Presiden Iran Sebut Negaranya Berada dalam “Perang Skala Penuh” Melawan AS
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya tengah menghadapi “perang skala penuh” melawan Amerika Serikat (AS). Menurut Pezeshkian, tekanan tersebut tidak hanya berlangsung di bidang ekonomi, tetapi juga mencakup aspek militer dan keamanan.
Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian dalam pidato yang disiarkan kantor berita pemerintah Iran, IRNA. Seperti dilaporkan Anadolu Agency, ia menegaskan bahwa pemerintah Iran sedang berupaya menghadapi berbagai kesulitan yang dirasakan masyarakat akibat tekanan terhadap negara tersebut.
Iran Hadapi Tekanan Ekonomi, Militer, dan Keamanan
Dalam pidatonya, Pezeshkian menggambarkan situasi yang dihadapi Iran sebagai konflik yang berlangsung dalam berbagai bidang. Ia menyebut negaranya berada dalam perang ekonomi, militer, dan keamanan secara bersamaan.
“Kita sedang berada dalam perang ekonomi, militer, dan keamanan skala penuh,” kata Pezeshkian, sebagaimana dikutip dari laporan tersebut.
Ia mengatakan pemerintah Iran menyadari adanya persoalan ekonomi yang membebani masyarakat. Menurut Pezeshkian, pemerintah merasa malu karena masih terdapat masalah dalam perekonomian. Meski demikian, ia menegaskan bahwa Iran terus berusaha bertahan di tengah tekanan dan sanksi yang diberlakukan Amerika Serikat.
Pezeshkian juga menyinggung pernyataan Presiden AS Donald Trump mengenai rencana penerapan sanksi berat terhadap Iran. Ia menilai Trump dengan mudah menyampaikan ancaman mengenai sanksi paling berat atau paling mengerikan terhadap negaranya.
Namun, Presiden Iran itu menegaskan bahwa Teheran tidak akan menyerah. Ia menyatakan Iran tetap “berdiri teguh” dan berusaha memenuhi kebutuhan rakyat meski menghadapi apa yang disebutnya sebagai “perang yang tidak seimbang”.
Pezeshkian Klaim Iran Tetap Solid
Dalam pidato yang sama, Pezeshkian turut menanggapi perkiraan pihak-pihak yang berseberangan dengan Iran. Menurut dia, pihak tersebut sebelumnya memperkirakan Iran akan mengalami kondisi seperti Venezuela apabila pemerintahan Iran jatuh.
Namun, Pezeshkian menilai perkiraan itu tidak terbukti. Ia mengatakan Iran justru menunjukkan kekuatan melalui perlawanan, solidaritas, dan persatuan masyarakat.
“Musuh telah memperkirakan bahwa jika Iran jatuh, negara itu akan menjadi seperti Venezuela. Bukan hanya hal itu tidak terjadi, tetapi Iran malah menjadi kekuatan yang membuat dunia takjub dengan perlawanan, solidaritas, dan kohesinya,” ujar Pezeshkian.
Pernyataan tersebut menunjukkan upaya pemerintah Iran untuk menegaskan bahwa tekanan dari luar negeri belum memecah kekuatan sosial dan politik di dalam negeri. Pezeshkian menilai solidaritas masyarakat menjadi salah satu faktor penting bagi Iran dalam menghadapi tekanan yang terus berlangsung.
Pemerintah Berupaya Cegah Perpecahan
Pezeshkian menambahkan bahwa pemerintah Iran terus berusaha mencegah munculnya perpecahan dan konflik internal. Ia mengatakan Teheran mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menghindari perpecahan, konflik, serta kepentingan egois di dalam negeri.
Langkah tersebut dinilai penting karena pemerintah Iran tidak hanya menghadapi tekanan ekonomi dan sanksi dari Amerika Serikat, tetapi juga perlu menjaga persatuan masyarakat. Pezeshkian menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan rakyat tetap menjadi bagian dari upaya pemerintah di tengah situasi yang disebutnya sebagai perang tidak seimbang.
Perundingan Iran-AS Kembali Terhenti
Hubungan Iran dan Amerika Serikat sebelumnya sempat menunjukkan perkembangan melalui nota kesepahaman yang ditandatangani pada Juni. Kesepakatan itu dimediasi oleh Pakistan dan Qatar serta disebut mengakhiri permusuhan yang telah dimulai pada Februari.
Setelah nota kesepahaman tersebut, Iran dan AS sepakat melanjutkan perundingan untuk mencapai kesepakatan akhir. Namun, proses itu kembali terhenti akibat perbedaan pandangan mengenai pelaksanaan nota kesepahaman dan pengaturan navigasi di Selat Hormuz.
Selat Hormuz memiliki peran penting bagi perdagangan serta ekspor minyak dan gas dunia. Karena itu, perbedaan pandangan terkait pengaturan navigasi di wilayah tersebut menjadi salah satu persoalan dalam proses pembicaraan antara kedua negara.
Kesimpulan
Pernyataan Masoud Pezeshkian memperlihatkan bahwa Iran memandang tekanan dari Amerika Serikat berlangsung secara luas, mulai dari sektor ekonomi hingga militer dan keamanan. Meski mengakui adanya persoalan ekonomi, pemerintah Iran menegaskan komitmennya untuk bertahan, memenuhi kebutuhan masyarakat, dan menjaga persatuan nasional.
Di sisi lain, hubungan Iran dan AS masih menghadapi ketidakpastian setelah perundingan lanjutan terhenti. Perbedaan mengenai pelaksanaan nota kesepahaman serta navigasi di Selat Hormuz menjadi tantangan bagi tercapainya kesepakatan akhir. Ke depan, perkembangan hubungan kedua negara akan sangat bergantung pada kemampuan mereka mengatasi perbedaan tersebut dan mencegah meningkatnya ketegangan.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment