Genburgeract, Gerakan Pemuda Bekasi Ubah Kritik Fasilitas Umum Menjadi Aksi Nyata

BEKASI – Sekelompok pemuda di Bekasi yang tergabung dalam Genburgeract menerjemahkan kritik terhadap fasilitas publik menjadi aksi nyata. Alih-alih hanya menyampaikan keluhan, mereka memilih memperbaiki, menyediakan, serta merawat sejumlah fasilitas umum yang dinilai kurang terawat.

Gerakan ini lahir dari pengalaman para anggotanya ketika beraktivitas di ruang publik. Jalan berlubang, halte yang memprihatinkan, serta sampah di ruang terbuka menjadi persoalan yang mereka temui dalam keseharian. Bagi Genburgeract, kondisi tersebut bukan sekadar masalah kenyamanan, tetapi juga berkaitan dengan keselamatan warga.

Berawal dari Keluhan Sepulang Kerja

Genburgeract terbentuk pada Januari 2026. Gagasan pembentukan gerakan tersebut bermula dari obrolan sejumlah rekan yang berkumpul setelah pulang kerja. Dalam percakapan itu, mereka membahas fasilitas umum yang tidak terawat serta banyaknya jalan berlubang di Bekasi.

Pembicaraan tersebut kemudian berkembang menjadi inisiatif bersama setelah mereka menyadari bahwa kerusakan fasilitas publik dapat menimbulkan risiko bagi masyarakat. Salah satu anggota Genburgeract, Ilham Haristianto atau Boim, mengatakan bahwa sejumlah anggota pernah mengalami kecelakaan akibat jalan rusak. Selain itu, ada pula pengalaman dari kerabat mereka yang menghadapi persoalan di halte yang tidak terawat.

Boim menjalankan gerakan ini bersama Syafii Maarif Al Hafiz atau Uweb, Jaka Prasetiyo, Geraldi Weimy Suhestian, dan Cornelia Agustine. Kelimanya sebelumnya pernah menjadi rekan sekantor, sebelum menjalani pekerjaan masing-masing dan sebagian memilih menjadi wirausahawan.

Memperbaiki Jalan hingga Menambah Bangku Halte

Salah satu aksi Genburgeract yang menarik perhatian adalah penyediaan tiga bangku panjang di Halte Komsen, Jatiasih, Bekasi. Bangku-bangku tersebut disusun berjajar di halte yang kondisinya memprihatinkan. Pada bagian bangku terdapat tulisan “dibikin warga” dan “burgeract”.

Bangku itu bukan fasilitas yang muncul begitu saja. Keberadaannya merupakan hasil inisiatif Genburgeract untuk menghadirkan sarana yang dapat digunakan oleh warga. Aksi tersebut kemudian didokumentasikan dan diunggah melalui akun Instagram mereka, @genburgeract.

Sebelum menyediakan bangku halte, Genburgeract telah melakukan sejumlah kegiatan lain. Mereka menambal jalan serta memberikan penanda pada jalan rusak di 15 titik. Selain itu, mereka membersihkan beberapa halte dan mengangkat sampah di taman kota.

Pembagian Peran yang Fleksibel

Meskipun hanya terdiri atas lima orang, Genburgeract tetap memiliki pembagian tanggung jawab. Cornelia menangani urusan administrasi dan kerja sama. Boim dan Jaka bertanggung jawab terhadap kebutuhan operasional, termasuk menyiapkan peralatan. Sementara itu, Uweb berfokus pada riset dan Weimy kerap tampil di depan kamera sebagai talent.

Namun, pembagian tugas tersebut tidak membuat mereka bekerja secara kaku. Genburgeract memilih konsep kerja yang fleksibel dan tidak hierarkis. Setiap anggota dapat saling mengisi sesuai kebutuhan di lapangan.

Menentukan Aksi Berdasarkan Tingkat Urgensi

Dalam menentukan kegiatan, Genburgeract terlebih dahulu melakukan pemantauan. Mereka kemudian menetapkan prioritas berdasarkan tingkat urgensi persoalan yang ditemukan. Gerakan ini juga berupaya agar aksinya tidak hanya terpusat di satu lokasi, tetapi tersebar di berbagai wilayah Bekasi.

Setiap kegiatan membutuhkan biaya, terutama untuk pengadaan peralatan dan material. Untuk perbaikan jalan, misalnya, dana yang dibutuhkan berkisar Rp1,5 juta hingga Rp3 juta. Pada awalnya, biaya tersebut ditanggung melalui patungan para anggota.

Seiring berjalannya waktu, dukungan dari berbagai pihak mulai berdatangan. Warga memberikan bantuan berupa alat dan kendaraan, sementara kebutuhan lain diperoleh melalui platform donasi sukarela serta kolaborasi dengan sejumlah merek.

Dukungan tersebut turut meningkatkan kualitas pekerjaan Genburgeract. Pada masa awal, mereka menggunakan aspal instan atau cold mix untuk memperbaiki jalan. Melalui kolaborasi, mereka kemudian memperoleh kesempatan menggunakan beton.

Kritik yang Disampaikan melalui Karya

Genburgeract tidak memandang kegiatannya semata-mata sebagai bentuk kerelawanan. Perbaikan dan pemeliharaan fasilitas umum juga menjadi cara mereka menyampaikan kritik kepada pemerintah.

Menurut Boim, kritik dapat disalurkan melalui berbagai cara. Genburgeract memilih untuk mendokumentasikan aksi menggunakan ponsel pribadi dan membagikannya melalui media sosial. Bagi mereka, hasil pekerjaan tersebut merupakan karya sekaligus pernyataan mengenai persoalan publik yang belum sepenuhnya ditangani.

Media sosial menjadi sarana utama Genburgeract untuk menyebarkan dokumentasi dan pandangan mereka. Dalam waktu sekitar tujuh bulan, akun Instagram Genburgeract telah memiliki 19,2 ribu pengikut, sedangkan akun TikTok mereka diikuti 66,2 ribu pengguna.

Berkomunikasi dengan Pemerintah

Aksi Genburgeract juga telah mendapat perhatian dari pemerintah, termasuk DPRD Kota Bekasi. Boim menyebutkan bahwa timnya pernah berdiskusi dengan anggota DPRD. Dalam pertemuan tersebut, mereka memperoleh apresiasi, masukan, dan kesempatan untuk bertukar pandangan.

Genburgeract memahami bahwa pemerintah memiliki keterbatasan sumber daya dan harus menentukan banyak prioritas. Karena itu, mereka menilai masyarakat tetap memiliki ruang untuk mengambil peran, khususnya dalam persoalan yang sifatnya cepat, lokal, dan dampaknya dapat langsung dirasakan.

Meski demikian, Genburgeract mengingatkan agar keterlibatan warga tidak membuat pemerintah mengabaikan tanggung jawabnya. Mereka tetap mendorong Pemerintah Kota Bekasi agar lebih cepat merespons kebutuhan masyarakat tanpa menunggu inisiatif warga.

“Jangan sampai apa yang kami lakukan ini malah Genburgeract terus,” ujar Boim.

Menjaga Semangat “Warga Bantu Warga”

Genburgeract mengajak generasi muda untuk mengamati persoalan di sekitar, menentukan hal yang perlu dihadirkan, lalu bergerak membuat perubahan. Semangat tersebut berangkat dari pemahaman bahwa warga Bekasi memiliki mobilitas dan aktivitas yang sama-sama bersinggungan dengan kondisi fasilitas publik.

Setelah sejumlah fasilitas diperbaiki, ditambahkan, dan dibersihkan, Genburgeract juga mengajak masyarakat untuk ikut menjaga hasilnya. Mereka tidak menetapkan target besar, melainkan berfokus mempertahankan keberlanjutan gerakan dan konsisten menjalankan komitmen yang telah dibangun sejak awal.

Kesimpulan

Genburgeract menunjukkan bahwa kritik terhadap fasilitas publik dapat diwujudkan melalui aksi konkret. Dengan memperbaiki jalan, membersihkan ruang publik, serta menyediakan bangku halte, kelompok pemuda ini berusaha menghadirkan perubahan yang langsung dirasakan warga Bekasi.

Ke depan, keberlanjutan gerakan tersebut bergantung pada komitmen para anggotanya, dukungan masyarakat, dan respons pemerintah terhadap kebutuhan warga. Semangat “warga bantu warga” dapat menjadi dorongan positif, tetapi perbaikan fasilitas umum tetap perlu diikuti tanggung jawab pemerintah agar persoalan serupa tidak terus berulang.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment