Mengapa Pengemudi Ojol Masih Enggan Beralih ke Motor Listrik? Ini Kendalanya

Minat pengemudi ojek online (ojol) untuk beralih menggunakan motor listrik masih tergolong rendah. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh sejumlah kendala, mulai dari persoalan teknis kendaraan hingga akses pembiayaan yang belum mudah bagi sebagian mitra pengemudi.

Hal ini disampaikan Danantara Indonesia saat membahas pengembangan proyek Motor Listrik Nasional (Molinas) yang melibatkan sejumlah aplikator transportasi daring, termasuk Gojek dan Grab. Menurut Danantara, tantangan tersebut perlu diatasi agar penggunaan motor listrik di kalangan pengemudi ojol dapat berkembang.

Masalah Teknis Pernah Menjadi Penghambat Utama

Managing Director Industrialization Danantara Indonesia, Ardy Muawin, mengatakan isu teknis yang muncul pada masa lalu menjadi salah satu alasan pengemudi ojol enggan menggunakan motor listrik. Beberapa persoalan yang dikeluhkan antara lain tenaga kendaraan yang kurang kuat ketika digunakan di tanjakan serta daya baterai yang dinilai belum memadai.

Bagi pengemudi ojol, performa kendaraan dan ketahanan baterai merupakan aspek penting karena motor digunakan untuk bekerja setiap hari. Kendala pada dua hal tersebut dapat memengaruhi kenyamanan, produktivitas, serta kelancaran aktivitas pengemudi dalam menerima dan menyelesaikan pesanan.

Meski demikian, Danantara menyebut persoalan teknis tersebut mulai dapat diatasi oleh para produsen. Perkembangan ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan pengemudi terhadap motor listrik sebagai kendaraan operasional.

Akses Kredit Masih Menjadi Tantangan

Selain masalah teknis, hambatan besar lainnya berasal dari sisi pembiayaan. Berdasarkan informasi dari Grab, banyak mitra pengemudi mengalami kesulitan mendapatkan fasilitas kredit. Salah satu penyebabnya adalah proses verifikasi melalui BI Checking atau Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) OJK.

Padahal, pengemudi dengan kinerja bintang lima dan aktivitas kerja yang tinggi dinilai memiliki risiko kredit yang sangat rendah. Dengan kata lain, terdapat kelompok pengemudi yang secara konsisten bekerja, tetapi tetap mengalami hambatan ketika mengajukan pembiayaan kendaraan.

Usulan Cicilan Harian dan Penonaktifan Kendaraan

Danantara menilai risiko kredit tersebut dapat ditekan melalui skema pembiayaan yang lebih sesuai dengan karakteristik pengemudi ojol. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah cicilan harian, sehingga pembayaran dapat disesuaikan dengan pola pendapatan pengemudi.

Selain itu, terdapat gagasan untuk menerapkan sistem penonaktifan kendaraan secara otomatis apabila pembayaran mengalami tunggakan. Melalui skema tersebut, tingkat risiko pembiayaan diharapkan bisa ditekan dan biaya dana atau cost of money dapat dibuat lebih rendah.

“Credit risk-nya bisa kita turunkan, sehingga harapannya cost of money bisa rendah, sehingga kita akan men-stimulate demand dari sisi teman-teman konsumen,” ujar Ardy dalam diskusi bertajuk Navigating The Challenges of The Motor Vehicle Industry di Jakarta Pusat, Kamis (20/8).

Perbedaan Bunga Kredit Menambah Beban

Persoalan pembiayaan juga semakin rumit karena terdapat perbedaan tingkat bunga yang cukup lebar antara kredit sepeda motor dan kredit mobil. Kredit sepeda motor disebut kerap dibebani bunga sekitar 30 hingga 40 persen. Sementara itu, bunga kredit mobil berada di kisaran 12 persen.

Tingginya bunga kredit sepeda motor membuat beban pembayaran konsumen menjadi lebih berat. Kondisi tersebut dapat menjadi pertimbangan tambahan bagi pengemudi ojol yang ingin mengganti kendaraan berbahan bakar bensin dengan motor listrik.

Beban tersebut juga dipengaruhi oleh kecenderungan diler yang lebih memprioritaskan penjualan melalui skema kredit. Langkah ini disebut berkaitan dengan upaya diler mengejar bonus penjualan, sehingga pilihan pembelian secara kredit lebih sering ditawarkan kepada konsumen.

Danantara Gandeng Himbara untuk Menata Pembiayaan

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Danantara Indonesia menggandeng Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Kerja sama ini diarahkan untuk menyusun kembali skema pembiayaan motor listrik agar lebih terjangkau bagi masyarakat, termasuk para pengemudi ojol.

Penataan pembiayaan dinilai penting karena harga kendaraan bukan satu-satunya pertimbangan dalam keputusan pengemudi. Besaran cicilan, tingkat bunga, metode pembayaran, serta persyaratan kredit turut menentukan apakah motor listrik dapat digunakan sebagai kendaraan kerja.

Motor Listrik Berpotensi Menghemat Biaya Operasional

Di tengah berbagai kendala tersebut, motor listrik sebenarnya memiliki potensi keuntungan bagi pengemudi ojol. Riset Danantara menunjukkan bahwa penggunaan motor listrik dapat memangkas biaya harian sebesar Rp10 ribu hingga Rp20 ribu dibandingkan kendaraan berbahan bakar bensin.

Jika penghematan tersebut dihitung selama 25 hari kerja, nilainya dapat mencapai sekitar Rp500 ribu dalam satu bulan. Bagi pengemudi ojol, penghematan ini dapat menjadi manfaat penting karena biaya operasional merupakan bagian besar dari pengeluaran sehari-hari.

“That’s a lot of money buat teman-teman itu,” kata Ardy.

Kesimpulan

Rendahnya minat pengemudi ojol menggunakan motor listrik tidak hanya disebabkan oleh kekhawatiran terhadap performa kendaraan. Akses kredit yang sulit, bunga pembiayaan yang tinggi, serta skema pembayaran yang belum sepenuhnya sesuai dengan pola pendapatan pengemudi juga menjadi faktor penting.

Meski demikian, peluang penggunaan motor listrik tetap terbuka. Persoalan teknis mulai diatasi oleh produsen, sementara Danantara bersama Himbara berupaya menyusun skema pembiayaan yang lebih terjangkau. Apabila tantangan performa dan pembiayaan dapat ditangani, potensi penghematan biaya harian hingga Rp500 ribu per bulan dapat menjadi daya tarik bagi pengemudi ojol untuk beralih ke motor listrik.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment