Karhutla Jawa Timur Meluas, 1.459 Hektare Lahan di Kawinajang-Buthak Terbakar
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Jawa Timur masih berlangsung hingga Sabtu (19/9). Dua kawasan gunung yang terdampak adalah kawasan Gunung Kawinajang yang berbatasan dengan Gunung Buthak serta kawasan Gunung Wilis di Kabupaten Nganjuk.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur, kebakaran di wilayah Gunung Kawinajang dan Gunung Buthak telah menghanguskan sekitar 1.459 hektare lahan. Namun, angka tersebut masih bersifat sementara dan berpotensi bertambah seiring proses pemantauan serta pendataan yang terus dilakukan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno, mengatakan penanganan karhutla dilakukan melalui operasi gabungan di jalur darat dan udara. Tim yang terlibat terdiri atas BPBD Provinsi Jawa Timur, BPBD kabupaten, Perhutani, relawan, serta asosiasi warga setempat.
1.459 Hektare Lahan Terbakar di Kawinajang dan Buthak
Satriyo menyebut luas area yang terbakar di kawasan Gunung Kawinajang dan Gunung Buthak mencapai kurang lebih 1.459 hektare. Data tersebut masih terus diperbarui karena kondisi kebakaran dan area terdampak masih dalam pemantauan.
“Luas area terbakar kurang lebih 1.459 hektare dan data berkembang,” kata Satriyo.
Tim gabungan terus berupaya mengendalikan api dengan menyesuaikan kondisi di lapangan. Pemadaman dilakukan menggunakan dukungan armada udara, sementara personel di darat berfokus pada titik api yang masih dapat dijangkau serta pencegahan agar api tidak menyebar lebih luas.
Operasi Water Bombing Terkendala Kabut
Dalam operasi udara, BPBD mengerahkan helikopter PK-DAP yang memiliki kapasitas bucket air 1.000 liter. Helikopter tersebut telah melakukan beberapa kali pengeboman air atau water bombing di kawasan Gunung Buthak.
Pada sortie pertama dan kedua, total 3.000 liter air telah dijatuhkan untuk membantu memadamkan api. Operasi udara masih terus dimaksimalkan karena hasil observasi menunjukkan adanya kepulan asap yang masih terlihat di wilayah Gunung Kawinajang.
“Helikopter PK-DAP saat ini telah melakukan observasi dengan hasil masih terpantau kepulan asap di wilayah Gunung Kawinajang dan melanjutkan operasi water bombing,” ujar Satriyo.
Meski demikian, pelaksanaan pemadaman dari udara menghadapi kendala cuaca. Kabut yang menutupi lokasi membuat jarak pandang pilot menuju titik kepulan asap menjadi terganggu. Kondisi tersebut turut memengaruhi upaya untuk menjangkau titik-titik api secara optimal.
Medan Ekstrem Hambat Pemadaman dari Darat
Selain operasi udara, pemadaman melalui jalur darat juga terus dilakukan. Namun, petugas menghadapi medan yang sangat ekstrem. Sejumlah titik api berada di area yang sulit dijangkau, terutama karena kondisi geografis dan vegetasi yang terbakar.
Dalam situasi tersebut, personel lebih banyak memprioritaskan langkah antisipasi untuk membatasi penyebaran api. Salah satu upaya yang dilakukan adalah membuat sekat di wilayah Gunung Malang. Petugas juga tetap memadamkan api yang masih berada dalam jangkauan.
“Personel penanganan jalur darat saat ini melakukan pembuatan sekat di wilayah Gn. Malang serta pemadaman api yang masih dapat dijangkau,” ucap Satriyo.
Faktor alam menjadi salah satu hambatan utama dalam penanganan karhutla, baik bagi armada udara maupun tim pemadam di darat. Kabut menyulitkan helikopter dalam melakukan pengamatan, sedangkan medan yang berat membatasi pergerakan personel di lokasi kebakaran.
Gunung Wilis Terdampak Karhutla
Karhutla juga melanda kawasan Gunung Wilis yang berada dalam wilayah administratif Kabupaten Nganjuk. BPBD Jawa Timur masih melakukan pemantauan dan pendataan secara berkala untuk mengetahui perkembangan area yang terdampak.
Hingga saat ini, luas kawasan Gunung Wilis yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 50 hektare. BPBD menyatakan data tersebut masih dapat berubah sesuai hasil pemantauan di lapangan.
“Di Gunung Wilis luas wilayah yang terdampak mencapai 50 hektare, data dapat berkembang,” kata Satriyo.
Api Berada di Area Puncak dengan Tebing Curam
Tim gabungan di Gunung Wilis memantau pergerakan api dari jarak jauh. Pemantauan tersebut dilakukan karena lokasi kebakaran berada di area dengan tebing yang cukup curam. Kondisi ini membuat pemadaman secara manual menjadi sulit dilakukan.
Masyarakat lokal, personel darat, serta asosiasi warga dan pedagang turut berupaya memutus jalur rambatan api. Salah satu langkah yang ditempuh adalah membuat sekat bakar agar api tidak meluas ke area lain.
Satriyo menjelaskan, posisi titik api di Gunung Wilis juga menyulitkan akses petugas, sebagaimana yang terjadi di kawasan Gunung Kawinajang. Titik api berada di area puncak Gunung Wilis dengan medan yang terjal dan curam, sementara kondisi cuaca masih tertutup kabut.
Kesimpulan
Karhutla di Jawa Timur masih memerlukan penanganan berkelanjutan. Kebakaran di kawasan Gunung Kawinajang dan Gunung Buthak telah berdampak pada sekitar 1.459 hektare lahan, sedangkan kawasan Gunung Wilis di Kabupaten Nganjuk terdampak sekitar 50 hektare.
Tim gabungan terus mengoptimalkan pemadaman melalui jalur udara dan darat. Namun, kabut, medan ekstrem, tebing curam, serta lokasi titik api yang sulit dijangkau menjadi tantangan utama. Ke depan, pemantauan dan pendataan masih akan dilakukan karena luas area terdampak berpotensi berkembang, sementara upaya pembuatan sekat dan pemadaman tetap dilanjutkan untuk membatasi penyebaran api.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment