BNPB Laporkan 94 Pengungsi Gempa NTT Meninggal di Pengungsian

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 94 pengungsi gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggal dunia selama berada di lokasi pengungsian. Data tersebut disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam konferensi pers yang digelar secara daring pada Selasa (15/9).

Menurut BNPB, angka tersebut berbeda dengan jumlah korban yang meninggal secara langsung akibat gempa. Sebanyak 48 orang dinyatakan meninggal dunia sebagai dampak langsung bencana, sedangkan 94 korban lainnya meninggal secara tidak langsung saat berada di pengungsian.

BNPB Verifikasi Data Bersama Kementerian Kesehatan

Berton menjelaskan, BNPB bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah melakukan proses verifikasi dan validasi terhadap data korban di tujuh kabupaten terdampak gempa. Proses tersebut dilakukan untuk memastikan penyebab kematian para pengungsi serta membedakan korban yang meninggal akibat dampak langsung gempa dan korban yang meninggal karena kondisi kesehatan lainnya.

Hasil verifikasi menunjukkan bahwa 94 korban tersebut tidak meninggal akibat trauma fisik langsung maupun tertimpa runtuhan bangunan ketika gempa terjadi. Dengan demikian, korban-korban tersebut masuk dalam kategori meninggal secara tidak langsung selama berada di tempat pengungsian.

Mayoritas Korban Merupakan Lansia

Berdasarkan data tim medis, sebagian besar korban yang meninggal di pengungsian merupakan kelompok lanjut usia atau lansia. Mereka disebut meninggal karena mengalami komplikasi penyakit kronis yang telah diderita sebelumnya.

Beberapa penyakit yang disebut dalam data tersebut antara lain stroke dan diabetes melitus. Kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya menjadi faktor yang memengaruhi meninggalnya para pengungsi, bukan cedera fisik yang disebabkan oleh gempa maupun bangunan yang runtuh.

Pelayanan Kesehatan Tetap Berjalan

BNPB menyatakan penanganan medis telah dilakukan secara maksimal melalui berbagai fasilitas kesehatan dan pos kesehatan terpadu. Langkah tersebut ditujukan untuk memberikan pelayanan kepada para pengungsi, termasuk warga yang membutuhkan perawatan karena penyakit kronis maupun kondisi kesehatan lainnya.

Berton juga memastikan pelayanan dasar dan layanan kesehatan bagi para penyintas tetap berjalan secara optimal. Pernyataan tersebut disampaikan seiring dengan upaya penanganan terhadap warga terdampak yang masih berada di pengungsian, baik di lokasi terpusat maupun tempat pengungsian mandiri.

Dukungan Logistik Disalurkan dari Labuan Bajo dan Maumere

Sejak hari pertama bencana, BNPB telah mengaktifkan pos dukungan logistik di Labuan Bajo dan Maumere. Pos tersebut menjadi bagian dari upaya penyaluran berbagai kebutuhan bagi masyarakat terdampak gempa di NTT.

Bantuan yang disalurkan mencakup kebutuhan medis, obat-obatan, serta peralatan lain yang diperlukan selama masa tanggap bencana. BNPB menyebut bantuan tersebut terus bergerak untuk menjangkau para pengungsi, baik yang tinggal di tempat pengungsian terpusat maupun mereka yang mengungsi secara mandiri.

Kesimpulan

BNPB mencatat 94 pengungsi gempa NTT meninggal dunia secara tidak langsung selama berada di pengungsian. Berdasarkan hasil verifikasi bersama Kemenkes di tujuh kabupaten terdampak, mayoritas korban merupakan lansia yang meninggal karena komplikasi penyakit kronis, seperti stroke dan diabetes melitus. Sementara itu, korban yang meninggal secara langsung akibat gempa tercatat sebanyak 48 orang.

Ke depan, pelayanan kesehatan, pemenuhan kebutuhan dasar, serta distribusi obat-obatan dan bantuan medis bagi para penyintas perlu terus dipastikan berjalan optimal. BNPB menyatakan dukungan logistik dan layanan kesehatan tetap diberikan kepada para pengungsi, baik yang berada di lokasi terpusat maupun tempat pengungsian mandiri.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment