Trump Tolak Perlambatan AI, Sebut Pusat Data sebagai Aset Strategis AS

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan dukungannya terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan menolak seruan untuk memperlambat laju industri tersebut. Pernyataan itu disampaikan Trump melalui percakapan telepon dengan CEO Nvidia Jansen Huang saat Huang sedang mengikuti wawancara dalam acara All-In Summit di Los Angeles, Amerika Serikat.

Acara tersebut ditayangkan melalui kanal YouTube All-In Podcast. Dalam sesi itu, Huang tengah membahas berbagai perkembangan teknologi AI serta dampaknya terhadap masa depan industri. Namun, pembahasan kemudian berkembang setelah Trump menelepon dan menyampaikan pandangannya mengenai kontroversi seputar risiko serta perlunya pembatasan terhadap perkembangan AI.

Trump Anggap Kekhawatiran terhadap AI Berlebihan

Dalam percakapan tersebut, Trump menyebut ketakutan yang berlebihan terhadap perkembangan AI sebagai hoaks dan konspirasi. Ia juga menekankan bahwa pusat data memiliki peran penting bagi perekonomian Amerika Serikat.

Menurut Trump, pusat data tidak hanya mendukung kemajuan teknologi, tetapi juga dapat menciptakan kekayaan bagi masyarakat dan negara. Ia bahkan membandingkan peran pusat data dengan minyak yang diperkirakan akan menjadi aset penting dalam 20 hingga 25 tahun mendatang.

“Saya katakan bahwa semuanya adalah hoaks. Pusat data itu bagus, dan mereka membuat orang kaya, dan mereka membuat negara kaya, dan itu akan seperti minyak 20-25 tahun yang akan datang,” kata Trump.

Trump juga menilai robot dan AI tidak akan mampu mengambil alih manusia sepenuhnya. Meski mengakui bahwa perkembangan teknologi dan pembangunan pusat data tetap membutuhkan kehati-hatian, ia menegaskan hal tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghentikan industri AI.

Trump Klaim AI Membawa Keuntungan Besar

Dalam pernyataannya, Trump menyebut Amerika Serikat menerima keuntungan hingga US$20 triliun hanya dalam satu tahun dari industri AI. Ia menyatakan pemerintah akan terus memberikan dukungan dan tidak membiarkan perkembangan sektor tersebut terhambat.

Sikap Trump memperlihatkan keyakinannya bahwa AI dapat menjadi salah satu penggerak utama perekonomian AS. Pusat data yang menjadi infrastruktur penting bagi pengembangan teknologi tersebut dianggap memiliki nilai strategis untuk meningkatkan kekayaan negara.

CEO Nvidia Dukung Perkembangan AI

Jansen Huang menyetujui pandangan Trump mengenai penolakan terhadap perlambatan perkembangan AI. Ia menyatakan teknologi tersebut harus memberikan manfaat bagi seluruh pihak di Amerika Serikat, termasuk sektor industri, perusahaan, negara bagian, dan masyarakat.

“Kita akan memastikan semua diuntungkan. Semua industri, semua perusahaan, semua negara bagian, dan semua orang,” ujar Huang.

Sebelumnya, dalam acara yang sama, Huang juga menanggapi perdebatan mengenai risiko AI. Perdebatan itu mencakup esai CEO Anthropic Dario Amodei dan pernyataan mantan peneliti Anthropic Jacob Coxon yang menyuarakan kekhawatiran terhadap dampak teknologi tersebut.

Huang Pertanyakan Prediksi tentang Risiko AI

Huang menyebut sejumlah pernyataan berani mengenai ancaman AI tidak didukung kajian ilmiah. Ia mencontohkan berbagai prediksi yang pernah ramai dibicarakan sebelumnya, tetapi tidak terbukti. Salah satunya adalah anggapan bahwa AI akan segera menggantikan pekerjaan manusia secara luas.

Menurut Huang, prediksi tersebut hingga kini belum sepenuhnya terjadi. Karena itu, ia menilai pembahasan mengenai masa depan AI perlu didasarkan pada bukti dan kajian, bukan hanya kekhawatiran atau perkiraan yang belum terbukti.

Trump dan JD Vance Kritik Seruan Regulasi AI

Di luar percakapan dengan Huang, Trump juga secara terpisah menolak seruan para pemimpin perusahaan teknologi yang meminta perlambatan pengembangan AI. Seruan tersebut muncul karena AI dinilai berpotensi mengancam kehidupan manusia dan merusak dunia.

Dalam unggahan di Truth Social, Trump menyamakan pihak yang menyebut AI akan menghancurkan dunia dan pusat data berdampak buruk bagi lingkungan dengan pihak yang sebelumnya memprediksi dunia akan berakhir akibat perubahan iklim.

Wakil Presiden AS JD Vance turut mempertanyakan alasan para eksekutif teknologi meminta pemerintah memperketat pengawasan terhadap AI. Ia mengakui adanya risiko nyata dari teknologi tersebut, tetapi menilai manfaat AI juga perlu dipertimbangkan.

“Memang ada risiko nyata dari AI, tapi manfaatnya juga ada. Jujur saja, saya agak aneh melihat begitu banyak perusahaan teknologi terdepan justru datang dan memohon ke pemerintah agar mereka diregulasi,” kata Vance.

Masyarakat Masih Khawatir terhadap Dampak AI

Sikap Gedung Putih yang mendukung percepatan AI berseberangan dengan pandangan masyarakat yang semakin skeptis terhadap teknologi tersebut. Kekhawatiran terutama berkaitan dengan kemungkinan hilangnya lapangan pekerjaan karena sejumlah tugas manusia dapat dilakukan oleh AI.

Selain persoalan pekerjaan, masyarakat juga menyoroti dampak lingkungan dari pembangunan pusat data. Infrastruktur tersebut diperlukan untuk menopang perkembangan AI, tetapi keberadaannya turut memicu kekhawatiran terkait dampak yang mungkin ditimbulkan terhadap lingkungan sekitar.

Kesimpulan

Trump dan JD Vance menunjukkan dukungan kuat terhadap pengembangan AI serta menolak seruan untuk memperlambat kemajuan teknologi tersebut. Mereka menilai pusat data dan AI dapat menjadi sumber kekayaan serta manfaat ekonomi bagi Amerika Serikat. Di sisi lain, kekhawatiran mengenai risiko AI, hilangnya pekerjaan, dan dampak lingkungan masih terus berkembang di tengah masyarakat. Perdebatan antara percepatan inovasi dan kebutuhan pengawasan diperkirakan akan tetap menjadi isu penting dalam menentukan arah industri AI ke depan.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment