IHSG Ditutup Melemah 0,33 Persen ke Level 6.441, Sektor Properti Tertekan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Jumat (18/9) sore. IHSG berakhir di level 6.441, turun 21,27 poin atau 0,33 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Pelemahan ini berlangsung di tengah tekanan mayoritas sektor saham di Bursa Efek Indonesia.

Mengutip data RTI Infokom, nilai transaksi saham pada perdagangan tersebut mencapai Rp19,25 triliun. Sementara itu, volume saham yang berpindah tangan tercatat sebanyak 32,57 miliar saham.

Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah

Pergerakan saham pada akhir perdagangan menunjukkan tekanan yang cukup luas. Sebanyak 204 saham tercatat menguat, sedangkan 442 saham mengalami koreksi. Adapun 144 saham lainnya bergerak stagnan atau tidak mengalami perubahan dari posisi penutupan sebelumnya.

Komposisi tersebut memperlihatkan bahwa jumlah saham yang melemah jauh lebih banyak dibandingkan saham yang menguat. Kondisi ini turut menekan kinerja IHSG hingga berakhir di level 6.441.

Sektor Properti Memimpin Pelemahan

Dari 11 sektor yang tercatat dalam indeks sektoral, 10 sektor berakhir melemah. Sektor properti menjadi kelompok yang mengalami penurunan paling dalam, yakni sebesar 1,17 persen.

Pelemahan juga terjadi pada berbagai sektor lainnya, meskipun besarnya penurunan tidak dirinci dalam data perdagangan tersebut. Tekanan luas di mayoritas sektor menjadi salah satu faktor yang membayangi pergerakan IHSG pada Jumat sore.

Di tengah dominasi pelemahan, hanya sektor barang konsumen nonprimer yang berhasil mencatatkan penguatan. Sektor tersebut naik tipis 0,17 persen. Kenaikan ini menjadi satu-satunya penguatan di antara 11 sektor indeks pada penutupan perdagangan.

Bursa Asia Mayoritas Menguat

Pergerakan bursa saham di kawasan Asia menunjukkan kondisi yang relatif berbeda dari pasar saham Indonesia. Mayoritas indeks utama Asia terpantau bergerak di zona hijau.

Indeks Hang Seng Composite di Hong Kong menguat 0,60 persen. Kemudian, Shanghai Composite di China naik 0,94 persen. Penguatan paling tinggi di antara bursa Asia yang disebutkan terjadi pada indeks Nikkei 225 di Jepang, yang meningkat 1,38 persen.

Namun, tidak seluruh bursa Asia mencatatkan penguatan. Indeks Straits Times di Singapura justru melemah 0,31 persen. Perbedaan arah pergerakan tersebut menunjukkan bahwa kinerja pasar saham di kawasan Asia tidak sepenuhnya seragam pada perdagangan yang sama.

Bursa Eropa Dominan Melemah, Amerika Kompak Menguat

Berbeda dengan mayoritas bursa Asia, pasar saham Eropa terpantau dominan bergerak melemah. Indeks DAX di Jerman turun 0,44 persen, sementara indeks FTSE 100 di Inggris terkoreksi 0,53 persen.

Sementara itu, bursa saham Amerika Serikat bergerak kompak di zona hijau. Indeks S&P 500 menguat 1,14 persen. Indeks Nasdaq Composite mencatat kenaikan lebih tinggi, yakni 1,69 persen. Adapun indeks Dow Jones meningkat 0,61 persen.

Kesimpulan

IHSG menutup perdagangan Jumat (18/9) dengan pelemahan 0,33 persen ke level 6.441. Penurunan tersebut disertai dominasi saham yang terkoreksi serta pelemahan pada 10 dari 11 sektor indeks. Sektor properti menjadi penekan utama, sedangkan sektor barang konsumen nonprimer menjadi satu-satunya sektor yang menguat.

Di tengah pelemahan IHSG, mayoritas bursa Asia dan seluruh indeks utama Amerika Serikat yang disebutkan tercatat menguat. Sebaliknya, bursa Eropa cenderung melemah. Pergerakan IHSG pada perdagangan berikutnya akan tetap tercermin dari arah transaksi saham serta perkembangan kinerja masing-masing sektor di pasar.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment