Ahmad Zahid Hamidi Bertemu Gibran Bahas Pencegahan Kabut Asap Lintas Batas
JAKARTA — Wakil Perdana Menteri Malaysia Ahmad Zahid Hamidi bertemu Wakil Presiden Indonesia Gibran Rakabuming di Jakarta pada Kamis (17/9) siang. Pertemuan tersebut membahas persoalan kabut asap lintas batas yang turut berdampak pada sejumlah negara di kawasan, termasuk Malaysia.
Dalam lawatan itu, Ahmad Zahid menjelaskan bahwa Malaysia dan Indonesia akan membicarakan mekanisme koordinasi untuk mencegah kabut asap. Menurut dia, langkah pencegahan perlu menjadi perhatian utama agar persoalan serupa tidak berkembang menjadi masalah yang lebih sensitif di antara negara-negara tetangga.
Malaysia Dorong Langkah Pencegahan Sejak Dini
Ahmad Zahid menekankan pentingnya mengambil tindakan pencegahan sejak awal. Ia menilai, upaya preventif lebih baik dibandingkan menunggu dampak kabut asap meluas kemudian mencari solusi setelah masalah terjadi.
“Kami percaya pencegahan lebih baik daripada pengobatan, perlunya mengambil langkah-langkah pencegah sejak dini,” kata Ahmad Zahid dalam konferensi pers, seperti dikutip The Star.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika muncul seruan agar Indonesia memberikan ganti rugi atas dampak kabut asap yang dirasakan oleh warga Malaysia. Namun, Ahmad Zahid menilai pendekatan pencegahan perlu lebih diutamakan daripada mendorong tuntutan kompensasi.
Ganti Rugi Bukan Fokus Utama
Ahmad Zahid menegaskan bahwa pembayaran ganti rugi bukan tanggung jawab yang harus ditanggung oleh suatu negara. Ia menyebut, penyelesaian persoalan kabut asap membutuhkan kombinasi antara langkah diplomatik dan upaya teknis yang dilakukan oleh pejabat negara-negara tetangga.
“Langkah-langkah diplomatik harus diambil bersamaan dengan upaya teknis antara pejabat negara tetangga,” ujar Ahmad Zahid.
Menurut dia, koordinasi yang dilakukan sejak dini dapat membantu Malaysia dan Indonesia menghindari persoalan sensitif yang mungkin muncul akibat kabut asap. Dengan demikian, penanganan masalah tidak hanya dilakukan ketika dampak sudah dirasakan oleh masyarakat di negara lain.
Kabut Asap Menyelimuti Sejumlah Negara
Sejumlah wilayah di Indonesia mengalami kebakaran hutan dan lahan sejak bulan lalu. Kebakaran tersebut menimbulkan kabut asap yang kemudian turut menyelimuti negara-negara tetangga, seperti Malaysia, Filipina, dan Thailand.
Persoalan kabut asap lintas batas menjadi perhatian karena dampaknya tidak berhenti di wilayah yang mengalami kebakaran. Asap dapat menyebar ke negara lain sehingga membutuhkan komunikasi dan koordinasi antarpemerintah dalam penanganannya.
Berbagai Unsur Dikerahkan untuk Memadamkan Api
Pemerintah Indonesia telah melakukan sejumlah langkah untuk mengatasi dampak kebakaran hutan dan lahan. Pemadam kebakaran, badan penanggulangan bencana, militer, serta kepolisian dikerahkan untuk bekerja sama memadamkan api dan menangani titik-titik kebakaran.
Selain pengerahan personel dan berbagai unsur terkait, Indonesia juga melaksanakan operasi modifikasi cuaca atau OMC. Operasi tersebut dilakukan untuk mengondisikan awan agar dapat menghasilkan hujan sebagai bagian dari upaya penanganan kebakaran.
BNPB Minta Negara Tetangga Tidak Saling Menyalahkan
Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB meminta negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, agar tidak menyalahkan Indonesia atas dampak kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di wilayah Indonesia.
Permintaan tersebut disampaikan di tengah upaya penanganan kebakaran yang melibatkan berbagai pihak di dalam negeri. Pemerintah Indonesia terus mengerahkan unsur pemadam kebakaran, badan penanggulangan bencana, militer, dan polisi untuk mengatasi api serta titik-titik kebakaran.
Kesimpulan
Pertemuan Ahmad Zahid Hamidi dan Gibran Rakabuming menyoroti pentingnya koordinasi Indonesia dan Malaysia dalam mencegah kabut asap lintas batas. Malaysia mendorong langkah pencegahan sejak dini dan menilai upaya diplomatik perlu berjalan bersamaan dengan penanganan teknis.
Di sisi lain, Indonesia terus melakukan berbagai langkah untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan, termasuk pengerahan sejumlah unsur serta pelaksanaan operasi modifikasi cuaca. Ke depan, mekanisme koordinasi yang lebih awal diharapkan dapat membantu kedua negara mencegah meluasnya dampak kabut asap dan menghindari munculnya persoalan sensitif di antara negara-negara tetangga.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment