Tren Joyriding di TikTok Gegerkan Irlandia, Aksi Melawan Arah Tewaskan Remaja dan Lukai Warga
Warga Irlandia digemparkan oleh tren joyriding, yakni aksi mengemudi secara ugal-ugalan yang direkam dan diunggah ke TikTok. Sejumlah anak muda diketahui berulang kali melaju melawan arah di jalan tol, terutama pada malam hari. Aksi tersebut bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga telah menyebabkan korban jiwa dan melukai banyak orang.
Kemarahan publik semakin besar setelah serangkaian kecelakaan dan aksi berbahaya yang melibatkan anak-anak muda. Video-video yang menampilkan kendaraan melaju dengan kecepatan tinggi, pengemudi bertopeng, serta upaya memancing pengejaran polisi disebut telah menjadi bagian dari pertunjukan berbahaya demi mendapatkan perhatian di media sosial.
Kecelakaan di Jalan Tol M9 Lukai Satu Keluarga
Pada Minggu dini hari, 16 Agustus, sekelompok anak muda diduga membobol rumah dan mobil di County Kildare, wilayah barat daya Dublin. Polisi meyakini mereka merupakan orang-orang yang berada di balik sebuah BMW bertopeng. Kendaraan itu kemudian diduga digunakan untuk memancing mobil patroli agar melakukan pengejaran.
Sekitar pukul 03.00 waktu setempat, BMW tersebut melaju melawan arah di jalan tol M9. Kendaraan itu kemudian bertabrakan dengan sebuah Hyundai yang membawa tiga perempuan bersaudara, yakni Ella Hendricken, Niamh Kinsella, dan Alma Kinsella. Ketiganya berusia 20-an hingga 30-an. Putra Alma yang berusia tujuh tahun juga berada di dalam mobil tersebut.
Keluarga itu sedang dalam perjalanan menuju Bandara Dublin untuk menghadiri pernikahan keluarga di Inggris. Insiden tersebut menyebabkan keempatnya terluka. Musibah itu kemudian memicu gelombang solidaritas dari masyarakat Irlandia.
Penggalangan dana untuk membantu keluarga korban telah mengumpulkan lebih dari €660.000 atau sekitar £565.000. Nilai tersebut setara dengan sekitar Rp13,65 miliar.
Lima Remaja Tewas dalam Aksi Serupa
Sebelum kecelakaan di jalan tol M9, aksi mengemudi melawan arah juga menelan lima korban jiwa. Mereka adalah Joe Carthy yang berusia 15 tahun, Kamil Pustkowski, Jack Kennedy, dan Alex McCarthy yang masing-masing berusia 17 tahun, serta Jeremy O’Brien yang berusia 18 tahun.
Kelima remaja tersebut diketahui oleh polisi. Tiga di antaranya juga pernah dikenal oleh Tusla, lembaga kesejahteraan anak di Irlandia. Beberapa dari mereka sebelumnya disebut pernah mengunggah video yang memperlihatkan aksi mengemudi berbahaya atau joyriding.
Menjelang pemakaman, keluarga korban menghadapi komentar-komentar kasar di internet. Kondisi tersebut bahkan mendorong kerabat untuk menarik pengumuman mengenai pemakaman. Pemakaman pertama untuk McCarthy digelar pada Jumat di Athy. Anggota keluarganya mengenakan kaus bergambar wajah McCarthy, sementara peti matinya diangkut menggunakan kereta kuda. Polisi memantau prosesi tersebut dari kejauhan.
Joyriding Dijadikan Pertunjukan di Media Sosial
Menurut laporan The Guardian, video-video joyriding yang dibuat sejumlah anak muda biasanya diawali dengan sorotan kamera ke dasbor kendaraan. Dalam rekaman tersebut, terlihat tangan yang mengenakan sarung tangan menyalakan mesin.
Kamera kemudian berputar untuk memperlihatkan sosok-sosok bertopeng di kursi belakang yang turut merekam aksi. Setelah itu, kamera kembali diarahkan ke kaca depan. Pemandangan kota yang gelap menjadi latar sebelum kendaraan mulai melaju.
Perjalanan biasanya dimulai dari jalan di kawasan pinggiran kota, lalu berlanjut ke jalan tol. Dalam beberapa rekaman, kendaraan sengaja dikemudikan melawan arah dengan kecepatan tinggi. Jarum speedometer yang bergerak cepat menjadi bagian dari tontonan tersebut.
Tujuan perjalanan bukanlah hal utama. Aksi itu lebih menyerupai pertunjukan yang menonjolkan keberanian, pelanggaran hukum, dan kenekatan. Kemungkinan dikejar polisi hingga berakhir dalam kecelakaan dramatis justru menjadi daya tarik bagi penonton di TikTok dan platform media sosial lainnya.
Media Sosial Dinilai Memperkuat Perilaku Berisiko
Graham Kavanagh, mantan anggota An Garda SÃochána yang sebelumnya menangani kasus pencurian mobil, mempertanyakan bagaimana lima anak muda dapat saling memengaruhi hingga menganggap tindakan tersebut sebagai ide yang baik. Ia juga mengajak masyarakat untuk melihat kemungkinan adanya persoalan sosial yang lebih luas.
Menurut Kavanagh, tidak ada orang yang terlahir sebagai pribadi jahat. Namun, dalam beberapa kasus, tanda-tanda masalah perilaku dapat terlihat sejak usia sangat muda.
Mary Aiken, profesor psikologi siber forensik di Universitas East London, mengatakan bahwa mencari kesenangan dan pengakuan dari teman sebaya bukanlah fenomena baru. Akan tetapi, media sosial telah memperkuat perilaku tersebut.
Aiken menyebut joyriding sebagai perilaku hibrida. Saat mengemudi, para pelaku pada waktu yang sama merekam aksi mereka untuk diunggah atau disiarkan secara langsung. Mereka menjalani satu bagian aktivitas di dunia nyata dan bagian lainnya di dunia maya.
Menurutnya, dunia maya yang sangat imersif dapat mendorong seseorang untuk mengambil risiko lebih besar dan mengabaikan dampaknya. Keinginan memperoleh tanda suka, pujian, serta perhatian dari penonton menjadi salah satu faktor yang membuat aksi berbahaya terus direkam dan dibagikan.
Kesimpulan
Tren joyriding di Irlandia memperlihatkan bagaimana aksi mengemudi melawan arah dapat berubah menjadi konten media sosial yang mematikan. Kecelakaan di jalan tol M9 dan tewasnya lima remaja menjadi pengingat bahwa pencarian popularitas melalui aksi berbahaya dapat menghancurkan banyak keluarga.
Kemarahan publik, solidaritas terhadap korban, dan sorotan terhadap peran media sosial diharapkan mendorong perhatian yang lebih besar terhadap keselamatan berkendara serta perilaku anak muda. Ke depan, fenomena ini tidak hanya perlu dilihat sebagai pelanggaran lalu lintas, tetapi juga sebagai persoalan sosial dan digital yang membutuhkan kepedulian bersama.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment