7,8.
- Megathrust Mentawai-Siberut dengan potensi magnitudo maksimum M8,9.
- Megathrust Mentawai-Pagai dengan potensi magnitudo maksimum M8,9.
- Megathrust Enggano dengan potensi magnitudo maksimum M8,9.
- Megathrust Jawa dengan potensi magnitudo maksimum M9,1.
- Megathrust Jawa bagian barat dengan potensi magnitudo maksimum M8,9.
- Megathrust Jawa bagian timur dengan potensi magnitudo maksimum M8,9.
- Megathrust Sumba dengan potensi magnitudo maksimum M8,9.
- Megathrust Sulawesi Utara dengan potensi magnitudo maksimum M8,5.
- Megathrust Palung Cotabato dengan potensi magnitudo maksimum M8,3.
- Megathrust Filipina Selatan dengan potensi magnitudo maksimum M8,2.
- Megathrust Filipina Tengah dengan potensi magnitudo maksimum M8,1.
Segmen yang Menjadi Perhatian BMKG
Dari keseluruhan segmen tersebut, BMKG memberi perhatian khusus terhadap Mentawai-Siberut, Sumba, dan wilayah Selat Sunda. Selat Sunda termasuk dalam segmen Jawa bagian barat. Ketiga kawasan tersebut menjadi perhatian karena terdapat indikasi seismic gap, yaitu bagian dari sistem subduksi yang dalam catatan sejarah mengalami relatif sedikit gempa besar dalam periode tertentu.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menyampaikan bahwa semua segmen megathrust tetap berpotensi menghasilkan gempa besar. Namun, beberapa segmen dicurigai telah cukup lama tidak mengalami gempa besar, termasuk Mentawai-Siberut, wilayah Selat Sunda, dan Sumba.
BMKG terus memantau ketiga segmen tersebut. Kendati demikian, kondisi seismic gap merupakan potensi jangka panjang dan tidak dapat diartikan sebagai prediksi bahwa gempa akan segera terjadi.
Dampak yang Dapat Ditimbulkan
1. Tsunami
Salah satu dampak utama gempa megathrust adalah tsunami. Tsunami dapat terjadi ketika gempa berlangsung di bawah laut dan menyebabkan perubahan atau pergeseran dasar laut.
Apabila gempa besar terjadi di segmen Mentawai-Siberut, wilayah yang berpotensi terdampak antara lain Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Bengkulu. Dampaknya juga berpotensi dirasakan oleh negara-negara di sekitar Samudra Hindia.
BMKG telah memiliki sistem peringatan dini tsunami yang dapat menyampaikan informasi kepada masyarakat mengenai kondisi bencana serta hal-hal yang perlu dilakukan apabila tsunami terjadi.
2. Guncangan Kuat
Selain tsunami, gempa megathrust dapat menimbulkan guncangan kuat. Guncangan tersebut berpotensi menyebabkan kerusakan pada bangunan dan infrastruktur. Dampak lain yang dapat muncul adalah tanah longsor hingga kebakaran.
Kesimpulan
Zona megathrust merupakan bidang kontak pada zona subduksi yang dapat terkunci dalam waktu lama dan menyimpan energi besar. Ketika energi tersebut dilepaskan melalui pergeseran mendadak, gempa berkekuatan besar dapat terjadi dan berpotensi memicu tsunami apabila dasar laut mengalami perubahan signifikan.
Indonesia memiliki sejumlah segmen megathrust yang menghadap berbagai wilayah pesisir, dengan tiga segmen—Mentawai-Siberut, Selat Sunda, dan Sumba—menjadi perhatian pemantauan BMKG karena indikasi seismic gap. Namun, informasi tersebut bukan prediksi terjadinya gempa dalam waktu dekat. Ke depan, pemantauan dan sistem peringatan dini tetap menjadi bagian penting dalam menghadapi potensi gempa serta tsunami dari zona megathrust.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment