Warga Hong Kong Beri Penghormatan Terakhir untuk Tung Chee Hwa

Hong Kong — Para pejabat dan warga Hong Kong memberikan penghormatan terakhir kepada Tung Chee Hwa dalam sebuah upacara yang digelar pada Minggu (20/9). Tung, yang dikenal sebagai pemimpin pertama Hong Kong setelah wilayah tersebut kembali ke China, meninggal dunia pada Rabu (9/9) dini hari waktu setempat dalam usia 89 tahun.

Upacara penghormatan itu menjadi momen bagi masyarakat untuk mengenang sosok yang pernah memimpin Hong Kong dalam masa transisi penting. Selain dikenal sebagai pemimpin pertama Hong Kong pascapenyerahan dari Inggris kepada China, Tung juga merupakan seorang taipan di bidang pelayaran.

Jenazah Tung Diantar ke Krematorium

Jenazah Tung ditempatkan di dalam peti mati yang diselimuti bendera nasional China. Peti tersebut kemudian diangkut dari Rumah Duka Hong Kong menuju krematorium untuk menjalani proses kremasi.

Suasana penghormatan terakhir terlihat di sekitar lokasi. Ratusan karangan bunga yang dikirimkan oleh para pejabat berjajar di sepanjang jalan di luar ruang penghormatan. Berbagai ucapan duka juga disampaikan oleh lembaga dan individu yang mengenal atau menghormati perjalanan hidup Tung.

Salah satu pesan datang dari almamater Tung, University of Liverpool. Pesan tersebut berbunyi, “Kami mengenangnya dengan penuh rasa terima kasih dan hormat.” Ucapan itu mencerminkan penghargaan terhadap kontribusi Tung serta hubungan yang ia miliki dengan berbagai kalangan.

Memimpin Hong Kong dalam Masa Penuh Gejolak

Tung Chee Hwa dipilih China untuk memimpin Hong Kong setelah Inggris menyerahkan wilayah tersebut kepada China pada 1997. Ia kemudian menjalani masa kepemimpinan selama delapan tahun, sebuah periode yang diwarnai oleh berbagai tantangan politik, ekonomi, dan kesehatan masyarakat.

Dalam masa jabatannya, Tung menghadapi krisis keuangan Asia serta wabah SARS. Sejumlah kebijakan yang ia keluarkan juga memicu protes luas dan perbedaan pendapat di tengah masyarakat. Setelah memimpin selama delapan tahun, Tung mengundurkan diri pada 2005.

Meski kebijakannya tidak selalu diterima semua pihak, sejumlah warga tetap mengenang Tung sebagai sosok yang berusaha menjalankan tanggung jawabnya dalam situasi yang sulit. Cheung Kwok Lik, seorang pensiunan pekerja renovasi, menilai masa kepemimpinan Tung sama sekali tidak mudah karena harus berhadapan dengan krisis keuangan Asia dan wabah SARS.

Warga Mengenang Sosok yang Santun

Cheung bahkan rela menempuh perjalanan selama satu jam untuk menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Tung. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa sebagian warga masih menaruh penghormatan terhadap pemimpin pertama Hong Kong setelah wilayah itu kembali ke China.

Warga lainnya, Kiki Ho, mengaku telah memberikan penghormatan terakhir. Namun, ia masih merasakan kesedihan dan emosi setelah mengenang sosok Tung.

“Dia adalah sosok yang santun dan berpengalaman yang sungguh-sungguh ingin berbuat sesuatu bagi Hong Kong, namun kancah politik mungkin terlalu rumit baginya,” ujar Ho seperti dilaporkan AFP.

Dianggap sebagai Penghubung China, Hong Kong, dan AS

Selama beberapa dekade, Tung juga dikenal berperan sebagai jembatan antara China, Hong Kong, dan Amerika Serikat. Hubungan tersebut membuatnya dikenang bukan hanya sebagai mantan pemimpin Hong Kong, tetapi juga sebagai tokoh yang memiliki pandangan mengenai pentingnya komunikasi lintas negara.

Max Baucus, mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk China, menyebut Tung sebagai sahabat karib. Menurut Baucus, hingga masa akhir hidupnya, Tung tetap meyakini bahwa China dan Amerika Serikat perlu menjamin serta memelihara perdamaian bersama.

Baucus menambahkan bahwa Tung memandang diplomasi antarwarga sebagai cara terbaik untuk mencapai perdamaian tersebut. Pandangan itu memperlihatkan keyakinan Tung bahwa hubungan antarmasyarakat dapat membantu memperkuat pemahaman dan menjaga komunikasi di antara negara-negara.

Kesimpulan

Penghormatan terakhir bagi Tung Chee Hwa memperlihatkan bagaimana sosoknya dikenang secara beragam oleh pejabat, warga Hong Kong, institusi pendidikan, dan tokoh internasional. Ia memimpin Hong Kong selama periode penuh tantangan, menghadapi krisis keuangan Asia, wabah SARS, serta kontroversi atas sejumlah kebijakannya.

Meski perjalanan politiknya tidak lepas dari perbedaan pendapat, Tung tetap dikenang sebagai pemimpin yang santun, berpengalaman, dan berupaya berbuat sesuatu bagi Hong Kong. Warisan pemikirannya mengenai pentingnya diplomasi antarwarga juga menjadi bagian dari pandangan yang terus dikenang setelah kepergiannya.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment