Hui Ka Yan Dijatuhi Hukuman Penjara Seumur Hidup, Aset Pendiri Evergrande Disita
Pendiri Evergrande Group, Hui Ka Yan, dijatuhi hukuman penjara seumur hidup oleh pengadilan China pada Kamis, 20 Agustus 2026. Pengadilan juga memerintahkan penyitaan seluruh aset pribadi taipan berusia 67 tahun tersebut setelah ia dinyatakan bersalah atas sejumlah tindak pidana berat.
Vonis ini menjadi babak penting dalam skandal keuangan Evergrande, perusahaan properti yang pernah menjadi pengembang terbesar di China berdasarkan penjualan kontrak. Keruntuhan perusahaan tersebut tidak hanya menghancurkan kerajaan bisnis Hui Ka Yan, tetapi juga memperburuk krisis sektor properti China dan berdampak terhadap investor, perbankan, serta masyarakat yang memiliki produk keuangan Evergrande.
Hui Ka Yan Terbukti Bersalah atas Delapan Dakwaan
Hui dijatuhi hukuman setelah mengaku bersalah atas delapan dakwaan berat pada April 2026. Dakwaan tersebut mencakup penyalahgunaan dana, penipuan penggalangan dana, penghimpunan dana publik secara ilegal, penyaluran pinjaman ilegal, penerbitan sekuritas bodong, dan penyuapan.
Dalam persidangan, hakim menyatakan bahwa tindakan kriminal yang melibatkan Evergrande Group, Hengda Real Estate, serta Hui Ka Yan telah menimbulkan kerugian ekonomi dalam jumlah sangat besar dan memberikan dampak sosial yang serius.
“Tindakan kriminal Evergrande Group, Hengda Real Estate, dan Hui Ka Yan melibatkan jumlah dana yang sangat besar, menyebabkan kerugian ekonomi yang sangat signifikan dan dampak sosial yang serius. Sehingga harus dihukum berat,” ujar hakim, dikutip Reuters.
Denda untuk Evergrande dan Hengda Real Estate
Selain menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Hui, pengadilan juga mengenakan denda terhadap perusahaan yang berkaitan dengan perkara tersebut. Evergrande Group didenda 8,82 miliar yuan atau sekitar US$1,31 miliar.
Sementara itu, Hengda Real Estate yang merupakan anak perusahaan utama Evergrande dijatuhi denda sebesar 7 miliar yuan. Lima eksekutif senior Evergrande lainnya juga menerima hukuman penjara dengan masa hukuman antara enam hingga 18 tahun.
Media pemerintah China CCTV melaporkan, sebanyak 56 orang yang berkaitan dengan skandal Evergrande menerima vonis pada hari yang sama. Putusan tersebut menunjukkan luasnya perkara yang menjerat perusahaan dan para pejabatnya.
Dari Taipan Terkaya Asia hingga Terjerat Utang
Sebelum bisnisnya runtuh, Hui Ka Yan dikenal sebagai salah satu taipan terkaya di dunia. Ia merupakan mantan teknisi baja yang dibesarkan oleh neneknya di sebuah desa di Provinsi Henan, China tengah.
Hui mendirikan Evergrande pada 1996. Di bawah kepemimpinannya, perusahaan berkembang pesat melalui ekspansi agresif yang ditopang utang. Strategi tersebut membawa Evergrande menjadi salah satu pemain utama dalam industri properti China.
Pada 2017, kekayaan bersih Hui mencapai US$45,3 miliar atau sekitar Rp800,4 triliun dengan asumsi kurs Rp17.670 per dolar AS. Forbes kemudian menobatkannya sebagai orang terkaya di Asia.
Namun, kondisi tersebut berubah setelah Evergrande mengalami krisis likuiditas. Perusahaan gagal membayar utang yang membengkak hingga sekitar US$300 miliar, setara dengan Rp5.301 triliun. Beban utang tersebut membuat perusahaan kesulitan memenuhi kewajibannya kepada kreditur dan pihak-pihak terkait.
Proses Likuidasi Evergrande Masih Berjalan Lambat
Pengadilan Hong Kong memerintahkan Evergrande untuk dilikuidasi pada 2024. Setahun kemudian, saham perusahaan itu dihapus dari pencatatan Bursa Efek Hong Kong.
Hingga Agustus 2025, proses likuidasi masih berjalan lambat. Baru sekitar US$255 juta aset yang berhasil terjual, sedangkan total klaim dari kreditur mencapai sekitar US$45 miliar. Perbedaan besar antara aset yang berhasil dicairkan dan nilai klaim menjadi tantangan utama dalam penyelesaian perkara Evergrande.
Di luar China daratan, likuidator Evergrande juga masih berupaya membekukan aset Hui dan mantan istrinya di luar negeri. Langkah tersebut ditempuh untuk menarik kembali sekitar US$6 miliar dalam bentuk dividen dan kompensasi yang sebelumnya dibayarkan kepada Hui serta sejumlah mantan eksekutif.
Dampak Keruntuhan Evergrande terhadap Sektor Properti China
Regulator sekuritas China pada 2024 juga menjatuhkan denda sebesar US$6,6 juta kepada Hui. Selain itu, ia dilarang seumur hidup memasuki pasar sekuritas setelah regulator menemukan bahwa unit utama Evergrande telah memanipulasi laporan pendapatan dan melakukan penipuan sekuritas.
Runtuhnya Evergrande pada 2021 menjadi salah satu pemicu utama krisis sektor properti China. Dampaknya meluas ke berbagai pihak, mulai dari investor obligasi global hingga perbankan domestik yang menanggung kerugian.
Kegagalan perusahaan membayar produk manajemen kekayaan bernilai miliaran dolar juga sempat memicu gelombang protes. Sejumlah investor ritel bahkan kehilangan tabungan mereka akibat masalah pembayaran tersebut.
Kesimpulan
Hukuman penjara seumur hidup bagi Hui Ka Yan menandai kejatuhan dramatis seorang taipan yang pernah menjadi orang terkaya di Asia. Penyitaan aset pribadi Hui, denda terhadap Evergrande dan Hengda Real Estate, serta vonis terhadap puluhan pihak lain menjadi bagian dari proses penanganan skandal perusahaan.
Ke depan, perhatian akan tertuju pada kelanjutan proses likuidasi Evergrande, termasuk upaya menjual aset dan memulihkan dana bagi para kreditur. Lambatnya pencairan aset dibandingkan besarnya klaim menunjukkan bahwa penyelesaian perkara ini masih membutuhkan waktu panjang.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment