Porsche Jadi Beban Terbesar Volkswagen, Nilai Saham Anjlok dan Restrukturisasi Tertekan

Porsche yang sebelumnya menjadi salah satu sumber utama laba Volkswagen AG kini berubah menjadi tantangan terbesar bagi raksasa otomotif Jerman tersebut. Merek mobil sport itu menghadapi tekanan dari melemahnya penjualan di China, tarif di Amerika Serikat, serta kesalahan dalam menjalankan transisi menuju kendaraan listrik.

Kondisi tersebut membuat restrukturisasi yang dipimpin CEO Volkswagen Oliver Blume semakin berat. Volkswagen bahkan mengumumkan penghapusan nilai atau writedown sebesar €6 miliar, setara sekitar Rp122,8 triliun dengan kurs Rp20.470 per euro, atas 75 persen kepemilikannya di Porsche.

Pengumuman itu muncul tidak lama setelah Volkswagen menyepakati langkah pemangkasan dalam restrukturisasi terbesar sepanjang sejarah 89 tahun grup. Ribuan pekerja di berbagai pabrik mobil di Jerman kemudian berunjuk rasa menolak pemangkasan tenaga kerja. Aksi tersebut mencerminkan tekanan yang lebih luas terhadap industri otomotif Eropa akibat persaingan dari China dan kebijakan tarif Amerika Serikat.

Porsche Tak Lagi Menjadi Andalan Laba Volkswagen

Porsche sempat mencatatkan rekor ketika melantai di bursa melalui salah satu penawaran umum perdana terbesar di Eropa pada 2022. Namun, kurang dari empat tahun setelah pencatatan saham tersebut, prospek bisnisnya justru melemah secara signifikan.

Volkswagen menyebut penghapusan nilai terbaru itu berkaitan dengan memburuknya ekspektasi terhadap Porsche. Penurunan tersebut juga menjadi tambahan setelah Porsche mengalami pengurangan nilai sebesar €2,7 miliar atau sekitar Rp55,3 triliun pada tahun sebelumnya.

Analis Jefferies menilai penghapusan nilai berulang tersebut menunjukkan lemahnya pengawasan Volkswagen terhadap merek premium yang selama ini menjadi penopang keuangan grup.

“Masa-masa Porsche menjadi andalan laba sudah berakhir,” kata analis otomotif Ferdinand Dudenhoeffer.

Margin keuntungan Porsche yang sebelumnya dikenal tinggi kini merosot. Bahkan, margin tersebut berada di bawah rata-rata grup Volkswagen dan kalah dibandingkan Skoda, merek yang dikenal sebagai produsen mobil dengan harga lebih terjangkau.

Margin Menurun, Target Masih Dipertahankan

Dudenhoeffer menilai strategi Porsche yang lebih mengutamakan nilai produk dibandingkan volume penjualan justru membuat ukuran bisnisnya semakin mengecil. Menurut dia, sekalipun Porsche mampu mempertahankan margin yang baik, total laba yang dihasilkan tetap berpotensi tipis karena volume penjualan yang terbatas.

Di tengah situasi tersebut, CEO Porsche Michael Leiters masih mempertahankan target margin jangka menengah sebesar 10 hingga 15 persen. Target itu disampaikan melalui memo internal yang dilihat Reuters.

Namun, Leiters menyatakan belum ada proyeksi baru untuk kinerja Porsche, baik untuk tahun bisnis berjalan maupun target jangka menengah. Pernyataan tersebut disampaikan menjelang agenda capital markets day pada Oktober.

China dan Tarif AS Menambah Tekanan

Porsche telah menarik diri dari pasar China, sementara penjualannya di Amerika Serikat menghadapi tekanan tarif. Kombinasi kedua kondisi tersebut membuat volume penjualan Porsche semakin sulit dipastikan.

Leiters kini mengarahkan perhatian pada model-model kelas atas untuk mempertahankan margin dua digit. Strategi tersebut diharapkan dapat meningkatkan keuntungan per unit kendaraan. Namun, Porsche tetap membutuhkan penjualan dalam jumlah besar untuk menghasilkan arus kas yang dapat mendukung proses restrukturisasi.

Stefan Bratzel dari lembaga riset otomotif Jerman, CAM, menyebut tekanan yang dihadapi Porsche saat ini berada pada tingkat yang sangat tinggi. Ia juga menilai pemangkasan biaya saja tidak cukup untuk membantu Volkswagen keluar dari krisis.

Persoalan tersebut tidak hanya berdampak pada Porsche. Mercedes-Benz dan BMW juga melakukan pemangkasan tenaga kerja di Jerman. Di sisi lain, serikat pekerja mendesak Brussels memberikan perlindungan terhadap industri Eropa dari serbuan kendaraan murah buatan China.

Skoda Mulai Menggantikan Peran Porsche?

Porsche telah menghadapi kesulitan selama beberapa tahun terakhir. Oliver Blume turut mengawasi penurunan kinerja merek tersebut ketika menjabat sebagai kepala Porsche hingga akhir 2025, sembari menjalankan tugas sebagai CEO Volkswagen AG.

Penghapusan nilai sebesar €6 miliar membuat nilai goodwill Volkswagen atas Porsche turun lebih dari sepertiga. Nilai tersebut sebelumnya mencapai €18,8 miliar pada 2022, tetapi kini menjadi sekitar €10 miliar. Dalam rupiah, nilainya turun dari sekitar Rp384,8 triliun menjadi Rp204,7 triliun.

Analis otomotif independen Matthias Schmidt bahkan menyebut Skoda secara efektif telah menjadi “Porsche baru” di dalam grup Volkswagen. Pernyataan itu merujuk pada kemampuan Skoda mencatatkan margin yang kini lebih baik dibandingkan Porsche.

Prospek Restrukturisasi Volkswagen

Volkswagen menargetkan margin operasi sebesar 9 persen pada akhir dekade. Target tersebut masih sangat jauh dari capaian tahun berjalan yang hanya sekitar 1 persen.

Belum jelas apakah penurunan nilai Porsche akan membantu Oliver Blume mencapai sasaran tersebut. Analis Bernstein menilai kondisi Porsche justru dapat memperkuat alasan bagi Blume untuk melakukan pemangkasan yang lebih dalam di seluruh grup.

“Jika seseorang berpikiran sinis, penurunan besar-besaran dalam proyeksi laba ini bisa dilihat sebagai hal yang membantu,” tulis analis Bernstein.

Kesimpulan

Porsche kini menjadi simbol perubahan besar yang sedang dihadapi Volkswagen. Merek yang dahulu menjadi sumber laba utama telah tertekan oleh lemahnya pasar China, tarif Amerika Serikat, menurunnya margin, serta tantangan transisi ke kendaraan listrik.

Penghapusan nilai €6 miliar menunjukkan bahwa Volkswagen harus menghadapi kenyataan baru mengenai prospek Porsche. Ke depan, fokus pada model premium, target margin 10 hingga 15 persen, dan restrukturisasi biaya akan menjadi ujian penting bagi manajemen.

Namun, pemangkasan saja belum tentu cukup. Volkswagen juga perlu memastikan strategi produknya mampu menjawab perubahan pasar global agar Porsche kembali berkontribusi terhadap pemulihan grup, bukan justru menjadi penghambat utama restrukturisasi.

Sumber: Cnnindonesia

Post Comment