Trump Dukung Rencana Larangan Ekspor Solar AS di Tengah Harga BBM Rekor
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendukung rencana pembatasan atau pelarangan ekspor solar di tengah lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) yang mencapai rekor tertinggi. Kebijakan tersebut tengah dikaji pemerintah AS sebagai salah satu langkah untuk menambah pasokan bahan bakar di dalam negeri dan meredam tekanan harga yang dirasakan masyarakat.
Data American Automobile Association (AAA) mencatat harga rata-rata solar di Amerika Serikat telah mencapai US$6,51 per galon. Dengan asumsi nilai tukar Rp17.800 per dolar AS, angka tersebut setara sekitar Rp116 ribu per galon. Satu galon sendiri setara dengan kurang lebih 3,7 liter.
Trump Dorong Solar Diprioritaskan untuk Pasar Domestik
Trump menyampaikan dukungannya terhadap rencana tersebut kepada wartawan menjelang pertemuan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy pada Selasa (22/9). Ia menegaskan bahwa AS sebaiknya tidak mengirimkan solar ke luar negeri ketika harga BBM di dalam negeri sedang mengalami kenaikan tajam.
“Saya sudah mengatakan, mari kita jangan ekspor solar. Kita menghasilkan banyak solar. Saya sudah menyerukannya, sudah saya serukan kepada orang-orang saya,” kata Trump, seperti dilansir Reuters.
Trump mengaitkan pembahasan pembatasan ekspor solar dengan serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia. Menurut dia, serangan tersebut tidak hanya memberikan dampak terhadap Rusia, tetapi juga ikut memengaruhi harga solar di pasar internasional.
Selain membicarakan dampak konflik terhadap energi, Trump mengatakan akan membahas upaya mencari solusi untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina bersama Zelenskiy.
Pemerintah AS Masih Mengkaji Dampak Kebijakan
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pemerintah masih mengevaluasi kelayakan larangan ekspor solar. Kajian tersebut mencakup berbagai skenario, baik pembatasan secara penuh maupun hanya sebagian.
Keputusan mengenai kebijakan itu dinilai tidak sederhana karena pasar bahan bakar AS memiliki keterkaitan erat dengan pasar internasional. Harga solar di AS dan Eropa melonjak ke level tertinggi setelah perang di Iran serta konflik Ukraina-Rusia memangkas ekspor dari sejumlah produsen besar, termasuk Rusia, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Di dalam negeri, kenaikan harga BBM menjadi persoalan penting bagi pemerintahan Trump menjelang pemilu sela pada 3 November. Partai Republik berupaya mempertahankan mayoritas mereka di kedua kamar Kongres. Karena itu, tingginya harga solar dan kebutuhan pokok menjadi perhatian politik yang semakin besar.
Dukungan dari Sejumlah Politikus Republik
Sejumlah kandidat Partai Republik yang bersaing ketat untuk mendapatkan kursi di Kongres turut mendorong pembatasan ekspor solar. Senator Alaska Dan Sullivan, misalnya, meminta penghentian sementara ekspor untuk menambah cadangan bahan bakar menjelang musim dingin.
“BBM Amerika seharusnya tetap untuk warga Amerika. Harga solar terlalu mahal,” ujar Sullivan dalam pernyataannya.
Harga pangan dan berbagai kebutuhan lainnya juga menjadi perhatian utama pemilih. Departemen Pertanian AS sebelumnya telah meminta Gedung Putih mengambil langkah untuk menghadapi kenaikan harga solar. Menteri Pertanian Brooke Rollins menyebut dirinya telah membahas persoalan tersebut dengan Trump dan menilai tingginya harga bahan bakar sebagai masalah yang perlu segera diperhatikan.
Pejabat Energi Ingatkan Risiko Larangan Ekspor
Meski mendapat dukungan dari Trump dan sejumlah politikus, rencana larangan ekspor solar menghadapi peringatan dari pejabat energi serta kelompok industri minyak AS. Menteri Energi Chris Wright mengatakan kebijakan tersebut justru berpotensi menaikkan harga bahan bakar di wilayah pesisir AS.
Menurut Wright, pembatasan ekspor dapat menyebabkan kelebihan pasokan solar di kawasan Gulf Coast. Kondisi itu berpotensi mendorong perusahaan penyulingan untuk mengurangi tingkat produksinya. Jika terjadi, produksi bensin juga dapat ikut tertekan.
“Jika Anda mulai memasang hambatan pada arus perdagangan, Anda akan dengan cepat mengurangi produksi dan memiliki pasokan yang lebih sedikit. Kita membutuhkan lebih banyak pasokan, bukan lebih sedikit pasokan,” kata Wright dalam sebuah acara pada pekan sebelumnya.
Menteri Dalam Negeri AS Doug Burgum juga memperingatkan bahwa larangan ekspor belum tentu menurunkan harga minyak. Menurutnya, kebijakan tersebut bahkan dapat memicu tindakan balasan dari negara-negara pengekspor energi.
Kelompok industri minyak AS turut menolak rencana itu. Presiden Texas Oil & Gas Association (TXOGA) Todd Staples mengatakan pelarangan ekspor dapat berdampak terhadap lapangan kerja domestik dan pasokan bahan bakar di dalam negeri.
Dampak terhadap Pasar Eropa
Pembatasan ekspor solar AS juga berpotensi memberikan tekanan terhadap pasar Eropa. Walaupun kebijakan tersebut secara teori dapat menekan harga solar untuk sementara waktu di kawasan Gulf Coast, pasokan di Eropa berisiko semakin ketat.
Eropa secara struktural masih mengalami kekurangan solar dan cukup bergantung pada pasokan dari AS. Jim Mitchell, direktur analisis perdagangan minyak Wood Mackenzie, menilai kebijakan tersebut dapat merugikan sejumlah negara yang menjadi sekutu utama AS.
“Hal itu tampaknya akan cukup merugikan bagi sejumlah sekutu utama AS,” ujar Mitchell.
Kesimpulan
Rencana larangan ekspor solar menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan pemerintahan Donald Trump untuk menghadapi harga BBM yang mencapai rekor. Trump dan sejumlah politikus Partai Republik menilai pasokan domestik perlu diprioritaskan bagi masyarakat AS, terutama menjelang pemilu sela.
Namun, kebijakan tersebut masih menghadapi berbagai risiko. Pejabat energi dan pelaku industri memperingatkan bahwa pembatasan ekspor dapat mengurangi produksi, menaikkan harga di wilayah tertentu, serta memperketat pasokan bagi negara-negara Eropa. Pemerintah AS kini perlu menimbang dampak kebijakan secara menyeluruh sebelum menentukan apakah larangan diberlakukan secara penuh, sebagian, atau tidak diterapkan.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment