Fairuz Montana Sebut Timo Scheunemann sebagai Guru dalam Pengembangan Sepak Bola Putri

Pelatih Malaysia U-16 Fairuz Montana Zainal Abidin mengungkapkan kekagumannya terhadap pelatih Garuda Pertiwi, Timo Scheunemann. Meski keduanya berada di kubu berbeda dalam ajang Srikandi Merdeka Cup 2026, hubungan Fairuz dan Timo tetap terjalin baik di luar lapangan.

Fairuz menyebut Timo sebagai “guru” dalam kepelatihan sepak bola putri, terutama dalam menangani pemain usia muda. Penilaian tersebut tidak terlepas dari pengalaman panjang Timo yang lebih dahulu berkecimpung dalam pembinaan tim sepak bola wanita.

Fairuz Montana Anggap Timo Scheunemann sebagai Mentor

Fairuz Montana mengaku banyak berdiskusi dengan Timo Scheunemann mengenai perkembangan sepak bola putri di Indonesia. Menurutnya, pengalaman Timo menjadi modal penting yang dapat dijadikan referensi dalam menangani tim usia muda.

Timo diketahui telah terjun dalam kepelatihan sepak bola putri sejak 2008, ketika dipercaya menangani Timnas Putri Indonesia. Hingga saat ini, ia juga masih mendapat kepercayaan dari PSSI untuk terlibat dalam pembinaan pesepak bola putri usia muda.

Pengalaman tersebut membuat Timo dianggap sebagai sosok mentor bagi Fairuz. Terlebih, Malaysia U-16 merupakan pengalaman pertama Fairuz dalam menangani pemain junior di level nasional.

“Sebenarnya, Malaysia U-16 ini pertama kalinya saya berurusan dengan pemain junior. Sebelumnya saya hanya berurusan dengan tim utama, tetapi bukan di tingkat nasional, saya hanya di klub,” ujar Fairuz Montana.

Pelatih berusia 43 tahun itu menilai pengalamannya bersama Malaysia U-16 memberikan pembelajaran baru. Ia harus memahami cara mengelola pemain di bawah usia 17 tahun, termasuk dalam hal manajemen tim dan pendekatan terhadap pemain muda.

“Ini adalah salah satu pembelajaran baru bagi saya, bagaimana kita menangani tim usia muda, terutama di bawah 17 tahun. Jadi saya bisa belajar banyak dalam manajemen pemain. Saya menganggap Coach Timo sebagai guru saya, yang sering saya ajak komunikasi tentang kemajuan yang telah dicapai Indonesia dalam pengembangan,” kata Fairuz.

Belajar dari Perkembangan Sepak Bola Putri Indonesia

Dalam proses mempersiapkan Malaysia U-16, Fairuz tidak hanya mengandalkan komunikasi dengan Timo Scheunemann. Ia juga mencermati perkembangan sepak bola wanita di sejumlah negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Thailand.

Fairuz melihat setiap negara memiliki perjalanan dan proses yang berbeda dalam membangun sepak bola putri. Perbandingan tersebut menjadi bahan pembelajaran bagi Malaysia untuk mengembangkan tim putri usia muda secara lebih baik.

“Waktu itu kita tahu, Indonesia sudah tiga tahun proses, Thailand 30 tahun. Jadi di sana kami belajar banyak,” tutur Fairuz.

Menurut Fairuz, pengalaman negara-negara tetangga dapat menjadi sumber pengetahuan penting. Dengan mempelajari proses yang telah dijalani negara lain, Malaysia dapat memahami berbagai tantangan dalam membentuk dan mengembangkan tim sepak bola wanita.

Berharap Indonesia dan Malaysia Tampil di Piala Dunia Wanita

Fairuz juga menyampaikan harapan terhadap masa depan sepak bola putri di kawasan Asia Tenggara. Ia ingin melihat lebih banyak negara di kawasan ini mampu mencapai level tertinggi, termasuk tampil di Piala Dunia Wanita.

Selain Thailand dan Filipina yang telah disebut memiliki pengalaman tampil di Piala Dunia, Fairuz berharap Malaysia dan Indonesia juga dapat menyusul. Ia menilai pencapaian tersebut akan menjadi perkembangan penting bagi sepak bola putri di kawasan Asia Tenggara.

“Kami ingin melihat Malaysia, Indonesia, kami pernah mendengar tentang Thailand di Piala Dunia, Filipina di Piala Dunia, kami juga ingin melihat Malaysia, Indonesia, dan tim-tim lain yang belum mencapai level tersebut,” kata Fairuz.

Hubungan Baik di Tengah Persaingan

Pernyataan Fairuz menunjukkan bahwa persaingan dalam Srikandi Merdeka Cup 2026 tidak menghalangi hubungan profesional antarpelatih. Di lapangan, Fairuz dan Timo memang berada di sisi yang berbeda. Namun, di luar pertandingan, keduanya tetap dapat bertukar pandangan mengenai pembinaan sepak bola putri.

Hubungan tersebut juga memperlihatkan pentingnya komunikasi dan pertukaran pengalaman dalam pengembangan pemain muda. Fairuz yang baru menangani tim junior di tingkat nasional dapat memanfaatkan pengalaman Timo sebagai bahan pembelajaran dalam menjalankan tugasnya bersama Malaysia U-16.

Kesimpulan

Fairuz Montana Zainal Abidin menempatkan Timo Scheunemann sebagai sosok guru dalam kepelatihan sepak bola putri usia muda. Pengalaman Timo sejak menangani Timnas Putri Indonesia pada 2008 menjadi salah satu alasan Fairuz kerap berdiskusi dengannya.

Selain belajar dari Timo dan perkembangan Indonesia, Fairuz juga menjadikan Thailand serta negara tetangga lainnya sebagai referensi. Ke depan, ia berharap Malaysia, Indonesia, dan negara-negara Asia Tenggara lain dapat mengikuti jejak Thailand dan Filipina untuk tampil di Piala Dunia Wanita.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment