Menlu Iran Klaim Menang Perang dan Diplomasi Melawan Amerika Serikat
Teheran – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengklaim negaranya telah memenangkan perang sekaligus diplomasi melawan Amerika Serikat (AS). Pernyataan tersebut disampaikan ketika ketegangan antara Iran dan AS masih berlangsung, termasuk setelah Presiden AS Donald Trump menyerukan Iran untuk menyerah tanpa syarat.
Dalam sebuah acara pada Selasa (18/8), Araghchi mengatakan sejumlah menteri luar negeri menyampaikan apresiasi terhadap ketangguhan Iran dalam menghadapi perang maupun menjalankan negosiasi. Menurut dia, para menlu tersebut menilai Iran telah meraih kemenangan di dua medan sekaligus, yakni pertempuran dan diplomasi.
Araghchi Klaim Iran Menang di Medan Perang dan Diplomasi
Araghchi menyatakan Iran menghadapi AS dengan sikap tegas, baik ketika berperang maupun saat melakukan perundingan. Ia menekankan bahwa Teheran tidak menunjukkan kelemahan dalam menghadapi tekanan dari Washington.
“Kami bertempur dengan kekuatan, dan kami bernegosiasi dengan kekuatan,” kata Araghchi, seperti dikutip Anadolu Agency.
Menurut Araghchi, sejumlah menteri luar negeri yang berbicara kepadanya menilai ketahanan Iran merupakan sesuatu yang luar biasa. Mereka bahkan disebut menyimpulkan bahwa Iran telah “menang, baik untuk perang maupun diplomasi” atas Amerika Serikat.
Iran Disebut Menolak Gencatan Senjata
Dalam pernyataannya, Araghchi juga mengeklaim AS pada akhirnya tidak mampu memaksa Iran menerima tuntutan Washington. Ia menyoroti perbedaan antara sikap AS yang sebelumnya menginginkan penyerahan tanpa syarat dan langkah berikutnya yang disebut mulai mendorong negosiasi.
“Mereka yang menginginkan penyerahan tanpa syarat, tak lama setelah perang dimulai, memohon untuk dilakukan negosiasi,” ujar Araghchi.
Araghchi mengatakan Iran tetap menolak gencatan senjata dan memilih melanjutkan pertempuran. Menurut dia, sikap tersebut membuat AS pada akhirnya menerima syarat-syarat yang diajukan Teheran. Ia menggambarkan kondisi itu sebagai keadaan ketika Washington harus bertekuk lutut di hadapan Iran.
Trump Serukan Iran Mengibarkan Bendera Putih
Pernyataan Araghchi disampaikan sehari setelah Donald Trump menyerukan Iran untuk “mengibarkan bendera putih”. Seruan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara bersama Fox News pada Senin (17/8).
Dalam wawancara itu, Trump mengancam AS tidak akan ragu melanjutkan perang di Timur Tengah sampai Iran sepenuhnya dilumpuhkan. Ia juga mengatakan tidak berada dalam tekanan waktu untuk mencapai tujuan tersebut.
“Saya tidak punya jadwal waktu. Saya tidak terburu-buru,” kata Trump, seperti dikutip Al Jazeera.
Pernyataan Trump memperlihatkan bahwa konflik antara kedua negara masih berada dalam situasi yang tegang. Di sisi lain, Araghchi menggunakan kesempatan tersebut untuk menegaskan bahwa Iran tidak akan menerima tekanan agar menyerah tanpa syarat.
Masa Berlaku MoU Damai Berakhir
Situasi semakin rumit karena nota kesepahaman atau MoU damai yang ditandatangani pada Juni lalu telah berakhir masa berlakunya. MoU tersebut menetapkan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri perang secara permanen harus dibuat dalam waktu 60 hari setelah penandatanganan.
Berakhirnya batas waktu itu membuat upaya mencapai kesepakatan permanen masih menjadi persoalan yang belum terselesaikan. Perang Iran juga disebut telah menyebabkan Trump kehilangan kendali secara signifikan dan mengurangi dukungan politiknya, sementara Amerika Serikat dijadwalkan menggelar pemilihan paruh waktu pada November mendatang.
Kesimpulan
Abbas Araghchi menilai Iran telah memenangkan perang dan diplomasi melawan Amerika Serikat karena mampu bertahan di medan pertempuran serta tetap bernegosiasi dari posisi yang kuat. Klaim tersebut disampaikan setelah Donald Trump menyerukan Iran untuk menyerah dan mengancam akan melanjutkan perang hingga Teheran dilumpuhkan.
Dengan berakhirnya masa berlaku MoU damai, arah hubungan Iran dan AS masih belum jelas. Perkembangan berikutnya akan sangat bergantung pada sikap kedua negara dalam menghadapi tekanan, perang, dan kemungkinan negosiasi untuk mencapai kesepakatan permanen.
Sumber: Cnnindonesia



Post Comment