Iran Rombak Jajaran Keamanan, Tunjuk Tokoh Garis Keras untuk Hadapi AS
Iran merombak jajaran petinggi keamanannya dengan menunjuk sejumlah tokoh senior dan garis keras. Perubahan ini dilakukan pada awal bulan oleh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei. Langkah tersebut dinilai menunjukkan arah kebijakan Teheran yang semakin tegas dalam menghadapi kemungkinan konfrontasi jangka panjang dengan Amerika Serikat (AS).
Beberapa nama yang kembali mendapat posisi strategis antara lain Mohsen Rezaei, Hossein Taeb, Ahmad Vahidi, dan Ali Abdollahi. Mereka memiliki pengalaman panjang di lingkungan militer, intelijen, serta aparat keamanan Iran. Penunjukan tersebut juga dipandang sebagai upaya Mojtaba Khamenei mengembalikan sejumlah tokoh lama Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC ke pusat kekuasaan.
Jason Brodsky, direktur kebijakan lembaga think tank United Against Nuclear Iran (UANI), menilai masuknya tokoh-tokoh tersebut mengindikasikan penerapan sikap yang lebih konfrontatif dan berani mengambil risiko. Menurutnya, susunan baru itu mencerminkan keyakinan Iran bahwa negara tersebut akan berada dalam situasi siaga perang dalam waktu yang panjang.
Mohsen Rezaei Kembali ke Posisi Strategis
Mohsen Rezaei merupakan salah satu tokoh paling dikenal dalam sejarah IRGC. Ia pernah menjabat sebagai komandan pasukan tersebut pada dekade 1980-an dan 1990-an, termasuk ketika Iran terlibat perang melawan Irak pada 1980-an. Sosoknya kerap muncul di televisi Iran dengan penampilan tegas dan janggut hitam yang menjadi ciri khasnya.
Rezaei sempat mencoba memasuki dunia politik, tetapi beberapa kali gagal dalam pencalonan presiden. Penunjukannya secara mendadak untuk menduduki jabatan penting yang sebelumnya pernah dipegang Ali Larijani juga mengejutkan sejumlah pengamat.
Rezaei dikenal sebagai tokoh garis keras yang menentang AS dan Israel. Pada 2020, pemerintah AS menjatuhkan sanksi terhadapnya karena menuduh ia terlibat dalam serangan terhadap sebuah pusat komunitas Yahudi di Argentina pada 1994.
Sikap keras Rezaei juga terlihat dari sejumlah pernyataannya. Pada April, ia memperingatkan bahwa Iran akan menenggelamkan kapal-kapal AS di Selat Hormuz apabila Washington berusaha memandu kapal yang terjebak di jalur pelayaran vital tersebut. Pada Juni, ia kembali menyatakan bahwa setiap serangan AS akan dibalas dengan “hujan” rudal Iran.
Hossein Taeb Memimpin Basij
Tokoh lain yang mendapat posisi penting adalah Hossein Taeb. Ia ditunjuk sebagai pemimpin Basij, kelompok milisi pemuda berskala besar yang berada di bawah naungan IRGC. Basij dikenal memiliki peran dalam penegakan keamanan di berbagai wilayah permukiman Iran.
Sebelum menduduki jabatan tersebut, Taeb memimpin divisi intelijen IRGC selama hampir 15 tahun. Ia kemudian dicopot secara mendadak pada Juni 2022. Alasan pencopotannya tidak pernah dijelaskan secara terbuka. Pergantian tersebut terjadi bersamaan dengan bocornya informasi mengenai dugaan rencana serangan terhadap warga Israel di Turki.
Taeb telah lama dikenal memiliki hubungan dekat dengan Mojtaba Khamenei. Penunjukannya sebagai pemimpin Basij dinilai mengirimkan sinyal bahwa pemerintah Iran ingin memperkuat kendali keamanan domestik dan mencegah terulangnya demonstrasi masyarakat seperti yang terjadi pada Januari.
Brodsky mengatakan, penunjukan Taeb juga mencerminkan kekhawatiran penguasa Iran terhadap kemungkinan munculnya kembali kerusuhan akibat kondisi ekonomi yang memburuk. Dalam situasi tersebut, Basij diperkirakan akan memainkan peran penting dalam menghadapi aksi protes di masa mendatang.
Ahmad Vahidi dan Ali Abdollahi Dapat Peran Militer
Vahidi Menjadi Panglima Baru
Ahmad Vahidi, yang pernah menjabat sebagai menteri dalam negeri dan menteri pertahanan, kini menjadi panglima ketiga bagi pasukan militer ideologis Iran dalam waktu kurang dari satu tahun. Ia menggantikan Mohammad Pakpour, yang disebut gugur pada hari pertama perang, serta Hossein Salami yang gugur dalam perang selama 12 hari antara Israel dan Iran pada Juni 2025.
Vahidi selama ini jarang tampil di hadapan publik. Ia baru terlihat secara terbuka ketika menghadiri upacara pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada Juli. Pada 2022, AS menjatuhkan sanksi terhadap Vahidi dengan tuduhan bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi manusia berat selama gelombang protes pada tahun tersebut.
Abdollahi Menghubungkan Angkatan Bersenjata dan IRGC
Ali Abdollahi sebelumnya memimpin Khatam Al Anbiya, komando militer pusat lintas matra Iran yang bertugas mengoordinasikan operasi. Dalam jabatan barunya, ia memikul tanggung jawab penting untuk mengatur hubungan antara angkatan bersenjata reguler dan IRGC.
Abdollahi juga dikenal cukup vokal selama masa perang. Pada Juni, ia memperingatkan bahwa serangan baru dari AS akan dibalas dengan kekuatan yang lebih besar. Ia mengatakan, konflik tersebut tidak hanya akan meningkatkan ketidakamanan di kawasan, tetapi juga berpotensi meluas dan menimbulkan dampak yang jauh lebih besar.
Penataan Keamanan Iran dan Arah Hubungan dengan AS
Rombakan ini memperlihatkan upaya Mojtaba Khamenei menempatkan tokoh-tokoh berpengalaman dan memiliki sikap keras di sejumlah posisi keamanan utama. Kembalinya “generasi lama” IRGC dapat memperkuat koordinasi antara unsur militer, intelijen, dan aparat keamanan dalam menghadapi ancaman eksternal maupun tekanan dari dalam negeri.
Meski demikian, dampak langsung penunjukan tersebut terhadap jalur diplomasi Iran dan AS masih belum dapat dipastikan. Susunan baru ini bisa mempertegas sikap Teheran dalam menghadapi Washington, tetapi perkembangan berikutnya akan sangat bergantung pada situasi keamanan, kondisi ekonomi, serta potensi munculnya kembali ketegangan di dalam negeri.
Kesimpulan
Perombakan jajaran keamanan Iran menjadi salah satu langkah penting Ayatollah Mojtaba Khamenei dalam memperkuat struktur kekuasaan dan kesiapan menghadapi potensi konflik jangka panjang dengan AS. Penunjukan Mohsen Rezaei, Hossein Taeb, Ahmad Vahidi, dan Ali Abdollahi menunjukkan kepercayaan terhadap tokoh-tokoh senior dengan rekam jejak militer serta keamanan yang kuat.
Ke depan, susunan baru tersebut akan menjadi perhatian karena dapat memengaruhi respons Iran terhadap ancaman eksternal, hubungan dengan AS, serta penanganan potensi protes domestik. Namun, sejauh mana perubahan ini mengubah arah diplomasi Teheran masih perlu dilihat dari kebijakan dan tindakan para pejabat baru tersebut.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment