KPMG Australia PHK Hampir 400 Pekerja Usai Skandal Informasi Klien
KPMG Australia mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap hampir 400 pekerja setelah perusahaan menghadapi skandal penyalahgunaan informasi rahasia klien. Pengurangan tenaga kerja tersebut mencakup 27 partner dan sekitar 360 karyawan, atau sekitar 5 persen dari total tenaga kerja perusahaan.
Mayoritas posisi yang terdampak berada di divisi konsultasi dan layanan bisnis. Kebijakan ini menjadi bagian dari langkah KPMG Australia untuk menyesuaikan struktur organisasi dengan kondisi bisnis sekaligus merespons tekanan yang muncul setelah skandal informasi klien.
KPMG Australia Pangkas 5 Persen Tenaga Kerja
Perusahaan menyatakan bahwa pemangkasan tenaga kerja akan berdampak pada sejumlah partner dan karyawan di berbagai bagian organisasi. Dari total pengurangan tersebut, sebanyak 27 partner dan sekitar 360 karyawan akan terkena PHK.
Divisi konsultasi dan layanan bisnis menjadi bagian yang paling banyak terdampak. Penurunan kinerja bisnis konsultasi disebut menjadi salah satu faktor yang mendorong perusahaan melakukan penyesuaian operasional.
CEO KPMG Australia John Sams mengatakan perusahaan memahami tantangan yang muncul akibat kegagalan internal. Ia juga mengakui bahwa KPMG masih memiliki pekerjaan besar untuk memulihkan kepercayaan dari para pemangku kepentingan.
“Kami menyadari tantangan yang muncul akibat kegagalan kami sendiri, serta pekerjaan yang harus terus kami lakukan untuk membangun kembali kepercayaan,” ujar Sams dalam pernyataannya, dikutip Reuters, Senin (24/8).
Berlangsung di Tengah Skandal Informasi Rahasia Klien
PHK tersebut dilakukan ketika KPMG Australia masih menghadapi dampak skandal penyalahgunaan informasi klien yang mencuat pada Maret 2026. Sejumlah whistleblower menuding staf KPMG menggunakan informasi rahasia milik klien untuk memenangkan kontrak audit bernilai besar.
Skandal itu kemudian memicu perubahan besar dalam jajaran pimpinan KPMG Australia. Mantan CEO, kepala divisi Audit, Chairman, serta sejumlah partner senior meninggalkan perusahaan.
John Sams, yang sebelumnya merupakan partner di Commercial Advisory and Transactions, ditunjuk sebagai CEO KPMG Australia pada Juli 2026. Penunjukan tersebut berlangsung ketika perusahaan tengah berupaya memperbaiki tata kelola serta membangun kembali kepercayaan terhadap integritas organisasi.
Ekonomi Australia Diperkirakan Tetap Lemah
Selain persoalan internal, KPMG memperkirakan pertumbuhan ekonomi Australia akan tetap lemah hingga setidaknya 2028. Kondisi tersebut dinilai dapat menekan investasi klien dan memperpanjang proses pengambilan keputusan bisnis.
Situasi ekonomi itu berpotensi memengaruhi permintaan terhadap layanan konsultasi dan bisnis perusahaan. Menurut Sams, meskipun kondisi tersebut kemungkinan masih berlanjut, KPMG akan tetap berfokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan oleh perusahaan.
“Meski kondisi kemungkinan akan terus berlanjut, kami tetap fokus pada hal-hal yang dapat kami kendalikan,” kata Sams.
Pendapatan KPMG Turun 1 Persen
Dari sisi kinerja, pendapatan KPMG Australia turun 1 persen menjadi US$2,257 miliar atau sekitar Rp39,94 triliun. Nilai tersebut menggunakan asumsi kurs Rp17.698 per dolar Amerika Serikat untuk tahun buku yang berakhir pada Juni 2026.
Penurunan pendapatan terutama dipengaruhi oleh bisnis konsultasi yang merosot hampir 17 persen. Hilangnya sejumlah kontrak pemerintah turut memberikan tekanan terhadap kinerja divisi tersebut.
Meski demikian, empat dari lima divisi KPMG masih mencatat pertumbuhan pendapatan. Divisi Deal Advisory and Infrastructure tumbuh 3 persen. Sementara itu, pendapatan Tax and Legal serta Audit and Assurance masing-masing meningkat 11 persen.
Divisi Mid-Market and Private juga mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 6,4 persen. Kinerja tersebut menunjukkan bahwa tekanan bisnis tidak terjadi secara merata di seluruh lini perusahaan.
Setop Tender Pemerintah dan Sederhanakan Organisasi
Sebelumnya, KPMG Australia telah sepakat untuk tidak mengikuti tender pekerjaan baru dari pemerintah federal hingga 30 September 2026. Kebijakan tersebut diberlakukan selama pemerintah Australia melakukan peninjauan terhadap tata kelola, budaya etika, dan integritas perusahaan.
Selain mengurangi jumlah pekerja, KPMG juga akan menyederhanakan sebagian struktur organisasinya. Langkah ini ditujukan untuk membentuk tim yang lebih terintegrasi serta menyesuaikan operasional perusahaan dengan layanan advisory global KPMG.
Kesimpulan
PHK terhadap hampir 400 pekerja menjadi salah satu langkah terbesar KPMG Australia setelah perusahaan dilanda skandal penyalahgunaan informasi rahasia klien. Kebijakan tersebut berlangsung di tengah penurunan pendapatan, melemahnya bisnis konsultasi, serta prospek ekonomi Australia yang diperkirakan belum pulih sepenuhnya hingga 2028.
Ke depan, KPMG Australia menghadapi tantangan untuk memulihkan kepercayaan, memperkuat tata kelola, dan menata kembali struktur organisasi. Perusahaan juga perlu mempertahankan pertumbuhan pada divisi yang masih mencatat kinerja positif, sembari menghadapi pembatasan tender pemerintah dan tekanan terhadap layanan konsultasi.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment