Kesaksian CEO Instagram soal Fitur Take a Break dalam Persidangan Meta
CEO Instagram Adam Mosseri memberikan kesaksian mengenai fitur perlindungan bagi pengguna remaja dalam persidangan yang menuduh Meta merancang Instagram dan Facebook agar membuat anak-anak kecanduan. Mosseri mengatakan fitur pembatasan penggunaan bernama Take a Break jarang diaktifkan secara mandiri oleh remaja sebelum akhirnya ditetapkan sebagai pengaturan bawaan.
Kesaksian tersebut disampaikan pada hari keempat persidangan di pengadilan federal Oakland, California. Mosseri diperiksa oleh jaksa dari Colorado, Jason Slothouber. Dalam pemeriksaan itu, ia membantah tudingan bahwa Instagram sengaja menunda pengaktifan fitur Take a Break sebagai setelan default bagi pengguna remaja selama hampir tiga tahun sejak fitur tersebut diluncurkan.
Kesaksian Adam Mosseri tentang Fitur Take a Break
Fitur Take a Break dirancang untuk meminta pengguna remaja menutup aplikasi Instagram setelah menggunakannya dalam jangka waktu tertentu. Fitur ini diperkenalkan pada 2021 dan sempat menjalani tahap uji coba awal.
Menurut Mosseri, lebih dari 90 persen pengguna remaja yang mengaktifkan fitur tersebut dalam masa uji coba tetap mempertahankan pengaturan itu. Namun, ia menyebut jumlah remaja yang secara sukarela mengaktifkan fitur tersebut setelahnya tergolong sangat sedikit.
“Sebagian besar remaja tidak menginginkannya,” kata Mosseri dalam persidangan. Ia menambahkan bahwa Instagram tetap memutuskan untuk melanjutkan fitur tersebut meskipun tingkat pengaktifan secara mandiri dinilai rendah.
Pernyataan itu menjadi bagian penting dalam persidangan karena jaksa menyoroti keputusan Meta terkait fitur keselamatan dan perlindungan pengguna muda. Mosseri membantah anggapan bahwa perusahaan dengan sengaja menahan penerapan fitur tersebut sebagai pengaturan bawaan.
Perusahaan Disebut Mengetahui Tingkat Pengaktifan Akan Menurun
Sebelum Mosseri memberikan kesaksian, Direktur Desain Produk Instagram Francesco Fogu juga diperiksa oleh jaksa yang sama. Dalam kesaksiannya, Fogu menyatakan bahwa perusahaan telah mengetahui jumlah pengguna yang mengaktifkan fitur Take a Break akan lebih sedikit jika fitur itu tidak dijadikan sebagai setelan default.
Keterangan Fogu menjadi perhatian karena berkaitan dengan pertimbangan internal Instagram dalam menerapkan fitur perlindungan bagi remaja. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan telah memahami adanya perbedaan antara pengguna yang mempertahankan fitur setelah diaktifkan dan pengguna yang secara sukarela memilih untuk mengaktifkannya.
Materi Keselamatan Remaja pada 2023
Fogu juga mengungkapkan bahwa timnya pernah mempresentasikan materi mengenai keselamatan remaja kepada pimpinan Instagram pada 2023. Salah satu slide dalam materi tersebut menunjukkan bahwa pengguna remaja melihat konten perundungan, bunuh diri, kebencian, seksual, dan kekerasan 1,5 kali lebih banyak dibandingkan pengguna dewasa.
Namun, slide yang memuat data tersebut diduga telah dihapus. Informasi ini turut menjadi bagian dari kesaksian dalam perkara yang menyoroti dampak penggunaan media sosial terhadap anak-anak dan remaja.
Gugatan terhadap Meta Melibatkan 29 Negara Bagian AS
Adam Mosseri menjadi salah satu saksi sentral dalam gugatan yang diajukan oleh 29 negara bagian di Amerika Serikat. Gugatan tersebut menuduh Meta melanggar hukum federal karena mengumpulkan data anak-anak berusia di bawah 13 tahun secara ilegal.
Selain tuduhan mengenai pengumpulan data, perkara ini juga menyoroti dugaan bahwa desain Instagram dan Facebook dapat mendorong penggunaan berlebihan pada anak-anak. Meta berpotensi menghadapi hukuman yang nilainya mencapai US$200 miliar apabila dinyatakan bertanggung jawab.
Para ahli menilai persidangan ini sebagai salah satu perkara hukum terbesar yang membahas dampak media sosial terhadap remaja. Kesaksian para eksekutif dan pejabat produk Instagram diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai proses pengambilan keputusan perusahaan dalam merancang serta menerapkan fitur keselamatan pengguna muda.
Kesimpulan
Kesaksian Adam Mosseri menegaskan posisi Instagram bahwa fitur Take a Break jarang diaktifkan secara mandiri oleh remaja sebelum diterapkan sebagai pengaturan default. Di sisi lain, kesaksian Francesco Fogu menunjukkan bahwa perusahaan telah mengetahui potensi rendahnya tingkat pengaktifan apabila fitur tersebut tidak menjadi setelan bawaan.
Persidangan ini masih menjadi sorotan karena menyangkut perlindungan anak, penggunaan data, serta dampak desain media sosial terhadap remaja. Perkembangan perkara dan keputusan pengadilan selanjutnya akan menentukan bagaimana tanggung jawab Meta dinilai terkait fitur keselamatan dan pengalaman pengguna muda di platformnya.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment