Airlangga Dorong Wisata Belanja untuk Tarik Pengeluaran Wisatawan ke Dalam Negeri
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan pembayaran jasa perjalanan wisatawan Indonesia ke luar negeri mencapai US$6,7 miliar. Dengan asumsi kurs Rp17.711 per dolar AS, nilai tersebut setara sekitar Rp118,66 triliun. Pemerintah menilai besarnya pengeluaran itu menjadi peluang yang dapat dikurangi dengan mendorong aktivitas belanja di dalam negeri.
Airlangga menyampaikan, wisata belanja berpotensi menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru. Hal itu didukung oleh meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia serta ketersediaan pasar pariwisata dan ritel di dalam negeri.
Menurutnya, sebagian pengeluaran wisatawan Indonesia ketika bepergian ke luar negeri dapat diarahkan untuk berbelanja di Indonesia. Di sisi lain, wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia juga perlu didorong agar menjadikan belanja sebagai bagian penting dari perjalanan mereka.
Pengeluaran Wisatawan ke Luar Negeri Jadi Peluang Ekonomi
Airlangga mengatakan pengeluaran jasa perjalanan wisatawan Indonesia ke luar negeri menunjukkan adanya potensi ekonomi yang besar. Apabila sebagian dari dana tersebut dapat dibelanjakan di pasar domestik, manfaatnya akan dirasakan oleh sektor ritel dan perekonomian nasional.
“Pembayaran jasa perjalanan wisatawan ke luar negeri itu mencapai US$6,7 miliar. Jadi, kalau sebagian bisa ditarik untuk belanja di dalam negeri, ini juga hal yang baik,” ujar Airlangga dalam acara Indonesia Retail Summit and Expo 2026 di Swissotel PIK Avenue, Jakarta Utara, Rabu (26/8).
Ia menilai wisata belanja relatif cepat untuk dikembangkan karena Indonesia telah memiliki objek wisata, aktivitas pariwisata, serta pasar ritel. Karena itu, kegiatan belanja tidak seharusnya hanya dipandang sebagai aktivitas tambahan bagi wisatawan, melainkan dapat ditempatkan sebagai bagian dari strategi pertumbuhan ekonomi.
Wisata Belanja Didorong Menjadi Motor Pertumbuhan Baru
Airlangga juga menyoroti peningkatan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia. Dalam berbagai negara tujuan wisata, kuliner dan belanja menjadi bagian dari aktivitas yang dilakukan wisatawan. Kondisi tersebut dinilai perlu dioptimalkan agar wisatawan yang datang ke Indonesia turut membelanjakan uangnya di dalam negeri.
“Total kunjungan wisatawan mancanegara sebetulnya naik. Di berbagai negara tujuan, sebagian aktivitas wisatawan adalah kuliner dan belanja. Ini perlu didorong supaya mereka belanja di Indonesia saja,” kata Airlangga.
Ia berharap wisata belanja dapat berkembang menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi baru. Upaya tersebut sekaligus dapat memperkuat peran sektor ritel dalam menopang aktivitas ekonomi nasional.
Sektor Ritel Dinilai Tetap Resilien
Di tengah berbagai tekanan ekonomi global, Airlangga menilai sektor ritel Indonesia masih menunjukkan daya tahan. Ia menyinggung sejumlah tantangan, mulai dari konflik di Timur Tengah, perang Rusia-Ukraina, hingga ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan China.
Menurut Airlangga, kemampuan pasar dalam negeri untuk tetap bergerak menunjukkan bahwa industri ritel masih memiliki peran penting dalam menjaga perekonomian. Sektor tersebut dinilai mampu bertahan dan menopang aktivitas ekonomi nasional meskipun situasi global belum sepenuhnya stabil.
Indonesia Dinilai Memiliki Potensi Wisata yang Lengkap
Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah mengatakan Indonesia telah memiliki dua dari tiga unsur utama dalam pengembangan pariwisata, yaitu objek wisata dan kuliner.
Ia menyebut Indonesia memiliki objek wisata yang bagus serta kuliner yang beragam. Namun, unsur belanja dinilai belum cukup kuat dalam menarik wisatawan asing. Menurut Budihardjo, banyak wisatawan yang datang ke Indonesia belum menjadikan aktivitas belanja sebagai tujuan utama.
Budihardjo mengatakan minat belanja wisatawan mulai meningkat belakangan ini. Salah satu faktor yang disebutnya berpengaruh adalah harga sejumlah produk di Indonesia yang dinilai lebih kompetitif. Pelemahan nilai tukar rupiah turut membuat harga produk di Indonesia terlihat lebih bersaing dibandingkan negara tetangga.
Hippindo Minta Kemudahan bagi Merek Global
Budihardjo juga menyoroti kebiasaan masyarakat Indonesia yang gemar membeli merek global ketika bepergian ke luar negeri. Padahal, sebagian merek tersebut telah tersedia di Indonesia. Ia menilai faktor kelengkapan produk, harga, dan variasi barang menjadi alasan konsumen tetap memilih berbelanja di luar negeri.
Untuk meningkatkan daya tarik wisata belanja di Indonesia, Hippindo meminta pemerintah memberikan kemudahan bagi merek global yang telah beroperasi di dalam negeri. Kemudahan itu, antara lain, berkaitan dengan pemasukan produk dari luar negeri agar barang yang diminati konsumen dapat tersedia lebih lengkap.
Budihardjo menegaskan, merek global yang membuka toko di Indonesia juga berkontribusi melalui penciptaan lapangan kerja dan pembayaran pajak. Karena itu, dukungan terhadap merek-merek tersebut dinilai penting, dengan tetap menjaga harmonisasi bersama merek lokal.
Hippindo berharap ketersediaan produk yang lebih lengkap dapat memberikan lebih banyak pilihan kepada wisatawan asing. Dengan demikian, program “Belanja di Indonesia Aja” dapat berjalan dan membantu menjadikan aktivitas belanja sebagai bagian yang lebih kuat dari sektor pariwisata.
Kesimpulan
Pemerintah melihat besarnya pengeluaran wisatawan Indonesia ke luar negeri sebagai peluang untuk memperkuat wisata belanja domestik. Dengan nilai pembayaran jasa perjalanan yang mencapai US$6,7 miliar, sebagian dana tersebut diharapkan dapat berputar di dalam negeri melalui sektor ritel.
Peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara, dukungan terhadap merek lokal dan global, serta ketersediaan produk yang lebih lengkap menjadi hal penting dalam pengembangan wisata belanja. Ke depan, sinergi antara pemerintah, pelaku ritel, dan sektor pariwisata akan menentukan sejauh mana belanja wisatawan dapat berkembang sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment