Rupiah Menguat ke Rp17.818 per Dolar AS, Rebound Setelah Sempat Melemah
Nilai tukar rupiah ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (23/9) sore. Mata uang Garuda berada di level Rp17.818 per dolar AS, naik 66 poin atau 0,37 persen dibandingkan posisi pada perdagangan sebelumnya.
Penguatan tersebut terjadi ketika pergerakan mata uang Asia terhadap dolar AS berlangsung bervariasi. Di tengah tekanan terhadap sejumlah mata uang regional dan negara maju, rupiah mampu mencatatkan penguatan setelah sebelumnya mengalami pelemahan dalam beberapa sesi perdagangan.
Rupiah Menguat 0,37 Persen
Rupiah mengakhiri perdagangan di level Rp17.818 per dolar AS. Kenaikan sebesar 66 poin atau 0,37 persen menunjukkan adanya penguatan setelah mata uang Garuda sempat bergerak melemah dalam beberapa sesi sebelumnya.
Analis mata uang DOO Financial Futures, Lukman Leong, menyebut penguatan rupiah pada perdagangan kali ini sebagai rebound yang cukup tajam. Menurut dia, hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia atau RDG BI yang telah dinantikan pasar relatif sesuai dengan ekspektasi.
“Rupiah ditutup di level Rp17.818 per dolar AS, rebound tajam setelah beberapa sesi melemah, meski hasil RDG BI relatif sesuai ekspektasi,” ujar Lukman, Rabu (23/9).
Pergerakan Mata Uang Asia Bervariasi
Kinerja rupiah berlangsung di tengah pergerakan mata uang Asia yang tidak seragam terhadap dolar AS. Peso Filipina tercatat menguat 0,13 persen, sehingga menjadi salah satu mata uang kawasan yang mampu mencatatkan penguatan pada perdagangan tersebut.
Sejumlah Mata Uang Asia Melemah
Di sisi lain, beberapa mata uang utama Asia mengalami pelemahan. Yuan China turun 0,10 persen, sedangkan ringgit Malaysia terdepresiasi 0,08 persen. Dolar Singapura juga melemah 0,17 persen terhadap dolar AS.
Pelemahan lebih lanjut terjadi pada yen Jepang yang turun 0,29 persen dan won Korea Selatan yang terdepresiasi 0,90 persen. Sementara itu, dolar Hong Kong tercatat bergerak datar.
Pergerakan yang beragam tersebut menunjukkan bahwa penguatan rupiah terjadi ketika mata uang regional menghadapi kondisi yang berbeda-beda terhadap dolar AS. Rupiah justru mampu berbalik menguat setelah sebelumnya mengalami tekanan dalam beberapa sesi perdagangan.
Mata Uang Negara Maju Kompak Melemah
Selain kawasan Asia, mayoritas mata uang negara maju juga tercatat melemah terhadap dolar AS. Euro Eropa turun 0,24 persen, sementara poundsterling Inggris melemah 0,31 persen.
Dolar Australia mengalami koreksi sebesar 0,41 persen. Adapun dolar Kanada turun 0,14 persen dan franc Swiss melemah 0,22 persen. Kondisi tersebut memperlihatkan penguatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia pada perdagangan Rabu.
Intervensi BI dan Pelepasan Posisi Dolar
Lukman Leong menilai penguatan rupiah kemungkinan lebih banyak dipengaruhi oleh intervensi Bank Indonesia serta pelepasan posisi dolar setelah hasil RDG BI tidak memberikan kejutan bagi pasar.
Menurutnya, pelaku pasar kemungkinan telah mengambil posisi berdasarkan rumor atau ekspektasi sebelum rapat. Setelah hasil rapat diumumkan dan tidak menghadirkan kejutan, sebagian posisi tersebut kemudian dilepas. Kondisi ini dikenal dengan istilah buy the rumor, sell the fact.
“Penguatan ini kemungkinan lebih dipengaruhi intervensi BI dan unwinding posisi dolar setelah tidak ada kejutan dalam rapat tersebut, atau buy the rumor, sell the fact,” kata Lukman.
Kesimpulan
Rupiah berhasil menguat 0,37 persen ke level Rp17.818 per dolar AS pada perdagangan Rabu (23/9). Penguatan ini menjadi rebound setelah mata uang Garuda melemah dalam beberapa sesi sebelumnya. Di tengah pergerakan mata uang Asia yang bervariasi dan pelemahan mayoritas mata uang negara maju, rupiah mampu mencatatkan kinerja positif.
Menurut analis, penguatan tersebut kemungkinan didorong oleh intervensi Bank Indonesia dan pelepasan posisi dolar setelah hasil RDG BI sesuai dengan ekspektasi pasar. Ke depan, arah pergerakan rupiah masih akan mencermati respons pasar terhadap hasil rapat tersebut serta dinamika posisi dolar, sementara intervensi BI berpotensi tetap menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment