Genta Koja Menang Pemilu Okinawa, Gantikan Denny Tamaki yang Menolak Pangkalan Militer AS
Genta Koja memenangkan pemilihan gubernur Prefektur Okinawa, Jepang, pada Minggu (13/9). Kemenangan tersebut mengakhiri masa jabatan Denny Tamaki, gubernur petahana yang selama ini dikenal sebagai penentang keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat (AS) di Okinawa, termasuk rencana relokasi pangkalan ke wilayah Henoko.
Koja merupakan kandidat yang didukung partai berkuasa pimpinan Perdana Menteri Sanae Takaichi. Berdasarkan laporan AFP, Koja meraih 423.124 suara, sementara Tamaki memperoleh 276.060 suara. Selisih suara yang cukup besar membuat Koja berhasil menggeser Tamaki dari posisi gubernur Okinawa.
Genta Koja Dukung Relokasi Pangkalan Militer AS
Hasil pemilu ini dipandang penting karena memperlihatkan perbedaan sikap yang tegas antara Koja dan Tamaki terkait pangkalan militer AS di Okinawa. Koja mendukung relokasi pangkalan militer tersebut, tetapi menginginkan agar lokasinya dipindahkan ke wilayah yang minim penduduk.
Koja tetap menerima keberadaan pangkalan AS di Okinawa, prefektur paling selatan Jepang. Namun, ia menilai lokasi pangkalan perlu ditata agar tidak terlalu dekat dengan kawasan padat penduduk. Sikap ini berbeda dengan Tamaki yang secara konsisten mendesak pemerintah pusat Jepang untuk memindahkan pangkalan militer AS keluar dari Okinawa.
Dengan kemenangan Koja, arah kebijakan pemerintah prefektur terkait keberadaan pangkalan AS berpotensi mengalami perubahan. Dukungan terhadap relokasi dapat memperkuat pelaksanaan rencana pemindahan pangkalan Futenma ke kawasan pesisir Henoko.
Penolakan Denny Tamaki terhadap Pangkalan AS
Denny Tamaki dikenal luas karena menentang konsentrasi pangkalan militer AS di Okinawa. Ia menilai keberadaan pangkalan dalam jumlah besar dapat mengancam perdamaian serta menimbulkan berbagai persoalan bagi masyarakat setempat.
Penolakan Tamaki juga berkaitan dengan kekhawatiran terhadap dampak lingkungan dan hak otonomi masyarakat Okinawa. Pada 2023, pemerintah Jepang memberikan izin untuk merelokasi pangkalan Futenma AS ke pesisir Henoko, yang masih berada di wilayah Prefektur Okinawa.
Tamaki menentang keras keputusan tersebut karena menilai proyek relokasi berisiko merusak lingkungan pesisir. Selain itu, ia mempersoalkan langkah pemerintah pusat yang tetap menjalankan relokasi meskipun mendapat keberatan dari pemerintah prefektur.
Relokasi Henoko Abaikan Keberatan Prefektur
Keputusan pemerintah Jepang untuk memberikan izin relokasi tanpa mengindahkan keberatan Okinawa disebut sebagai kali pertama hal semacam itu terjadi di Jepang. Izin tersebut diberikan berdasarkan undang-undang otonomi daerah.
Rencana pemindahan pangkalan Futenma ke Henoko sebelumnya muncul setelah peristiwa kelam pada 1996. Saat itu, seorang remaja perempuan menjadi korban perkosaan oleh personel militer AS. Peristiwa tersebut mendorong keputusan untuk memindahkan pangkalan AS ke Distrik Henoko yang memiliki jumlah penduduk lebih sedikit.
Keluhan Warga Okinawa terhadap Pangkalan AS
Warga Okinawa selama ini menghadapi sejumlah persoalan yang dikaitkan dengan keberadaan pangkalan militer AS. Amerika Serikat memiliki sekitar 54 ribu personel militer di Jepang, dan sebagian besar di antaranya ditempatkan di Okinawa.
Konsentrasi personel serta fasilitas militer tersebut memunculkan keluhan masyarakat mengenai kasus kekerasan seksual, polusi, kebisingan, dan kecelakaan helikopter. Berbagai persoalan itu menjadi alasan sebagian warga mendukung sikap Tamaki yang menolak keberadaan pangkalan AS di wilayah mereka.
Di sisi lain, kemenangan Koja menunjukkan bahwa isu relokasi pangkalan memiliki dukungan politik yang cukup kuat. Koja tidak menolak keberadaan pangkalan secara keseluruhan, tetapi mendorong pemindahan ke kawasan yang lebih sedikit penduduknya.
Kesimpulan
Kemenangan Genta Koja dalam pemilu gubernur Okinawa mengakhiri kepemimpinan Denny Tamaki yang dikenal gigih menentang pangkalan militer AS. Koja meraih 423.124 suara, mengungguli Tamaki yang memperoleh 276.060 suara.
Perubahan kepemimpinan ini berpotensi memengaruhi sikap pemerintah Prefektur Okinawa terhadap relokasi pangkalan Futenma ke Henoko. Jika Tamaki menolak rencana tersebut dengan alasan lingkungan dan otonomi daerah, Koja justru mendukung relokasi dengan catatan lokasi pangkalan dipindahkan ke wilayah minim penduduk. Ke depan, isu keberadaan pangkalan AS, dampak lingkungan, serta keluhan masyarakat Okinawa akan tetap menjadi persoalan penting di bawah kepemimpinan baru.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment